Lima Tahun Membeku, Pengumuman SBY Tentang Kesiapan Bertemu Megawati Mengapa Bagaikan Politik “FAIT ACCOMPLI” ?

DIMUAT JUGA DI SITUS BERITA WWW.KATAKAMI.COM DAN DI BLOG KATAKAMI  WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM

JAKARTA (KATAKAMI) Tampaknya suhu perpolitikan di Indonesia ini mulai bergeliat ke temperatur yang lebih “hangat membara”.

Salah satu yang sangat layak untuk dicermati adalah kesiapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk bertemu kapan saja dan dimana saja dengan Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Inilah untuk yang pertama kalinya, SBY “bunyi” soal kevakuman relasi dan jalinan tali silahturahminya dengan mantan atasan pada Kabinet Gotong Royong.

Megawati & SBY

Megawati & SBY

Bersamaan dengan pernyataan kesiapan SBY untuk bertemu dengan putri sulung Proklamator RI Bung Karno ini, keluarlah komentar yang tegas dan pedas dari Tokoh Nasional Amien Rais.

Menurut Amien, menjelang pelaksanaan Pemilu legislatif dan Pilpres 2009 ini sepertinya SBY akan mendapatkan hukum karma karena saat ia menjabat sebagai Menteri dalam kabinet Megawati, SBY “main angkat kaki” saja meninggalkan tanggung-jawabnya dalam kabinet tersebut.

Untuk bicara “sekeras” Pak Amien, tentu tak enak juga rasanya pada SBY. Masak kepala negara mau diledek akan terkena hukum karma. Bisa-bisa nanti malah kena proses hukum yang sebenarnya karena dinilai pencemaran nama baik atau penghinaan kepada kepala negara.

SBY & Megawati

SBY & Megawati

Yang mau disampaikan disini adalah kemana saja SBY selama hampir 5 tahun memimpin Kabinet Indonesia Bersatu. Artinya, kesiapan untuk bertemu dan berdialog Megawati itu mengapa baru sekarang yaitu saat menjelang pelaksanaan 2 agenda politik nasional yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilu Pilpres 2009 ?

Jangan salahkan jika rakyat Indonesia langsung mereka-reka, wah menyambung kembali tali silahturahmi yang terputus kok jadi berbau politik dan pakai acara diumumkan pula kepada publik. Kalau yang diumumkan tentang pelaksanaan pertemuan itu atau hasil dari pertemuan itu, orang tentu akan ikut menyambut baik.

Tetapi yang diumumkan ini adalah pernyataan standar tentang kesiapan bertemu dan disampaikan lewat media massa yang diundang datang ramai-ramai ke kediaman pribadi SBY di Cikeas Bogor.

Jangan salahkan juga jika ada yang menilai bahwa pernyataan kesiapan bertemu Megawati itu patut dapat diduga bermakna FAIT ACCOMPLI.

Fait Accompli bisa diartikan dalam bahasa Indonesia yang benar adalah menentukan keputusan lebih dahulu baru meminta persetujuan.

SBY dan Megawati sama-sama tinggal di Jakarta.

SBY dan Megawati bukannya tidak saling mengenal tetapi sudah kenal sejak dahulu kala.

Sepanjang yang kami ketahui, selama hampir 5 tahun berkuasa ini SBY memang kerap kali mengutus tokoh atau pejabat tertentu untuk datang melobi Megawati untuk mau bertemu dengan SBY.

Dan sepanjang yang kami ketahui juga, Megawati tidak mengiyakan dan tidak menidakkan.

Mengapa ?

Ya, karena Megawati terbuka untuk didatangi dan dikunjungi siapa saja. Terutama pada hari-hari besar keagamaan misalnya Hari Lebaran idul Fitri, Hari Lebaran Idul Adha atau pada acara sykuran ulang tahun Megawati misalnya setiap tanggal 23 Januari.

Yang terjadi selama 5 tahun ini adalah SBY selalu mengirimkan utusan demi utusan tanpa henti untuk menemui Megawati bahwa SBY ingin bertemu.

Tidak etis jika kami sebutkan satu persatu siapa saja Pejabat Senior di Kabinet Indonesia Bersatu yang diutus SBY untuk “membujuk” Megawati untuk mau bertemu dengan bekas bawahannya yang mundur dari Kabinet Gotong Royong karena ingin maju dalam Pilpres 2004.

Tapi rata-rata yang diutus untuk datang menemui Megawati adalah Pejabat Resmi dalam lingkungan Kabinet Indonesia Bersatu, terutama yang pernah menjabat juga dalam Kabinet yang dipimpin Megawati Soekarnoputri.

Mengapa Megawati terkesan tidak menggubris. dendamkah ia, atau apa ?

Bulan Desember 2007, kami pernah melakukan WAWANCARA EKSKLUSIF dengan Megawati Soekarnoputri (yang bisa anda baca selengkapnya pada BLOG KATAKAMI di WWW.REDAKSIKATAKAMI2.WORDPRESS.COM0) bahwa ia samasekali tidak membenci Susilo Bambang Yudhoyono. Selama 4 jam, kami berbincang dengan Megawati. Salah satu yang ditekannya adalah tidak ada samasekali rasa benci pada SBY. Jadi mengapa harus sungkan atau ragu-ragu hanya untuk bertamu dan bertemu ?

Disini yang ingin disampaikan oleh Megawati adalah jika memang ingin bersilahturahmi, datanglah kapan saja. Tidak usah “sangat repot sekali” mengirimkan si A, si B atau si C untuk memastikan bahwa Megawati mau menerima dan tidak akan mengusir. Mana mungkin seorang Megawati sekasar atau sekejam itu. Tidak mungkin ! Megawati, adalah sosok yang santun, lembut, keibuan, agak pendiam tapi punya rasa humor yang tinggi, tegas dan keras memegang prinsip.

Megawati & Jusuf Kalla

Megawati & Jusuf Kalla

Oktober 2007, saat lebaran idul fitri hari pertama tiba, Wakil Presiden M. Jusuf Kalla didampingi Ibu Mufidah datang menemui Megawati di kediaman Jalan Teuku Umar Jakarta.

Semenit duamenit memang agak kaku sebab itulah untuk yang pertama kalinya Megawati – Jusuf kalla bertemu sejak “pisah di tengah jalan” di ujung pemerintahan yang dipimpin oleh Megawati. Tapi akhirnya pertemuan itu berjalan baik sekali.

Ketika itu yang sangat berperan untuk mencairkan suasana adalah Taufiq Kiemas, Puan Maharani dan Sekjen PDIP Pramono Anung. Mereka semua duduk satu meha, bertemu dengan baik sekali dan akrab.

Oktober 2007 itu, Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata kebetulan juga ada disana dan sempat bertanya kepada Megawati mengenai isi pembicaraan dengan JK. Salah satu yang dikemukakan JK adalah, “Ibu kelihatan lebih awet muda”.

Diplomasi yang santun tetapi sangat menyentuh hati disampaikan oleh JK kepada bekas atasannya. Dan Megawati mengucapkan terimakasih disapa dengan pujian demikian. Itulah politik yang tak boleh memutuskan atau mengingkari jalinan tali silahturahmi.

Ketika itu JK dan Ibu Mufidah langsung datang ke kediaman Megawati. Memang biasanya, Keluarga Taufiq Kiemas – Megawati akan mengadakan OPEN HOUSE di hari pertama lebaran. Siapa saja boleh datang dan tiadk mungkin mereka mengusir jika ada tamu yang datang hendak bersilahturahmi.

Bahkan semua tamu diterima di ruang tamu utama. Bisa mencicipi makanan apa saja yang juga dimakan oleh tuan rumah disaat lebaran itu. Dan jangan tanyakan, apakah makanan yang tersaji setiap keluarga Bung Karno ini mengadakan acara OPEN HOUSE itu lezat atau tidak ?

Semua makanan, pasti lezat. Cita rasa Megawati dan putra-putrinya sangat tinggi untuk makanan khas nusantara. Makanan kampung, yang sudah jarang bisa didapat atau dibeli malah bisa ditemui di kediaman Megawati jika mereka mengadakan OPEN HOUSE.

Berpolitik, janganlah dengan politik FAIT ACCOMPLI. Berdemokrasi, janganlah dengan demokrasi FAIT ACCOMPLI.

Tetapi berpolitik dan berdemokrasilah dengan hati nurani yang penuh dengan ketulusan. Atau dalam istilah yang lebih relijius adalah menjaga Ukuwah Islamiyah.

Sehingga jika diumumkan bahwa kapan saja dan dimana saja Megawati siap untuk bertemu, maka SBY pun siap menemuinya. Ini bukan sedang mempersiapkan pertandingan ulang antara petinju Chris John dan Rocky Juarez, toh ?

Pasangan SBY - JK memenangkan Pemilu Pilpres Putaran Kedua Tahun 2004

Pasangan SBY - JK memenangkan Pemilu Pilpres Putaran Kedua Tahun 2004

Megawati tidak membenci SBY tetapi masih sulit untuk bisa memahami mengapa seorang Menteri Senior tidak berani berterus terang saat ditanya oleh Kepala Negaranya disebuah sidang kabinet, “Saudara Menkopolkam, apakah benar saudara akan mengajukan diri sebagai capres ? Sebab, saya mendapat surat dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar kita mengatur jadwal cuti dan sebagainya bagi siapa saja Pejabat di kabinet yang akan cuti kampanye atau maju dalam Pilpres ?”.

Saat itu, SBY menjawab, “Demi Allah, saya tidak bermaksud dan tidak berkeinginan untuk mengajukan diri sebagai CAPRES”.

Namun setelah mengajukan pengunduran diri sepihak, hanya dalam hitungan hari hampir semua media massa menampilkan iklan SBY adalah CAPRES Partai Demokrat.

Salahkah Megawati jika bertanya seperti itu kepada para pembantunya ? Ia tidak punya niatan atau maksud buruk apapun untuk menjegal bawahannya yang ingin terjun dalam politik praktis. Tetapi, didalam negara ini ada sistem yang bekerja dan harus mengikuti ketentuan hukum serta perundang-undangan yang berlaku.

KPU mewajibkan Presiden untuk melaporkan siapa saja dalam kabinet yang mengajukan cuti kampanye atau keikut-sertaan dalam Pemilu Pilpres. Berdasarkan informasi yang dilaporkan kepada Presiden Megawati pada saat itu adalah Menkopolkam SBY sudah bersiap-siap untuk maju dalam Pemilu Pilpres 2004.

Megawati menunggu SBY datang melapor mengenai rencana ini agar bisa diatur segala sesuatunya sebab posisi SBY ketika itu sangat sentral yaitu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolkam).

Kembali pada istilah “hukum karma” yang dicetuskan Amien Rais kepada SBY beberapa hari lalu, rasanya terlalu pedas untuk menggunakan istilah itu. Tetapi ada hikmah yang hendaknya diambil dari semua peristiwa ini yaitu dulu ketika Presiden Megawati bertanya kepada salah seorang pembantunya mengenai konfirmasi keinginan untuk maju dalam Pilpres 2004, itu adalah pertanyaan yang sangat lumrah dan wajib disampaikan kepala negara kepada seluruh pembantunya.

Terlebih karena pada waktu itu adalah beberapa politisi yang masuk dalam kabinet yaitu Hamzah Haz dari Partai Persatuan Pembangunan, Yusril Ihza Mahendra (Partai Bulan Bintang), dll.

Jika ada pembantu dari Presiden SBY yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan SBY pada tahun 2004 dulu kepada Megawati, seperti apakah perasaan SBY jika itu dialaminya sekarang ?

Megawati ibarat jatuh lalu tertimpa tangga.

Ia ditinggal oleh Menteri Seniornya di kabinet tetapi oleh banyak kalangan malah dituduh menzolimi SBY. Tidak ada dan tidak benar Megawati menzolimi SBY. Tidak pernah samasekali !

Jadi, bukan hukum karma yang terjadi pada SBY pada saat ini menjelang pelaksanaan Pemilu Pilpres 2009 tetapi yang lebih tepat menurut kami adalah … sejarah bisa berulang. Istilah ini lebih santun dan elegan.

Dan jika SBY ingin bertemu dengan Megawati, datanglah dengan langkah dan hati yang tulus. Percayalah, Ibu Mega pasti mau menerima dengan tangan terbuka.

(MS)


%d blogger menyukai ini: