WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN KAPOLRI SUTANTO : Membaca Rapor Kapolri Jenderal Sutanto Untuk Tahun 2007

Dimuat di INILAH.COM 04/12/2007 – 18:27
EKSKLUSIF
Oleh : Mega Simarmata
KAPOLRI SUTANTO
KAPOLRI SUTANTO

INNChannels, Jakarta – Mabes Polri terus mengoptimalkan kinerjanya dalam program pemberantasan narkoba. Kerja sama dengan Interpol terus ditingkatkan karena sindikat-sindikat internasional terus beranggapan bahwa Indonesia memang ladang emas bagi peredaran narkoba.

Kepada INNChannels, Kapolri Sutanto menegaskan semua itu dalam sebuah wawancara khusus di Kantor Presiden baru-baru ini. Bahkan, ia juga memberikan peringatan keras agar jangan ada oknum di internal Polri yang coba-coba mencuri barang bukti narkoba.

Pada 2006, ketika terungkap adanya barang bukti shabu-shabu yang hilang 13 kg dari “gudang penyimpanan”, Sutanto tidak mentolerir kejadian itu. Apapun caranya, Sutanto meminta agar oknum yang mencuri barang itu mengembalikan. Kabarnya, barang bukti baru kembali sebulan kemudian.

Lebih jauh, Sutanto juga memerintahkan jajarannya untuk menindak secara tegas penyelundupan BBM. Selasa (4/12), sumber INNChannels di Mabes Polri mengatakan, ketika marak aksi penyeludupan BBM, Sutanto meminta agar jajarannya sigap mengatasi aksi yang sangat merugikan roda perekonomian negara dan berdampak sangat buruk bagi masyarakat.

Sutanto, yang ternyata bersuara merdu kalau menyanyi dan belakangan menyukai lagu-lagu yang dinyanyikan Kenny Rogers, tak pernah menganak-emaskan rekan-rekannya sesama Angkatan 1973.

Jajaran Komisaris Jenderal (bintang 3) di Mabes Polri didominasi secara berimbang oleh Angkatan 1974 dan 1975, yaitu Wakapolri Komjen Makbul Padmanegara (1974), Kabareskrim Bambang Hendarso Danuri (1974), Kalakhar BNN Komjen Made Mangku Pastika (1974), Irwasum Komjen Yusuf Manggabarani, dan Kababinkam Komjen Imam Haryatna. Pemilihan Angkatan 1974 dan 1975 di jajaran bintang tiga ini, konon, memang disiapkan Sutanto untuk kelanjutan regenerasi pada pucuk pimpinan Polri.

Di level Kapolda, Angkatan 1973 hanya diisi tiga orang, yaitu Kapolda Metro Jaya Irjen Adang Firman, Kapolda Jawa Tengah Irjen Dodi S, dan Kapolda Papua Irjen Max Donald.

Sumber terdekat Sutanto menyebutkan, perpindahan (mutasi) pada era Sutanto dapat dilihat secara jelas oleh internal Polri, bahwa tidak ada pengistimewaan bagi Angkatan 1973 atau Pati-Pati yang disebut sebagai orang dekat Kapolri.

Sutanto tak segan menghubungi bawahannya walau sudah larut malam. Suatu ketika, beberapa bulan lalu, Sutanto memerintahkan ajudannya menghubungi Kapolda Maluku karena ada yang ingin segera ditanyakan mengenai perkembangan situasi terakhir di Maluku. Ketika itu, memang sudah larut malam karena ajudan Sutanto menelepon sekitar jam 23.00 WITA. Saat Kapolri ingin berbicara, Kapolda Maluku Brigjen Moh. Guntur Setiawan sudah tidur dan oleh ajudannya dijawab bahwa Kapolda sudah istirahat. Kapolri memerintahkan kepada ajudannya agar Kapolda dibangunkan supaya bisa berbicara dengannya.

Dalam penanganan kasus Munir, kritikan tajam yang dilayangkan kepada Mabes Polri ditanggapi Sutanto secara positif. Ia langsung mengganti ketua tim penyidikan kasus pembunuhan Munir. Yang awalnya dipimpin Brigjen Surya Dharma langsung diganti Brigjen Matius Salempang. Dengan harapan, Polri dapat secara cepat menemukan tersangka pembunuh Munir, aktivis HAM.

Sutanto bukannya tidak tahu jika ada bawahan-bawahannya yang sengaja memberikan eksklusivitas pemberitaan kepada sebuah media untuk urusan penangkapan kelompok radikal (terorisme). Protes dari semua media massa dan banyak kalangan ditanggapi secara arif dan bijaksana oleh Sutanto.

Sutanto berusaha tenang dan tidak gegabah mengambil tindakan. Di internal Polri, sebenarnya ia sudah meminta secara tegas agar jangan ada bawahan-bawahannya di bagian Tim Anti-Teror yang sengaja melakukan diskriminasi sehingga menimbulkan kecemburuan sosial.

Sebenarnya, Sutanto amat geram melihat ulah segelintir bawahannya. Sebab, bukan hanya satu atau dua kali dilakukan, melainkan sudah bertahun-tahun sejak penangkapan para pelaku bom Bali 1. Tapi, karena kesabarannya sudah terusik, di pengujung Juni lalu, seusai melakukan sebuah kegiatan di Cibubur, ia menegaskan bahwa dirinya telah memerintahkan kepada Densus 88 untuk tidak membocorkan rahasia operasi kepada pihak manapun, apalagi pers, kalau memang belum saatnya diberitahukan. Ini, katanya, untuk mencegah kesalahan persepsi.

Kepada penulis dalam suatu kesempatan di Istana Kepresidenan, Sutanto mengatakan, ia sudah memerintahkan kepada Kabareskrim Komjen Bambang Hendarso Danuri agar masalah eksklusivitas pemberitaan soal terorisme tidak dibiarkan terus menerus diberikan oleh oknum kepada media tertentu saja.

Masa 2,5 tahun menjadi Kapolri, setidaknya cukup banyak prestasi gemilang dibukukan Susanto. Kalau selama ini orang hanya menganggap masalah pemberantasan terorisme yang menonjol, belakangan tidak demikian. Tim Anti-Teror Polri belum mampu menangkap Nurdin M. Top. Padahal, dalam struktur organisasi Al Jamaah Al Islamyah, posisi Nurdin M. Top jauh di bawah posisi Zarkasih yang merupakan Amir Al Jamaah Al Islamyah dan Abu Dujana yang menjadi Panglima sayap militer JI.

BNN (dipimpin Komjen Made Mangku Pastika) dan Direktorat Narkoba Bareskrim Mabes Polri (dipimpin Brigjen Indradi Tanos) patut mendapat acungan jempol. Konsistensi penangkapan tak pernah putus dan tak gentar pada bandar-bandar yang merupakan bagian dari mata rantai sindikat internasional.

%d blogger menyukai ini: