“Kabut” Munir Di Wajah Kapolri Sutanto

Dimuat Di INILAH.COM tgl 19/06/2008 – 09:43

Dilema Kapolri Sutanto dalam Kasus Munir
Oleh : Mega Simarmata
Almarhum Munir Yang Tewas Diracun September 2004

Almarhum Munir Yang Tewas Diracun September 2004

INILAH.COM, Jakarta – Ini tahun keempat kematian Munir, aktivis HAM. Masih berkabut. Belum ada titik terang tentang siapa pembunuhnya. Suciwati, sang istri, terus berjuang menggalang dukungan demi menyingkap tabir itu.

Akan menjadi catatan hitam dalam perjalanan 10 tahun reformasi bahwa ada anak bangsa yang nyata-nyata mati terbunuh, tapi seolah tidak ada pembunuhnya. Jika Munir mati bunuh diri, tidak ada alat bukti yang mendukung di pesawat Garuda Indonesia yang hendak membawa Munir ke Amsterdam, September 2004.

Jika Munir mati dibunuh, seharusnya ada saksi dan alat bukti yang mendukung. Tapi, faktanya, sang pembunuh tetap siluman sepanjang empat tahun ini.

Mabes Polri sudah ancang-ancang mengumumkan tersangka baru dalam kasus Munir. Setelah mantan Dirut Garuda Indonesia Indra Setiawan dan pilot senior Pollycarpus, kini tampaknya akan membidik nama baru untuk dijadikan tersangka.

Belakangan muncul istilah baru yang ditebak-tebak media massa sebagai tersangka baru itu. Apakah yang akan jadi tersangka berikutnya dalam kasus Munir ini adalah Mr M yang pernah menduduki jabatan Deputi di instansi berinisial Bravo?

Saat Presiden Rusia Vladimir Putin berkunjung ke Indonesia pada Agustus 2007, di Istana Kepresidenan Kapolri Jenderal Pol Sutanto mengatakan kepada INILAH.COM bahwa tidak lama lagi Mabes Polri menetapkan Mr M tadi sebagai tersangka kasus Munir. Juga akan segera menahannya.

Seusai acara kunjungan Putin, penulis menghubungi Panglima TNI saat itu, Marsekal Djoko Suyanto, untuk menyampaikan informasi dari Sutanto. Waktu itu, Djoko mengatakan, “Saya belum tahu. Tanto belum memberitahu soal itu.”

Di kesempatan lain, INILAH.COM menanyakan kasus Munir kepada Kepala Badan Intelijen Negara Sjamsir Siregar. “Ah, aku tak pernah menghalangi orang itu (Mabes Polri) jika mau memeriksa siapapun di kantorku,” kata Sjamsir.

“Waktu itu si Tanto pernah bicara sama aku. Ia minta dibantu supaya kami bisa periksa. Aku jawab waktu itu, silakan. Tak kuhalang-halangi. Periksa, ya, periksalah. Jika memang terbukti bersalah, silakan tangkap. Aku tak mau melindungi. Tapi, jika tidak ada kaitannya, jangan dicari-cari kesalahannya. Tidak ada kebijakan atau keterlibatan institusi dalam kasus Munir ,” kata Sjamsir lagi.

Sepuluh bulan sudah berlalu sejak Sutanto mengisyaratkan bahwa Mr M akan jadi tersangka baru kasus Munir. Tapi, tak kunjung direalisasikan pengumuman dari Mabes Polri soal itu. Siapa pembunuh Munir tetap misterius.

Dalam hukum yang diadopsi dan dianut Indonesia, ada asas praduga tidak bersalah atau presumption of inocent. Ini harus dihormati semua pihak, termasuk seluruh media massa. Janganlah Mr M jadi korban pembunuhan karakter dari pemberitaan yang bertubi-tubi menghantamnya.

Mabes Polri juga jangan maju-mundur dalam mengungkap kasus Munir. Sejak kasus ini ditangani Mabes Polri, gugus tugasnya sampai harus berganti dua kali. Yang pertama dipimpin Brigjen Surya Darma (kini Kepala Densus 88 Anti-Teror Polri) dan yang kedua dipimpin Brigjen Matius Salempang.

Kedekatan Wakabareskrim Polri (ketika itu) Irjen Gories Mere dan Brigjen Surya Darma dengan Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono diduga sempat mempengaruhi independensi tim periksa kasus Munir.

Dalam kontak-kontak dan SMS antara Hendropriyono dan GM-SD selalu digunakan istilah adinda. Bagi Hendro, kedua perwira tinggi itu memang tak ubahnya adik kandung sendiri.

Pada 2007, Gories sempat beberapa kali memperlihatkan kepada penulis SMS-SMS yang dikirimkan Hendro. Isinya rata-rata dukungan penuh dari Hendro bagi sepak terjang tim Anti Teror-Polri dalam mengudak pelaku tindak pidana terorisme.

Padahal, dalam rangkaian pengejaran dan upaya penegakan hukum untuk mengatasi masalah radikalisme serta terorisme di Indonesia, tim Anti-Teror Polri kabarnya nyaris tak pernah mau dan tak pernah bisa bekerja sama dengan TNI.

Entah berhubungan atau tidak, penanganan kasus Munir saat dipegang Brigjen Matius Salempang justru mampu menggali dan menemukan fakta-fakta baru yang sebelumnya tak tersentuh oleh tim yang dipimpin Brigjen Surya Darma.

Kasus Munir seakan menjadi sulit untuk diungkap secara baik dan apa adanya karena masing-masing pihak punya kepentingan di dalamnya. Dalam kondisi begini, Indonesia pun jadi bahan tertawaan kalangan internasional. (selesai)

 

%d blogger menyukai ini: