Polri Beraksi Lagi, Menelusuri Gerakan Pemberantasan Teroris

26/03/2008 – 12:43
Margawati Rahayu Simarmata
INILAH.COM, Jakarta – Air tenang menghanyutkan. Itulah kesan yang tersirat dari sosok Komjen Bambang Hendarso Danuri. Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes (Bareskrim) Mabes Polri ini tak pernah mau diekspose publik, sejak awal penugasannya di institusi penegak hukum ini.

Ia merasa tak perlu populer. Bukan berarti kinerja sebagai orang nomor satu di jajaran Bareskrim tak patut dibanggakan. Sejak hari pertama memimpin Bareskrim di Desember 2006, BHD – demikian ia akrab dijuluki – tergolong lincah dan lihai mengarahkan tugas-tugas anak buahnya.

Kesuksesan operasi pemberantasan narkoba, illegal logging, illegal fishing, dan pemberantasan teroris, adalah sebagian buktinya. Di samping itu, pembenahan struktur organisasi Bareskrim dilakukannya juga membuahkan peningkatan efektivitas yang signifikan.

Langkah BHD yang paling berani adalah ketika ia membubarkan semua tim satgas di Bareskrim yang selama ini strukturnya terkesan ngacak. Langkah lain yang lebih mengejutkan adalah, memasuki periode awal Januari 2008 ini, ia juga memberangus Tim Satgas Bom yang dibentuk secara sangat confidential sejak penanganan bom malam Natal 2001!

Berdasarkan pantauan INILAH.COM, dari sekian banyak tim satgas yang diberangus BHD, hanya satu yang sempat dipertahankan Kapolri Jenderal Polisi Sutanto, yaitu Tim Satgas Bom. Tim inilah yang bergerak di bawah tanah untuk mengudak-udak para teroris dari organisasi Jamaah Islamyah (JI).

Publik hanya tahu, setiap keberhasilan Polri menangkap teroris adalah hasil kerja Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri. Ternyata bukan. Serangkaian penangkapan terhadap sejumlah besar teroris JI sepanjang tahun 2007 misalnya, adalah buah kerja Tim Satgas Bom Polri. Puncaknya adalah saat mereka berhasil menangkap Amir JI Cabang Indonesia Zarkasih dan Panglima Sayap Militer JI Abu Dujana.

Namun riwayat Tim Satgas Bom Polri itu kini tamat. Tampaknya Polri ingin memperkuat pasukan antiterornya dan mengikis habis egoisme beberapa perwira tingginya yang terlalu cepat menepuk dada ketika meraih sukses. Keberhasilan seakan dijadikan prestasi individu, bukan kinerja Polri secara keseluruhan.

Diberangusnya Tim Satgas Bom ini seakan menjadi berkah tersendiri. Seiring dengan pemberangusan itu, sebuah kabar baik juga tersiar: Dua teroris yang paling dicari selama ini akhirnya diringkus di Malaysia. Kabareskrim Komjen Polisi Bambang Hendarso Danuri sudah mengirimkan tim untuk membawa pulang kedua teroris itu ke Indonesia.

Sumber INILAH.COM di Mabes Polri, Rabu (26/3), mengatakan kedua orang teroris itu ditangkap di awal pekan ini; dan tim dari Bareskrim Polri kini sudah tiba di Kuala Lumpur.

Kabar ini tentu menepis kekhawatiran masyarakat tentang akan datangnya ratusan orang WNI yang baru saja menjalani latihan perang setelah direkrut sebagai teroris oleh Jamaah Islamyah di Moro, Filipina. Kabar sumir yang berembus adalah para teroris baru ini sudah menjadwalkan kembali ke tanah air melalui wilayah Tawau, Malaysia.

Kabar tentang akan masuknya ratusan teroris baru ini diantisipasi dengan cepat oleh Departemen Pertahanan (khususnya TNI AD). TNI, yang bertanggung jawab menjaga di garis-garis perbatasan Indonesia-Malaysia, segera bergerak cepat.

Sumber INILAH.COM di kalangan militer mengatakan, wilayah Nunukan, Kalimantan Timur, yang dijadikan pintu kedatangan teroris-teroris baru ini, sudah dimonitor secara ketat. Langkah yang sama dilakukan di lokasi perbatasan Indonesia-Malaysia lainnya.

“Agen-agen intelijen yang berada di bawah jaringan TNI juga dikerahkan agar jangan sampai Indonesia ini kebanjiran teroris,” kata sumber itu.

Sumber INILAH.COM lainnya di Departemen Pertahanan mengaku sulit mempercayai bahwa Indonesia kecolongan seperti itu. Sebab, lanjutnya, ratusan teroris baru itu bukan jumlah yang sedikit; dan tingkat bahayanya sangat tinggi, jika mereka dibiarkan masuk ke Indonesia setelah menjalani masa pelatihan di Moro, Filipina.

Bahkan untuk meredam kekhawatiran itu, sumber INILAH.COM menyebutkan bahwa Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono sempat mempertanyakan kemungkinan bahwa kabar tentang 300 teroris baru itu merupakan kabar angin yang mengalami distorsi.

“Pak Menhan meminta klarifikasi, agar dilakukan pengecekan langsung di lapangan. Sebab jangan-jangan yang dimaksud dengan 300 orang itu adalah prajurit TNI dan Polri yang sedang melakukan simulasi bersama di Kalimantan. Tetapi walaupun pengecekan juga dilakukan, kewaspadaan itu tetap dilakukan,” kata sumber. <P1>

%d blogger menyukai ini: