Maftuh, Nyanyian di Sela Duka

DIMUAT DI INILAH.COM tgl 22/06/2008
Mega Simarmata

INILAH.COM, Jakarta  Belum cukup duka kedua orangtua dan sanak famili Maftuh Fauzi. Jasad mahasiswa Unas itu memang sudah menyatu dengan tanah sejak Sabtu (21/6). Tapi, ‘nyanyian’ soal HIV/AIDS membuka luka baru.

Maftuh, mahasiswa Akademi Bahas Asing Universitas Nasional yang berteriak lantang menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM pada Mei lalu, Jumat (20/6) menghadap Sang Khalik.

Sehari berselang, jasad Maftuh dimakamkan di kampung halamannya, Desa Adikarto, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Air mata ayah-ibunya, sanak familinya, kerabat, dan rekan-rekan seperjuangan Maftuh belum lagi kering ketika pihak Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) melontarkan pernyataan yang mengejutkan sekaligus menyesakkan. Maftuh dibilang meninggal karena serangan virus HIV/AIDS.

Benarkah itu? Dan, andai pun benar, etiskah pernyataan itu dicetuskan? Ada apa di balik semua itu?

Adhie Massardi, juru bicara Komite Bangkit Indonesia, Minggu (22/6), mengungkapkan bahwa pernyataan Maftuh meninggal akibat HIV/AIDS adalah sebuah fitnah yang sangat kejam.

“Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Sangat menjijikan dan di luar batas kemanusiaan,” kata Adhie.

Menurut Adhie, segala sesuatu yang menyangkut insiden Unas 25 Mei lalu ada di wilayah yuridiksi Komnas HAM karena kasusnya sedang diperiksa Komnas HAM. Karena itu, mestinya jangan ada yang membuat pernyataan sembrono.

Mahfudz Siddiq, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR-RI, mengatakan bahwa kematian Maftuh harus diselidiki karena almarhum adalah korban dari tindak kekerasan aparat kepolisian dalam insiden Unas.

“Hukum harus ditegakkan. Adili pihak yang memang harus bertanggung jawab. Insiden Unas terjadi di dalam lingkungan kampus. Jika aparat keamanan tidak bisa menghormati aksi unjuk rasa mahasiswa, bisa dipastikan umur demokrasi di negeri ini bakal mati suri,” kata Mahfudz.

Karena itu, di tengah suasana duka, kecurigaan pantas dikedepankan. Sabtu malam, saat menghadiri sebuah acara di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Wapres M Jusuf Kalla pun mengatakan, semua pihak hendaknya mengembalikan masalah ini kepada aparat berwenang, yaitu tim dokter.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI), agaknya, perlu mengevaluasi tindakan gegabah tim dokter RSPP. Pasalnya, jasad Maftuh belum diotopsi di RSPP sehingga penyebab kematian sesungguhnya belum bisa diumumkan.

Karena itu, harus diusut siapa penggagas pernyataan prematur dari tim dokter RSPP yang memvonis Maftuh meninggal karena HIV/AIDS.

Lihatlah foto Maftuh yang dipasang saat jenazahnya disemayamkan. Ia tertawa ceria. Tubuhnya tampak bugar dan kekar. Pada foto itu, ekspresi Maftuh seakan mentertawakan arogansi oknum aparat kepolisian yang mengempaskan jiwanya ke kubangan maut yang penuh kenistaan.

Setelah Sabtu malam digelar aksi seribu lilin untuk mengenang Maftuh di Bunderan HI, INILAH.COM mendapatkan informasi bahwa Senin (23/6) rekan-rekan mahasiswa akan melakukan aksi tabur bunga di Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Selatan.

Nanyian duka untuk Maftuh tak cuma datang dari sesama rekan mahasiswa, tapi juga dari segenap rakyat Indonesia. Hendaklah semua pihak tidak memperkeruh situasi dengan melayangkan tudingan berbau politis di balik kematian Maftuh.

Sementara doa terbaik terus dipanjatkan bagi almarhum Maftuh, tentu proses untuk memastikan siapa yang bertanggung jawab di balik pernyataan tim dokter RSPP hendaknya terus digelindingkan.

Selamat jalan, Maftuh. Semoga yang benar dan yang dzalim segera bisa dipastikan demi tegaknya demokrasi yang jujur dan santun. [I3]

%d blogger menyukai ini: