SEPUCUK SURAT UNTUK KOMBES WILIARDI WIZARD

kombes williardi wizard kapolres_jaksel-20060523-002-wawan

Jakarta 6 MEI 2009 (KATAKAMI) Anggaplah ini memang sepucuk surat, Pak Wiliardi Wizard. Perkenalkan, nama saya Mega Simarmata. Saat ini sayalah Pemimpin Redaksi di Portal Berita KATAKAMI.COM. Kita tidak saling mengenal secara langsung. Tapi nama anda ada di hati saya dan sejumlah pihak yang nanti akan saya jelaskan secara detail.

Jika surat ini saya sampaikan tertutup, saya tidak tahu harus mengirimkannya kemana. Dan jika surat ini dibuat telanjang seperti ini, tak akan mengurangi inti permasalahan yang akan saya sampaikan kepada anda.

Saya adalah bagian yang tak terpisahkan dari kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang guru bejat di Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP) khusus untuk anak-anak autis. Kasus pelecehan seksual itu dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan untuk yang pertama kalinya pada bulan Desember 2006 oleh 3 murid perempuan di sekolah khusus itu. Dan andalah yang menjabat sebagai Kapolres Jakarta Selatan pada saat kasus itu dilaporkan. Ivanka dan kedua teman sekolahnya memberanikan diri untuk melaporkan perbuatan sang buru bejat (Pak E inisial guru itu).

Saya adalah sahabat — bahkan bisa dibilang sebagai saudara — dari Cindy Inkiriwang, ibu dari Ivanka yang menjadi korban dari kasus pelecehan seksual itu. Kepada saya, Cindy mendiskusikan rencana pelaporan itu pertama kali. Dan ketika diputuskan bahwa kasus itu benar-benar akan dilaporkan, saya bertugas secara khusus “dibelakang” layar untuk membukakan jalan dan memudahkan mereka untuk meraih segala kebenaran, keadilan dan kemenangan.

Sejak kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen mencuat di media massa secara hebat dalam 2 pekan terakhir, saya pribadi sengaja untuk tidak mengarahkan “sorotan mata” pemberitaan kepada figur anda.

Saya perlu waktu untuk sejenak mengamati semua permasalahan dan perkembangannya melalui media massa.

Saya juga baru tahu kalau ternyata anda sekarang di Divisi Intelijen — setelah pindah dari Polres Jakarta Selatan –. Dan dari pemberitaan, saya ketahui bahwa sebenarnya dalam waktu dekat anda sudah akan dipromosikan menjadi Perwira Tinggi yaitu menjadi Brigjen.

Saya pun baru tahu dari pemberitaan media massa bahwa saat ini anda ditahan di Rutan Brimob Kelapa Dua Depok.

Rutan yang didominasi penjagaannya oleh Densus 88 Anti Teror Kelapa Dua. Dan patut dapat diduga, semua sejumlah sudut Rutan itu, terpasang begitu banyak alat pemantau dan alat penyadap. Entah itu dari pihak Densus 88 Anti Teror, ataupun dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tapi ada pemberitaan yang mengatakan Anda ditahan di Rutan Bareskrim POLRI. Whereever you are, no problem !
kombes williardi_wizard_kapolres_jaksel-20060523-002-wawan
Pak Wiliardi, tanpa bermaksud untuk mempengaruhi proses hukum yang dijalankan kepada Anda sebagai tersangka, saya ingin menyampaikan bahwa dari total kesalahan yang kini ditumpahkan kepada anda … tidak semua menjadi kesalahan anda sebagai pribadi.

Yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah patut dapat diduga ada Perwira Tinggi yang sangat “untouchable” di belakang anda untuk memungkinkan pembunuhan itu terjadi ?

Pak Wiliardi, dalam bertugas sebagai JURNALIS maka andalan utama saya adalah hati nurani dan intuisi sebagai wartawan.

Dan ketika saya menanyakan kepada hati kecil saya, apakah anda yang sepenuhnya bersalah dalam kasus pembunuhan ini maka jawaban yang saya terima dari hati kecil saya adalah anda memutuskan untuk menghadapi ini sendirian” dan tidak akan membawa nama siapapun.

Ada apa sebenarnya, Pak Wiliardi ?

Saya tidak perlu repot-repot untuk kasak kusuk kesana kemari jika ingin mencari tahu tentang latar belakang permsalahan tertentu karena kebetulan Tuhan mengaruniakan panca indera ke-6 (SIX SENSE) untuk saya. Sehingga saya dengan mudah dan aman bisa mendengar suara hati siapa saja dan dari mana saja (sejauh apapun dan suara hati siapapun, bisa saya tanya atau saya dengarkan jika berbicara tentang apapun juga).

Anda bukan tipe yang kemaruk uang dan liar tak terkendali dalam menjalankan tugas sebagai POLISI. Sama sekali bukan, paling tidak itulah yang bisa saya simpulkan kalau belajar dari kasus pelecehan seksual dulu dan kalau ditanyakan kepada hati kecil saya.

Kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak autis oleh seorang guru bejat itu adalah kasus pelecehan seksual pertama yang berhasil dimenangkan oleh pihak korban di Pengadilan. Padahal itu dialami oleh anak dibawah umur, menyandang sakit tertentu pula (autis) dan tidak ada bukti kuat seperti cairan sperma atau apapun yang secara nyata akan membuktikan fisik pelecehan seksual tersebut.

Tapi tahukah anda mengapa kasus ini bisa dimenangkan ketiga korban itu ?

Karena ada hati yang bersih, tulus dan apa adanya dalam berharap serta meyakini sesuatu untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Dari 3 orang korban pelecehan seksual itu, 2 orang diantaranya adalah non pribumi dan seorang dari kalangan pribumi. Korban dari pihak keluarga pribumi ini adalah anak dari pedagang sayur di Pasar Induk. Mereka yang sangat tidak mampu. Miskin sekali. Dan anak ini bersekolahpun mengenakan jilbab. Sehingga, bisa dibayangkan betapa bangsat dan biadabnya guru bejat itu, melakukan perbuatan laknat yang terkutuk. Bahkan ketika korban yang sangat lemah ini mengalami MENSTRUASI, ia juga dipaksa untuk mau digerayangi dan dikobok-kobok.

Kelakuan guru bejat itu memang biadab sekali.

Saya dilibatkan dari pihak yang datang dari kalangan non pri (Keluarga Cindy Inkiriwang).

Anda dan jajaran di Polres Jakarta Selatan yang saat itu menangani kasus tersebut terkejut-kejut karena “tekanan” yang saya ciptakan dengan cara yang sangat apa adanya, tak terlihat wujud gerakannya tetapi sangat keras dirasakan.

Tekanan yang saya maksud dan saya lakukan ketika itu, bukan dalam konotasi yang negatif. Saya yang bergerak sendirian di belakang layar untuk melobi semua pihak agar sama-sama “mengawal” kasus ini demi meraih kebenaran, keadilan dan kemenangan untuk ketiga korban.

Selain karena ibu dari salah seorang korban adalah sahabat sejati yang sekeluarga besarnya memang saya sayangi, saya pribadi juga memiliki 3 orang anak perempuan.

Saya melobi sebanyak mungkin Pejabat Tinggi Negara di republik ini untuk memberikan perhatian pada kasus ini. Tetapi walaupun saat itu (dan sampai sekarang sebenarnya), saya mengenal sangat amat baik dan dekat dengan Kapolri yang menjabat di era itu yaitu Jenderal SUTANTO, satu-satunya yang tidak saya “recoki” adalah JENDERAL SUTANTO.

Tapi, saya tetap menggunakan akses langsung yang saya miliki kepada JENDERAL SUTANTO untuk melaporkan kasus ini. Karena sudah paham tentang sifat dan pembawaan JENDERAL SUTANTO yang sangat tenang, saya selalu tahu dan percaya bahwa apapun yang saya laporkan akan diterima serta diperhatikan sebagai bahan informasi. Tetapi ketika itu, saya belum sampai pada tahap meminta pertolongan secara khusus kepada JENDERAL SUTANTO.

Walaupun pada hari pemeriksaan pertama ketiga korban di POLRES JAKARTA SELATAN, ada utusan yaitu anggota POLISI dari kediaman dinas Perwira Tinggi POLRI yang terletak di Jalan Pattimura Jakarta Selatan datang ke Polres Jakarta Selatan untuk menemui saya, sekedar untuk menanyakan apakah semua berjalan dengan baik ? Saya sampaikan pesan dan jawaban kepada anggota POLISI yang dikirim itu bahwa semua berjalan baik.

Mengapa ketika itu saya belum mau meminta pertolongan khusus kepada JENDERAL SUTANTO ?

Sebab dari hitung-hitungan saya sebagai “motor” kemenangan dalam kasus ini, jika yang menangani kasus ini adalah tingkatan Polres maka yang lebih tepat dihubungi adalah Kapolda Metro Jaya. Untunglah saat itu, saya mengenal baik Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Adang Firman, rekan seangkatan Jenderal Sutanto (1973).

Walaupun mereka seangkatan, yang jauh lebih enak diajak bicara guyon adalah Irjen Adang Firman karena sifatnya yang sama-sama suko guyon seperti saya. Kalau kepada Jenderal SUTANTO, saya harus berhati-hati kalau bicara walaupun sering saya candai juga. Tetapi karena Jenderal SUTANTO sangat pendiam maka mau tak mau lawan bicara harus pandai-pandai membawakan diri.

Dulu, saya meminta tolong kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Adang Firman agar Polres Jakarta Selatan menangani kasus pelecehan seksual itu dengan “sebaik-baiknya”. Artinya, jangan sampai pembelokan fakta dalam proses pemeriksaan sebab keluarga dari ketiga korban memang sangat serius untuk membawakan kasus ini ke Pengadilan.

Setahu saya, Irjen Adang Firman langsung menghubungi Anda sebagai Kapolres Jakarta Selatan. Dengan pesan, tangani kasusi itu dengan baik dan sampaikan ke meja kerja Metro-1 laporannya dari waktu ke waktu.

Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya dengan saya di lokasi peliputan, saya aktif menceritakan kepada Kapolda Metro Jaya tentang perkembangan penanganan kasus itu di Polres Jakarta Selatan.

Malah saya sempat becanda, “Guru bejat itu Pak, pantasnya nih … diborgol tangannya, terus kita ikat dia di rel kereta  api sana sampai ada kereta api yang lewat untuk melindas. Tapi sebelum dilindas, dicopot dulu alat kelaminnya itu. Biar kapok !” canda saya.

Irjen Adang Firman langsung menjawab dengan guyonan juga, “Waduh, saya yang takut jadinya. Hahaha. Jangan dicopot dong, nanti bagaimana kalau dicopot ? Sabar Mega, ada proses hukum. Serahkan saja pada proses hukum. Hukum tidak akan mentolerir kesalahan yang tidak manusiawi begitu. Saya sudah telpon Kapolres Jakarta Selatan.” jawab Irjen Adang Firman.

Selain dari Jajaran Kepolisian, lobi saya lakukan ke semua Pihak. Beruntunglah saya yang memang sudah banyak dikenal oleh Pejabat Tinggi Negara sebagai Wartawati Senior. Sehingga ketika saya menyuarakan sesuatu yang memerlukan dukungan moril demi mencapai sebuah kebenaran dan keadilan, dengan mudah saya mendapatkan dukungan.

Ketika itu, saya juga berbicara langsung dengan Menko Kesra Aburizal Bakrie. Dari Pak Ical, keluar rekomendasi kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta. Dan dalam hitungan hari, seorang Deputi dari Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan ditugasi mendampingi ketiga korban yaitu dari proses pemeriksaan di Polres Jakarta Selatan sampai Persidangan di PN Jakarta Selatan.

Tak cukup sampai tingkatan Menko Kesra, untuk mendapatkan dukungan moril yang nyata maka kasus pelecehan seksual itu juga saya lobi ke Pihak Istana Kepresidenan (baik Istana Presiden, maupun Istana Wakil Presiden). Bukan untuk mengintervensi proses hukum. Semua menghormati jalannya proses hukum itu. Yang saya usahakan untuk dimiliki untuk ketiga korban yang bernasib malang ini adalah dukungan moril yang melingkar, kuat, kokoh dan tak mudah ditumbangkan oleh arogansi pihak si guru bejat yang dalam keluarga besarnya memiliki anggota keluarga dari aparat keamanan juga (diluar POLRI).

Jadi Pak Wiliardi, sepanjang jajaran Polres Jakarta Selatan menangani kasus pelecehan seksual terjadap ketiga orang korban, posisi saya dibelakang layar yang tak akan pernah bisa “diamati” oleh Polres Jakarta Selatan. Baru sekarang saya ceritakan kepada anda.

Cindy, ibu dari Ivanka (salah seorang korban), yang terus menceritakan kepada saya perkembangan penanganan kasusnya.

Pada suatu kesempatan, Cindy bercerita kepada saya.

“Ga, itu Pak Damanik becanda begini tadi ke gue  … Waduh pusing saya Bu Cindy, siapa sebenarnya Ibu ini. Semua petinggi, boss-boss di Mabes ngecek langsung. Kemarin ada memo di meja saya. Damanik, kau jangan pulang hari ini ke rumahmu sebelum kau tangkap guru itu” ungkap Cindy menirukan Pak Damanik, yang saat itu menjadi salah seorang Kanit (Kepala Unit).

Mohon maaf karena saya ini awam tentang nama-nama jabatan di dalam unsur Kepolisian, saya tidak tahu Kasat apa istilah jabatan beliau tapi di bagian itulah semua pemeriksaan.

Ketika Cindy menceritakan itu, memang pemeriksaan kepada ketiga korban sedang terus berlangsung. Dan pemberitaan di semua media massa sangat gencar.

Dan baru saya ceritakan juga kepada anda, Pak Wiliardi.

Saya yang ada di belakang semua pemberitaan yang sangat “gegap gempita”. Saya menghubungi langsung sahabat-sahabat dan sejumlah senior yang menduduki posisi penting di media massa. Saya memang tipe manusia yang tidak akan pernah mau menyerah dalam memperjuangkan sesuatu yang saya yakini sebagai sebuah kebenaran.

Sampai titik darah penghabisan, kebenaran akan saya perjuangan dengan cara saya.

Ada yang lucu dari proses pemeriksaan yang ditangani jajaran Polres Jakarta Selatan yaitu setelah guru bejat itu ditangkap oleh Petugas Kepolisian dari Polres Jakarta Selatan.

Mau tak mau, saya jadi sering mendatangi Polres Jakarta Selatan setiap kali ada pemeriksaan kepada ketiga korban. Pemeriksaan biasanya di lakukan di lantai 3.

Di ruangan yang bersebelahan dengan ruangan pemeriksaan kepada ketiga korban, saya pernah melihat belasan orang siswa SMA yang baris berjejer dengan mengenakan celana dalam.

Saya katakan kepada Cindy, “Busyet, itu porno bener. Kenapa gak sekalian aja ditelanjangi ya Cin, biar klewer-klewer anu-nya kelihatan” canda saya kepada ibu dari salah seorang korban.

Cindy menjawab, “Gila lu, itu kayaknya anak-anak SMAyang tawuran. Pada degil-degil, bukannya sekolah, ini malah tawuran” jawab Cindy yang duduk bersebelahan dengan saya di bagian luar ruangan pemeriksaan.

Kemudian ada pengalaman yang juga sangat lucu sehingga kami tertawa terbahak-bahak kegelian.

“Ga, itu tuh polisi yang nangkap si guru itu. Yang itu tuh, yang masuk ruangan.  Gue juga gak tahu namanya” kata Cindy menunjuk seorang lelaki muda bertubuh kekar, rambut gondrong, muka seram dan … hancur deh penampilannya.

Saya jawab, “Ya ampun Cin, busyet, jelek bener penampilannya. Takut gue. Yaelah, mana orang tahu kalau dia polisi ya. Serem bener tampangnya” jawab saya.

Cindy dan saya tertawa terbahak-bahak membayangkan si guru bejat yang melakukan pecelehan seksual hampir ke seluruh murid perempuan di sekolah khusus itu, pasti bisa kencing di celana ketika ia harus ditangkap oleh “tim buru sergap” Polres Jakarta Selatan yang dari tampangnya saja sudah sangat awut-awutan.

Jadi setiap kami datang ke Polres Jakarta Selatan, maka yang pasti menjadi perhatian kami adalah sebuah ruangan dekat ruang pemeriksaan korban. Sebab di ruangan itu, polisi yang penampilannya sengaja di buat awut-awutan dalam penyamarannya. Dan memang, harus diakui penyamaran mereka sempurna betul. Hancur abis !

Dan Cindy pernah menyuruh saya untuk mengantarkan nasi kotak yang sebenarnya dibelikan untuk ketiga korban yang menjalani pemeriksaan. Nasi kotak itu sengaja dibeli lebih banyak karena mau diberikan kepada “tim buru sergap” yang awut-awutan kayak benang kusut itu penampilannya.

“Ga, lu anterin nih buat mereka” kata Cindy.

“Ogah ah, gue takut. Ngeliat dari jauh aja, gue yang gemetaran sendiri. Busyet tuh, kalau beredar di luar sana. Orang mana ada yang percaya kalau itu polisi. Dikira tukang bakso, kuli bangunan atau pedagang kaki lima kali. Hebat mereka ya nyamarnya” jawab saya.

Akhirnya ketika itu, Cindy yang mengantarkan nasi kotak itu kepada polisi-polisi yang menjadi “tim buru sergap” tadi.

Dan setelah nasi kotak itu diantar, kami jadi ketawa lagi terbahak-bahak. Pasalnya, polisi yang “awut-awutan tadi” menyampaikan sesuatu kepada Cindy. Sebenarnya omongan yang disampaikan ssangat serius dan biasa-biasa saja yaitu sebagai atensi atau kepedulian dari aparat penegak hukum.

“Ga, tadi kata polisi yang gondrong itu. Bu, tenang saja. Tidak apa-apa. Guru itu sudah kami masukkan ke sel. Jadi anak Ibu tidak perlu takut” kata seorang polisi yang “awut-awutan” tadi.

Tapi memang dasar Cindy – yang sama”sintingnya” dengan saya — malah geli mendengar omongan itu.

Bukan karena isi omongannya tetapi mimik muka dan penampilan si polisi yang bicara itu tidak bisa menghentikan rasaa geli.

“Lu tau tahu, waktu dia ngomong mukanya serius lho. Tapi ngeliat rambutnya kriwil-kriwil sebahu, gue jadi geli sendiri” jawab Cindy

Pak Wiliardi, kasus pelecehan seksual itu akhirnya memang dimenangkan oleh ketiga korban. Guru bejat itu dinyatakan terbukti bersalah dan divonis pidana kurungan 1,5 tahun. Dari awal, kami sudah sepakat bahwa berapapun vonis pidana kurungannya tidak jadi masalah. Yang penting keputusan untuk menyatakan bahwa si guru bejat itu “TERBUKTI BERSALAH” adalah tujuan utama yang ingin diraih.

Tidak cuma KEPOLISIAN, dari unsur KEJAKSAAN juga saya “kunci” untuk tidak mengabaikan prinsip kebenaran dan keadilan yang seadil-adilnya kepada ketiga korban.

Sebelum persidangan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, saya berbicara langsung dengan Jaksa Agung (yang ketika itu dijabat oleh Abdul Rahman Saleh).

Saya ceritakan duduk persoalannya kepada Jaksa Agung yang bertemu dengan saya di Istana Kepresidenan (periode 1999-2008 saya bertugas sebagai Wartawan yang meliput di Istana Kepresidenan). Intinya, JAKSA PENUNTUT UMUM dalam kasus pelecehan seksual ini jangan pernah mau disuap atau diminta untuk “kongkalikong” dengan pihak terdakwa.

Saya belum menghubungi Cindy, sahabat saya, yang merupakan ibu dari salah seorang korban pelecehan seksual itu pasca mencuatnya pemberitaan tentang kasus pembunuhan ini.

Tapi saya bisa menebak bahwa pasti Cindy dan ketiga korban itu akan sangat sedih bila mendengar anda ditangkap, ditahan dan kini berhadapan dengan masalah hukum yang cukup pelik.

Ketiga korban — walau merupakan anak-anak malang yang menderita sakit autis — tetapi pada dasarnya mereka tahu bahwa semua Om Polisi dan Tante Polwan yang ada di Polres Jakarta Selatan, sangat baik kepada mereka. Tidak seperti Pak E …, guru yang mereka benci karena hobi menggerayangi tubuh murid perempuannya dengan biadab disela-sela jam pelajaran.

Walau mereka anak-anak yang kondisi dirinya sangat “khusus”, hati mereka tetaplah hati anak-anak yang sangat putih, polos, suci dan sangat apa adanya. Mereka sangat senang kepada Anda dan Jajaran Anda di Polres Jakarta Selatan. Itu sebabnya, tidak sulit bagi orangtua mereka untuk mengajak ketiga korban untuk datang ke Polres Jakarta Selatan.

Tidak satu rupiahpun kami menyuap agar kami yang dimenangkan. Malah patut dapat diduga, pihak lawan dalam kasus inilah yang patut dapat diduga hendak menyuap Pihak Kepolisian di Polres Jakarta Selatan tetapi samasekali tidak ditanggapi. Apalagi anggota keluarga dari si guru bejat itu yang kabarnya anggota dari aparat keamanan tertentu berpangkat perwira menengah, ikut turun ke lapangan agar bisa membebaskan si guru tadi.

Ketika Cindy menceritakan kepada saya bahwa keluarganya pernah didatangi dan diteror akibat kasus ini, saya yang melaporkan ancaman dan teror dari “petugas berseragam hijau tadi” ke Pejabat Militer yang pangkatnya jauh di atas dari si perwira menengah tadi.

Masjid Haji Abu Wizar yang didirikan di samping Polres Jaksel semasa Wiliardi Wizard jadi KAPOLRES

Pak Wiliardi, walau sangat terlambat, izinkan saya menyampaikan ucapan terimakasih dari lubuk hati yang terdalam untuk kinerja yang sangat amat baik luar biasa dari Jajaran yang anda pimpin di Jakarta Selatan.

Mungkin sebagian media mengatakan keberhasilan Polres Jakarta Selatan adalah saat menangani kasus perseteruan Mayangsari dengan pihak Halimah Triatmodjo dan kedua anaknya yang menyerang kediaman Mayangsari, tapi dimata saya (dan tentu di mata anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual itu), keberhasilan Anda dan Jajaran Polres Jakarta Selatan adalah saat menangani kasus pelecehan seksual terhadap 3 orang anak perempuan yang mengidap sakit autis.

Fakta-fakta mulai bermunculan bahwa anda terlibat secara langsung di lapangan.

Tapi hati kecil saya mengatakan anda sebenarnya “tidak bersalah”.

Pak Wiliardi, terimalah uluran tangan saya sebagai tanda empati yang tulus. Hati kecil kami tidak bisa dibohongi atau dipaksa untuk ikut menghujat serta ramai-ramai dalam euforia di luar sini untuk menunjuk muka anda bahwa anda adalah pembunuh.

Di mata kami, di hati kami, anda tetap seorang Polisi yang membanggakan.

Tolong, jangan rusak rasa hormat dan kecintaan dari ketiga orang anak yang menjadi korban pelecehan seksual dulu. Mereka begitu sayang dan bangga kepada semua Om Polisi dan Tante Polwan yang ada di Polres Jakarta Selatan.

Just tell us the truth, Pak Wiliardi.

Katakan kepada kami, katakan kepada semua orang, katakan kepada Tim Penyidik anda, katakan kepada Indonesia, apa sebenarnya yang terjadi dan siapa sebenarnya yang ada “dibelakang” anda.

Dengarkanlah suara hati anda yang paling dalam dan paling tulus.

Betul anda memang ada secara fisik dalam rapat atau pertemuan dengan tersangka utama dalam kasus ini misalnya (Pejabat Tinggi Negara yang berinisial AA).

Tapi, jangan paksa kami untuk mengabaikan suara hati kami sendiri.

Anda terlalu baik tetapi kebaikan itu akan sangat sia-sia jika mau pasang badan untuk siapapun dalam internal POLRI yang pangkat dan angkatannya memang diatas Anda.

Tidak akan ada gunanya jika membiarkan ada sepotong fakta menjadi tetap tertutup dan sulit dibuka oleh tangan-tangan kebenaran dalam kehidupan ini. Anda kunci dari terkuaknya kebenaran itu secara baik.

Katakanlah sejujurnya, apa dan siapa sebenarnya yang terlibat.

Katakanlah sejujurnya, apakah patut dapat diduga KOMJEN GM terlibat dalam kasus ini ?

Demi ketiga anak kecil yang menjadi korban pelecehan seksual dulu — yang kasusnya sangat berhasil mengusung prinsip kebenaran dan keadilan bagi ketiga korbgan yang lemah tak berdaya — semoga Anda mau untuk berkata jujur.

Selain demi ketiga anak kecil yang sangat menghormati dan mencintai Jajaran Polres Jakarta Selatan yang anda pimpin dulu, berkatalah sejujurnya … demi kebenaran itu sendiri.

Kebenaran itu ibarat air yang mengalir, ia akan tetap mengalir walau di bendung sekalipun.

Dalam konteks ini Pak Wiliardi, anda tinggal memilih. Apakah Anda memilih menjadi air yang menjadi lambang kebenaran itu, atau justru anda memilih untuk menjadi bendungan yang menjadi simbol penghalang kebenaran itu.

Anda, dan Jajaran Polres Jakarta Selatan, selalu ada di hati kami.

Dan kami ingin, keberadaan Anda di hati kami adalah sebagai Wiliardi Wizard yang bersedia untuk selalu mengedepankan kebenaran. Bukan sebagai Wiliardi sang pembunuh yang mau-maunya berkorban untuk pasang badan demi si pembunuh yang sebenarnya.

Saya belum ingin menelepon Ivanka, salah seorang anak yang menjadi korban pelecehan seksual itu untuk menceritakan kasus yang menimpa anda ini. Saya juga tidak ingin mengajak Cindy (sang ibunda dari Ivanka) untuk datang membesuk anda. Sebab kalau Cindy membesuk, berarti Ivanka ikut.

Anak-anak yang menderita autis, jangan dianggap sepele karena sebenarnya tingkat kecerdasan mereka diatas rata-rata. Untuk jenis penyakit atau kelainan autis ini, pilihannya ada 2 bagi si anak yang menderita. IQ mereka dibawah rata-rata atau diatas rata-rata. Sehingga bagi anak yang bernasib sial memiliki IQ dibawah rata-rata, keberadaan mereka tidak akan ada bedanya dengan anak-anak idiot.

Tetapi Ivanka, memiliki IQ diatas rata-rata. Saat kasus itu terjadi saja, Ivanka sudah mencapai GRADE 2 dalam kursus tarian Ballet yang diikutinya. Padahal itu tahun 2006-2007. Pasti saat ini, tingkatan atau GRADE Ivanka dalam kemampuan tarian ballet-nya jauh lebih tinggi.

Saya takut, Ivanka bertanya kepada anda.

“Om Polisi, kenapa Om dipenjara. Om salah apa ? Kan Om Polisi, harusnya menangkap penjahat. Kok sekarang, malah Om yang ditangkap ?”.

Saya yakin, kesana arah pertanyaan dari Ivanka kalau misalnya ia diberitahu bahwa salah seorang polisi di Polres Jakarta Selatan — tempat kasusnya dulu ditangani — saat ini sedang dipenjara karena kasus pembunuhan.

Salam persahabatan dari kami, Pak Wiliardi.

Kami tidak malu mengakui bahwa kami adalah sahabat anda. Kalau saat ini, sejumlah besar orang yang sebenarnya kenal dengan anda, mendadak menjadi tidak ingin kenal maka kami orang pertama yang menyatakan bahwa kami sahabat Anda.

Kami tidak malu untuk menyampaikan Anda polisi yang membanggakan selama ini.

Keterlaluan kalau ada yang bilang Anda membunuh karena ingin naik pangkat dan berambisi jadi Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya tetapi Kapolri BHD lebih memilik Mochamad Iriawan yang menduduki posisi tersebut.

Maaf ya, patut dapat diduga Kapolri BHD juga semasa menjadi Kabareskrim Polri berambisi kok jadi KAPOLRI. Sekarang saja, patut dapat diduga Jenderal BHD mau melakukan apa saja untuk menyenangkan hati Presiden SBY agar tetap dipertahankan sebagai KAPOLRI, sehingga akhirnya membuat POLRI menjadi tidak netral.

Hati-hati ya dalam memerintahkan bawahan menyampaikan pernyataan publik terkait kasus ini. Jangan paksa kami untuk membuka fakta-fakta yang kami ketahui seputar ambisi jabatan.

Patut dapat diduga, seorang Komisaris Jenderal POLRI ada yang gelap mata ingin jadi Kabareskrim, Wakapolri atau KAPOLRI. Tiga jabatan sekaligus yang diincar saat ini. Mau bilang apa sekarang ? Akibat air liurnya ibarat menetes didera ambisi, patut dapat diduga perempuan simpanan dari perwira tinggi POLRI ini sampai nekat ke PARANORMAL. Bukankah itu hal yang menjijikkan ? Tak cuma menjijikkan tapi sesat luar biasa. Lalu karena tahu, bahwa kami mengenal banyak Pejabat Tinggi Negara si KOMJEN jenis yang satu ini sampai pernah membelikan 7 botol parfum, mutiara, mengirimkan ribuan pesan singkat SMS dan sebagainya (hanya untuk sekedar mengemis perhatian yang sangat menjijikkan). Ambisi kotor yang sangat busuk itu, patut dapat diduga menjadi bagian dari nafas kehidupan perwira tinggi model seperti ini.

POLRI jangan sok pintar untuk menciptakan alibi atas perintah Kapolri BHD demi mencari pembenaran. Untuk mencari kebenaran, biarkan anak buah yaitu PENYIDIK POLDA METRO dan Tim PROPAM POLRI melakukan pemeriksaan yang intensif secara menyeluruh.

KAPOLRI BHD, patut dapat diduga sangat kreatif mengarang alibi untuk menyelamatkan POLRI.

Eh Bung BHD, maaf ya, kami ingin memberitahukan bahwa siapapun PIMPINAN POLRI maka ia hanya bisa menyelamatkan POLRI kalau anda profesional dan tidak menyeret POLRI menjadi tidak netral demi menyenangkan hati PENGUASA.

Menangani seorang KOMJEN saja, patut dapat diduga KAPOLRI BHD tidak punya nyali dan sangat rendah diri untuk menindak tegas semua dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan KOMJEN tertentu dalam lingkungan POLRI.

Sudahlah, kami juga tahu beberapa fakta yang sangat riil di lapangan. Satu contoh kecil saja, karena patut dapat diduga ingin menjilat kepada atasannya yaitu KAPOLRI JENDERAL SUTANTO, maka ada seorang KOMISARIS JENDERAL di Jajaran Bareskrim Polri semasa kepemimpinan Jenderal Sutanto yang dengan sangat lancang berani mengundang seorang wartawan ke ruang kerjanya.

Lalu kepada wartawan itu, dikatakanlah bahwa dari semua polisi di POLRI … hanya si KOMJEN inilah orang yang berjasa kepada JENDERAL SUTANTO sebab si KOMJEN ini yang mau jadi panitia pernikahan anak dari JENDERAL SUTANTO. Omongan yang samasekali tidak santun, tidak benar, ngarang saja dan lebih bermuatan penjilatan. Omongan itu sampai ke telinga Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata dari wartawan yang di undang ke ruang kerja si KOMJEN tadi.

Dan kami laporkan kepada JENDERAL SUTANTO. Untung saja, JENDERAL SUTANTO memang Pimpinan yang bijaksana sehingga selalu bersedia memberikan maaf dan permakluman. Dari dulu saja, patut dapat diduga sudah tercium bau ambisi yang kotor dan penuh penjilatan. Apalagi sekarang ! Jangan macam-macam deh. Daripada kami buka-buka semuanya.

POLRI harus tetap profesional dan NETRAL.

(Camkan itu, hei engkau yang patut dapat diduga masih mengidap sakit penjilatan kepada kekuasaan).

friendship-3.jpg image by tiddlytwinks

Oke Pak Wiliardi, sekali lagi semoga anda mau menyuarakan kebenaran.

Semoga anda tabah dan tetap tenang menjalani semua pemeriksaan dan persidangan. Dari kejauhan, kami sungguh berharap anda mau mempertimbangkan ini. Suarakan kebenaran. Katakan, apa sebenarnya yang terjadi. Masih tetap terbuka kesempatan untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.

Jangan karena Anda memang pernah bertugas sebagai Kapolres di NTT, maka patut dapat diduga ada “PELAJARAN MENGARANG BEBAS” yang sengaja dimunculkan sehingga terbangun opini publik bahwa keterlibatan sejumlah EKSEKUTOR PEMBUNUHAN dalam kasus Nasrudin Zulkarnaen yaitu lelaki FLORES NTT adalah karena faktor tadi.

Sekarang kalau kami balik pertanyaannya, ada PEMBUNUH FLORES terlibat, apakah memang karena Anda pernah tugas sebagai Kapolres di NTT, atau patut dapat diduga ada KOMISARIS JENDERAL FLORES dalam struktur organisasi POLRI yang menjadi makelar pembunuhan dalam kasus yang sadis, brutal dan tak manusiawi ini ?

Sekali lagi Pak Wiliardi Wizard, TERIMAKASIH dari lubuk hati kami yang terdalam, atas kinerja yang sangat amat baik saat Anda memimpin POLRES JAKARTA SELATAN dalam menangani kasus pelecehan seksual yang dialami oleh 3 orang anak-anak dibawah umur sebagai korban dari kebejatan guru mereka sendiri.

Anda bukan PEMBUNUH. Apa bedanya, Anda yang dikabarkan menyerahkan uang kepada eksekutor pembunuhan dalam kasus Nasrudin Zulkarnaen, dengan sindikat Komisaris Jenderal GM yang patut dapat diduga menerima uang miliaran atau bisa jadi triliunan dari bandar dan mafia narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS agar untuk yang ketiga kalinya lolos dari jerat hukum ?

Untuk menyelamatkan sejumlah Perwira Tinggi POLRI yang terlibat, patut dapat diduga KAPOLRI BHD yang saat bandar MONAS sengaja diloloskan dari jerat hukum itu menjabat sebagai KABARESKRIM POLRI, sengaja mencopor 5 Penyidik BARESKRIM POLRI dari kalangan bawah saja.

Apa bedanya, kesalahan Anda yang diminta menyerahkan uang atau diminta menemui Antasari untuk mewakili makelar utama dalam kasus pembunuhan ini, dengan skandal hukum paling memalukan dalam penanganan narkoba yang jungkir balik terkait bandar narkoba MONAS itu ? Tidak ada bedanya. Malah patut dapat diduga, jumlah uang yang diserahkan bandar narkoba MONAS kepada oknum Perwira Tinggi POLRI yang menjadi bekingnya mencapai triliunan rupiah.

Dimana bedanya ? Sama-sama uang, malah yang paling sial disini adalah KOMBES WILIARDI WIZARD karena mau saja disuruh menyerahkan uang (tanpa tahu resiko berurusan dengan mafia-mafia pembunuhan yang patut dapat diduga juga menjadi beking dari bandar narkoba).

Sympathy024.gif image by GraphEmp

Lalu apa bedanya, kesalahan dari KOMBES WILIARDI WIZARD yang dimanfaatkan tangannya untuk menyerahkan uang Rp. 500 juta kepada pembunuh di lapangan, dengan KAPOLRI BHD yang patut dapat diduga memanfaatkan INSTITUSI POLRI untuk memenangkan Presiden SBY dalam Pemilu Legislatif 2009 ? Sehingga, patut dapat diduga semua tindak pidana kecurangan menjadi mental tak bisa diproses secara hukum akibat ulah Jenderal BHD yang ngotot membela penguasa.

Dimana letak perbedaannya ? Kalau Jenderal BHD ingin profesional sebagai Pimpinan, maka pertanyaannya adalah mengapa patut dapat diduga sejumlah POLISI yang terlibat dalam kasus dilepaskannya bandar judi DONI HARIYANTO — yaitu yang patut dapat diduga bersekongkol dengan Jaksa dan sama-sama mendapatkan uang suap Rp. 700 juta agar bandar judi itu dilepaskan di tempat parkir — tidak diproses secara hukum padahal POLISI itu menerima uang suap. Dan bukan justru memberikan ?

Mengapa tidak diproses, oknum KOMJEN GM yang patut dapat diduga menerima uang triliunan rupiah dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS sehingga si bandar keparat ini bisa 3 kali berturut-turut diloloskan dari jerat hukum (padahal isteri dari Monas sudah mendapatkan vonis mati ) ?

Dimana keadilan itu ? Dan dimana wibawa Pemimpin yang tidak mampu menindak secara adil dan merata kepada para bawahannya ? Hentikan semua omong kosong yang bola liarnya sengaja mau dibuat untuk membusukkan KOMBES WILIARDI WIZARD. Hati-hati, banyak kasus yang patut dapat diduga disembunyikan oleh KAPOLRI BHD.

Jangan ada satu manusiapun yang kebetulan saja saat ini menduduki jabatan penting merasa berhal dan sok mau jadi raja tega. Belagu benar. Kami sarankan, mematut diri sekarang di depan cermin.

Alias, NGACA DULU dong lu !

Salam Persahabatan,

Mega Simarmata

Pemimpin Redaksi KATAKAMI

%d blogger menyukai ini: