Noordin M. Top Dikabarkan Kabur Ke Suriah, Ah Yang Benar ?!!

Dimuat Di INILAH.COM tgl 19/05/2008 – 20:03

Oleh :  Mega Simarmata

 

INILAH.COM, Jakarta – Di tengah peliknya situasi saat ini, Senin (19/5) mencuat informasi mengejutkan: gembong teroris Noordin M Top melarikan diri ke Suriah. Konon, seorang pria asal Aljazair membantu dan mengatur kaburnya Noordin dari Indonesia.

Informasi itu, kabarnya, terungkap dari dua tersangka teroris yang kini masih ditahan. Informasi ini pertama kali diberitakan berada di dalam dokumen interogasi yang diperoleh Associated Press (AP).

Dua anggota senior Jamaah Islamiyah, Abu Husna dan Agus Purwantoro, kepada penyidik mengatakan bahwa warga Aljazair di Jakarta itu membantu Noordin memperoleh tiket pesawat, paspor palsu, dan membukakan akses ke Suriah.

Kapolri Jenderal Polisi Sutanto membantah sinyalemen bahwa Noordin kabur ke luar negeri.

Kepada wartawan yang mencegatnya, Sutanto mengatakan, “Tolong dibantu, pokoknya masih kami cari terus.”

Ketika diiminta konfirmasinya bahwa Noordin telah melarikan diri dari Indonesia, Sutanto tampak tidak tertarik memberikan penjelasan. “Kata siapa? Masa sih? Itu kan data intel wartawan saja,” katanya.

Tampaknya, Sutanto sebagai Kapolri harus lebih tegas dalam mengendalikan bawahannya, terutama Densus 88 Anti Teror Polri. Berdasarkan penelusuran dan investigasi INILAH.COM, sumber pemberitaan tentang larinya Noordin ke Suriah ternyata dari Densus 88 Anti Teror.

CB, wartawan bule dari Kantor Berita AP mengaku mendapatkan dokumen rahasia tentang hasil interogasi penyidik Polri terhadap kedua tersangka teroris itu.

Dihubungi langsung Senin (19/5) siang, CB mengaku dirinya telah diwanti-wanti agar tidak memberitahukan kepada siapapun bahwa dokumen rahasia itu didapatkan dari Densus 88 Anti Teror Polri.

“Saya tidak bisa katakan dari siapa saya mendapatkan ini. Saya sudah berjanji untuk tidak memberitahukan dokumen ini kepada siapapun. Jadi, maaf sekali, saya harus merahasiakannya,” tutur CB.

Menurut CB, petinggi Tim Anti Teror yang bertemu dengannya dan menyerahkan dokumen rahasia penyidikan itu sempat menceritakan bahwa ada dua versi hasil penyidikan yang selalu dibuat Tim Anti Teror.

“Ia bilang kalau Berita Acara Pemeriksaan (BAP) itu kan untuk diserahkan kepada pihak Kejaksaan sebagai bahan surat dakwaan. Tapi, Tim Anti Teror juga punya catatan interogasi yang lebih lengkap dan rahasia,” kata CB.

CB yang beristrikan seorang presenter terkemuda di televise swasta nasional ini menambahkan, dari perspektif dirinya sebagai jurnalis, ia sendiri tidak yakin Noordin bisa melarikan diri ke Suriah.

Sementara Joko Susilo, anggota Komisi I DPR-RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional, mengecam keras tindakan oknum Densus 88 Anti Teror Polri yang membocorkan dokumen rahasia negara.

“Kapolri perlu mencopot itu Kepala Densus 88 Anti Teror. Kenapa terlalu mudah membocorkan rahasia negara? Kali ini ke wartawan asing pula. Apa maksudnya? Saya kok menilai cuma mau cari popularitas,” cetus Joko.

Joko menambahkan, tidak semestinya Densus 88 Anti Teror Polri merilis kepada publik pengakuan sumir dari kedua tersangka teroris bahwa Noordin melarikan diri ke Suriah.

“Jika penyidik Densus 88 Anti Teror Polri memang mendapatkan pengakuan dari kedua tersangka teroris bahwa Noordin diduga lari ke Suriah, seharusnya informasi itu disampaikan kepada Badan Intelijen Negara (BIN) dan Departemen Luar Negeri dong agar bisa segera diverifikasi,” lanjut Joko.

Joko menyayangkan tindakan gegabah Densus 88 Anti Teror Polri karena bisa berdampak buruk pada hubungan diplomatik Indonesia-Suriah.

“Coba Anda bayangkan akibat pemberitaan yang sangat luas di media internasional bahwa gembong teroris paling berbahaya lari ke Suriah. Akan timbul kesan seolah-olah aparat keamanan Suriah tidak bisa mencegah masuknya seorang teroris paling berbahaya,” ungkap Joko.

April lalu, saat menangkal Fais, kaki tangan Noordin di Jawa Tengah, Densus 88 juga memberi izin khusus kepada sebuah televisi swasta nasional melakukan wawancara eksklusif terhadap Fais.

Tindakan ini dikecam semua media massa. Sutanto dan Kabareskrim Komjen Bambang Hendarso Danuri meminta maaf kepada semua media massa dan berjanji ekseklusivitas seperti itu tidak akan terjadi lagi.

Hanya empat hari setelah permohonan maaf itu disampaikan, Densus 88 Anti Teror Polri kembali memberikan akses kepada stasiun televisi yang sama untuk wawancara eksklusif dengan warga negara Timor Leste yang diekstradisi atas keterlibatannya dalam upaya pembunuhan terhadap Presiden Jose Ramos Horta. (selesai)

 

Filed under: Tak Berkategori , , , ,

%d blogger menyukai ini: