Menlu Baru, Hassan, Dino Atau Marty ? SBY Pilihlah Diplomat Karier

Jakarta 15/9/2009 (KATAKAMI) Presiden terpilih pada Pemilu Pilpres 2009 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, hanya punya waktu satu bulan lagi untuk menyusun kabinet barunya yang akan bertugas 5 tahun ke depan.

Dan itupun tak sepenuhnya bisa dimanfatkan untuk menimbang dan memutuskan, siapa-siapa saja yang dianggap kapabel untuk menjadi “dayang-dayang” yang sangat amat handal untuk dijadikan pembantu presiden dalam jajaran kabinet.

Sebab, pekan depan akan memasuki hari libur nasional IDUL FITRI. Tentu sebagai kepala negara, SBY berhak untuk “istirahat” sejenak dari tugas kenegaraan agar dapat khusuk menjalani hari raya lebaran.

Dan jangan dipikir, hari raya lebaran bisa dilewatkan hanya dengan isteri, anak, menantu, orangtua, besan, sanak saudara dan anggota kabinet karena ribuan masyarakat akan berduyun-duyun datang untuk sekedar melihat dan bersalaman kepada “Pak Beye” dan “Ibu Beye alias Ibu Negara Ani Yudhoyono”.

Baik lewat OPEN HOUSE di Istana Kepresidenan atau di Kediaman Pribadi di kawasan Cikeas Bogor.

Salah satu yang menarik untuk dicermati dari utak-atik dan kocok-mengkocok personil kabinet adalah SIAPA MENTERI LUAR NEGERI yang baru pada kabinet baru SBY nanti ?

Tanpa bermaksud “mengintervensi” (sebab siapalah awak ini kalau kata orang Medan), paling tidak ada 3 nama yang layak untuk dipertimbangkan oleh SBY.

Siapakah ketiga orang itu ?

Sebelum nama ketiganya dibuka disini, yang perlu diingatkan kepada SBY adalah konsistensi untuk tetap memberikan KURSI MENLU kepada pejabat karier di lingkungan Departemen Luar Negeri sendiri.

Jangan pernah lagi, KURSI MENLU diberikan kepada pejabat atau tokoh politik yang dianggap dekat dengan “ring satu presiden”.

Jangan juga diberikan kepada tokoh-tokoh politik.

Sekali ini, KURSI MENLU harus benar-benar diisi oleh DIPLOMAT KARIER yang sudah matang dan secara natural telah melewati proses jenjang karier yang diatur dalam tahapan pangkat serta jabatan di lingkungan DEPLU.

Lalu, siapa ketiga orang yang pantas di pertimbangkan SBY ?

Pertama adalah Nur Hassan Wirayuda yang selama 5 tahun terakhir menjadi MENTERI LUAR NEGERI dalam Kabinet Indonesia Bersatu.

Harus diakui, semasa Hassan menjadi Menlu dalam 5 tahun terakhir, ia cukup banyak melakukan tugas pekerjaan dan prestasi-prestasi diplomasi yang membanggakan.

Kedua adalah DR. DINO PATTI DJALAL, yang selama 5 tahun terakhir menjadi JURU BICARA KEPRESIDENAN URUSAN LUAR NEGERI.

Dino termasuk orang terdekat di lingkungan “ring satu kepresidenan” selama 5 tahun terakhir ini.

Dan ketiga adalah DR. MARTY NATALEGAWA, mantan Jurubicara DEPLU, mantan Duta Besar Indonesia di Thailand, mantan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris dan kini bertugas di Perserikatan Bangsa Bangsa.

SBY tinggal menanyakan ke dalam hatinya sendiri dengan pertimbangan yang matang dari semua aspek, siapa kira-kira yang sangat pantas, layak dan teruji untuk bisa diandalkan menjadi ujung tombak DIPLOMASI Indonesia selama 5 tahun ke depan.

SBY pasti sudah sangat hapal “luar dalam” dan segala kelebihan (atau juga keterbatasan, kelemahan dan kekurangan) dari 2 dari 3 nama yang disebutkan disini, yaitu Nur Hassan Wirayuda dan Dino Patti Djalal.

Tapi Marty, tak bisa dianggap enteng.

Ia diplomat yang sangat cakap, membanggakan dan sungguh menguasai bidangnya secara mengagumkan.

Banyak persoalan internasional yang harus dicermati dan aktif dimonitor secara dekat oleh Indonesia.

Peran serta dan kontribusi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dalam realisasi perdamaian di Timur Tengah, menjadi PEKERJAAN RUMAH atau PR yang sangat penting bagi Menlu yang baru.

Peran serta dan konstribusi Indonesia sebagai negara sesama anggota ASEAN juga sangat dibutuhkan untuk ikut mendorong MYANMAR – tepatnya mendorong JUNTA MILITER MYANTAR yang dipimpin Jenderal Senior Than Shwe – untuk menepati janji mereka melaksanakan ROAD MAP TO DEMOCRACY secepatnya.

Khususnya melepaskan tokoh perempuan OPOSISI peraih nobel perdamaian AUNG SAN SUU KYI !

Barangkali Nur Hassan Wirayuda sudah mendapatkan lebih banyak lagi pengalaman pribadinya selama 5 tahun terakhir ini menjadi MENLU bagaimana “kerasnya” perdebatan di kalangan sesama anggota ASEAN untuk menangkis serangan “BARAT” agar Myanmar mendapat tekanan yang sangat keras dari sebelumnya. Sebab, Jenderal Senior Than Shwe memang perwira tinggi yang alot dan super keras kepala.

Selanjutnya peran INDONESIA dalam isu-isu internasional dan regional juga tetap dibutuhkan.

Sehingga, SBY memerlukan ujung tombak diplomasi yang sangat handal secara luar biasa.

Terutama menjaga atmosfir sejuk dan nama baik Indonesia di kalangan internasional bahwa INDONESIA ini bukan sarang penyamun “TERORISME”.

Stigma buruk bahwa INDONESIA ini adalah sarang penyamun “TERORISME” tak bisa disangkal.

Bukan hebat namanya kalau dalam kurun waktu 9 tahun terakhir, Indonesia kena BOM berulang-berulang kali.

Negara lain di BOM satu kali saja, sudah sangat ketat, kuat dan keras membentengi pertahanan negara mereka dari ancaman terorisme.

Lain dengan INDONESIA, nyaris setiap tahun kena peledakan bom selama hampir 9 tahun terakhir.

Dari mulai peledakan bom malam natal tahun 1999, disambung peledakan bom Bali I bulan Oktober 2002, bom Marriot bulan Agustus 2003, bom di depan Kedubes Australia bulan September 2004, bom Bali jilid 2 bulan Oktober 2005 dan bom Marriot jilid 2 bulan Juli 2009.

Coba dihitung itu, sudah berapa kali INDONESIA dibuat jadi sasaran empuk kelompok teroris. Entah itu kelompok teroris radikal versi Al Qaeda dan jaringannya yang bernama Al Jamaah Al Islamyah.

Atau oleh kelompok teroris abal-abalan yang patut dapat diduga dibentuk, dipimpin dan dikendalikan langsung oleh oknum perwira tinggi berinisial GM.

Peran DEPLU sangat besar untuk menyuarakan kepada dunia internasional bahwa ISLAM INDONESIA bukanlah bagian dari jaringan terorisme.

Peran DEPLU sangat besar untuk terus menggalang dan mengundang kerjasama internasional antara INDONESIA dan negara-negara sahabat di seluruh muka bumi dalam memerangi TERORISME.

Sebagai ujung tombak diplomasi, DEPLU juga terus dituntut untuk aktif secara nyata memberikan kontribusi (sesuai dengan yang diminta atau dibutuhkan) dalam penyelesaian krisis nuklir di Semenanjung Korea dan Iran.

Deplu juga perlu memaksimalkan peran mereka untuk ikut bersuara kepada PERSERIKATAN BANGSA – BANGSA (PBB) agar medan pertempuran yang sangat sengit di Afghanistan dan “RECOVERY” atau Pemulihan IRAK pasca ditariknya secara bertahap PASUKAN AMERIKA dari negara bekas pimpinan “Almarhum Saddam Hussein”.

Deplu juga harus lebih bertaring dan bergigi untuk menghadapi klaim demi klaim dari Malaysia terhadap beragam seni, budaya, aset dan wilayah Indonesia.

Walaupun disebut bertaring dan bergigi, bukan berarti mengajak MALAYSIA untuk bermusuhan, berdebat, serang-menyerang di media, balas-membalas dan akhirnya bisa jadi pecah PERANG SAUDARA.

Lakukan diplomasi bersahabat yang sangat “cerdas, manusiawi dan berbobot”.

Jangan cuma kebakaran jenggot kalau sudah muncul permasalahan tertentu yang ramai digunjingkan dan diperdebatkan di media massa.

US President Barack Obama delivers a speech at Federal Hall ...

DEPLU harus berperan dalam mendekati dan melobi AMERIKA SERIKAT terkait penahanan HAMBALI, gembong teroris yang diciduk dan dicaplok oleh era kepemimpinan BUSH untuk ditahan di kamp penahanan GUANTANAMO.

Hambali ditangkap di THAILAND, diserahkan THAILAND kepada Pihak AS dan mulai dikerangkeng oleh BUSH di GITMO sejak bulan Agustus 2003.

Hambali “NGENDON” di GITMO tanpa ada satupun dilakukan propes peradilan sejak tahun 2003 sampai saat ini. Hebat kan, itulah salah satu kecanggihan “penanganan terorisme” ala Om Buss.

Jadi, akses … sekali lagi, akses yang sangat dibutuhkan POLRI dari pemerintah AS.

Mumpung, selama 4 tahun ke depan AMERIKA dipimpin oleh Barack Hussein Obama maka DEPLU harus memanfaatkan ini.

Demi kelanjutan penanganan terorisme, bukalah jalur diplomasi dan lakukan dialog intensif kepada MENTERI LUAR NEGERI AS HILLARY RODHAM CLINTON.

Pertama, perjuangkan akses bagi Tim Penyidik POLRI untuk menemui Hambali dan menyampaikan sejumlah pertanyaan. Ingat, HAMBALI terlibat langsung dan patut dapat diduga menjadi otak pelaku sejumlah peledakan bom.

Tidak bisa gaya BUSH menciduk dan mencaplok seenaknya gembong teroris yang paling buron di negara ini, dihambat dan dihalangi oleh dijumpai dan ditanyai oleh PENYIDIK INDONESIA.

Pada pertemuan antara Jenderal Sutanto dengan pimpinan Dinas Intelijen AS CIA dan FBI pada bulan Januari 2007, diindikasikan AS akan memberikan akses kepada POLRI untuk mendapatkan akses menemui HAMBALI.

Janji yang diindikasikan oleh CIA dan FBI itu harus ditagih secara nyata pada era kepemimpinan Presiden Barack Obama.

Ode Untuk Presiden Obama Yang Menghapuskan Motto Kalimat PERANG MELAWAN TEROR

6 Bulan Pra Penutupan Guantanamo, Perkuat Dukungan Pada OBAMA Walau Sakit Latah Lawan Politik Kian Kronis (PS : Ora Et Labora, Barry)

OBAMA adalah pemimpin yang secara nyata dapat dilihat oleh semua pihak memiliki konsistensi terhadap penegakan hukum yang benar sesuai dengan aturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Mengingat OBAMA akan segera menutup penjara GUANTANAMO pada bulan Januari 2010, maka INDONESIA harus bisa mendapatkan akses menemui HAMBALI sebelum penjara GITMO (Guantanamo, red) ditutup.

DEPLU harus mengkoordinasi dan memberikan “pengertian” yang seluas-luasnya kepada DEPLU AS bahwa mustahil untuk PENYIDIK POLRI melakukan proses penyidikan secara tertulis kepada HAMBALI melalui perantara petugas di lapangan yaitu yang berada dibawah OTORITAS CIA.

Entah itu CIA atau FBI, mereka pasti tahu bahwa sebuah proses penyidikan dalam rangka penegakan hukum tidak akan mungkin bisa terlaksana kalau metode interogasi menggunakan jurus AWANG-AWANG.

Mengapa disebut AWANG-AWANG ?

Ya karena di akhir pemerintahannya, BUSH memberikan kesempatan kepada POLRI untuk bisa menanyai HAMBALI secara tertulis dan itupun harus dititipkan kepada otoritas hukum di AMERIKA yang membawahi GITMO (dalam hal ini CIA).

Bagaimana mungkin seorang dedengkot TERORIS ditanya oleh aparat penegak hukum kita, tanpa bertemu langsung secara nyata ? Iya kalau HAMBALI mau menjawab dengan “waras” alias dijawab apa adanya yang sesuai dengan kenyataan.

Nah, bagaimana kalau dia menjawab “YES NO YES NO, alias Ya atau Tidak”.

That is IMPOSSIBLE !

Itu hal mustahil. Sangat amat mustahil melakukan penyidikan SEPIHAK & TERTULIS ! Biar bagaimanapun juga, dari satu pertanyaan, akan lahir pertanyaan yang berikutnya. Dari situlah PENYIDIK POLRI akan bisa mengembangkan kasus peledakan bom yang diduga melibatkan HAMBALI.

Itu sebabnya, DEPLU mendapatkan tugas yang tidak ringan.

Tetapi yang memberikan secercah harapan disini adalah AMERIKA SERIKAT pada saat ini dipimpin oleh pemimpin baru yang “bersahaja” yaitu OBAMA.

Harapan yang lebih menyejukkan hati adalah DEPARTEMEN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT yang menjadi mitra kerja DEPLU INDONESIA pada era kepemimpinan OBAMA ini dipimpin oleh mantan ibu negara HILLARY CLINTON.

Latar belakang dan persahabatan yang baik yang sudah terjalin sebelumnya antara INDONESIA dengan Obama secara pribadi, dan Hillary secara pribadi, pasti akan memberikan jalan keluar yang terbaik.

AKSES !

Ya, mintakanlah akses kepada AMERIKA terkait HAMBALI.

Sebab, tepat saat nanti HAMBALI di “pingpong” ke Spanyol untuk mulai ditahan disana kalau GITMO ditutup, yang harus diingat adalah status kewarga-negaraan HAMBALI juga resmi juga beranak-pinak alias menjadi GANDA.

HAMBALI kabarnya sudah dibuatkan PASPOR SPANYOL. Akan lebih rumit dan semakin berlika-liku bagi PENYIDIK POLRI jika ingin melakukan interogasi kepada HAMBALI jika ia sudah menjadi warga negara Spanyol dan ditahan diluar “AMERIKA SERIKAT”.

Jadi, kembali pada posisi MENLU dalam kabinet baru SBY, pilihlah MENLU yang handal, berintegritas tinggi, cakap dan sangat berpengalaman di bidangnya.

Ya itu tadi, antara Nur Hassan Wirayuda, Dino Patti Djalal atau Marty Natalegawa.

Siapa ya yang kira-kira layak dan pantas menjadi MENLU INDONESIA untuk 5 tahun ke depan ?

Sebenarnya, asyik juga kalau bisa berandai-andainya.

Cuma inilah repotnya di INDONESIA ….

Sssttt, alamak … kita terbentur sama yang namanya “HAK PREROGATIF PRESIDEN”.

SBY punya hak penuh untuk menentukan sendiri siapa saja yang akan menjadi PEMBANTUNYA. Jadi, Wirayuda, Dino atau Marty ?

Monggo Pak Presiden, diputuskan siapa yang terbaik dari YANG TERBAIK ini !

Hassan, Dino, Marty … atau … ?

(MS)

%d blogger menyukai ini: