Densus 88 Anti Teror Bikin Ulah Lagi, Sebuah Media Televisi Diberi Eksklusivitas Yang Kebablasan Saat Bawa Tersangka Warga Timor Leste

Dimuat INILAH.COM tgl 06/05/2008 – 10:05
Oleh : MEGA SIMARMATA

INILAH.COM, Jakarta – Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri kembali melakukan tindakan diskriminatif kepada media massa nasional. Hari Senin (5/5/2008) kemarin, Mabes Polri memfasilitasi ekstradisi terhadap 3 tersangka warga negara Timor Leste yang terlibat dalam kasus upaya pembunuhan terhadap Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta.

Dalam penerbangan dari Jakarta menuju Dili, ekstradisi yang menggunakan pesawat Trans Wisata tersebut ternyata mengizinkan sebuah media televisi nasional untuk ikut dalam penerbangan tersebut. Dan di dalam pesawat saat penerbangan itulah, reporter dari televisi tersebut menayangkan wawancara eksklusif terhadap para tersangka.

Lewat tayangan berita televisi tersebut Senin sore, hasil wawancara reporter perempuan tersebut dengan para tersangka yang diekstradisi ini ditayangkan.

Inilah reporter “kemarin sore” yang selalu bikin ulah ingin eksklusif tetapi dengan cara yang tidak sepantasnya. Memalukan, sebab cuma bermodalkan koneksi “kedekatan pribadi” dengan oknum perwira tinggi yang patut dapat diduga menyalah-gunakan jabatan

Sementara pekan lalu, Kapolri Jenderal Polisi Sutanto sudah meminta maaf kepada semua media massa dan berjanji tidak akan pernah ada lagi tindakan diskriminatif terhadap semua media massa nasional. Permohonan maaf Kapolri ini disampaikan dengan adanya protes dari media massa nasional karena Densus 88 memberikan wawancara eksklusif kepada sebuah media televisi nasional terhadap tersangka teroris yang ditangkap di Jawa Tengah 22 April lalu.

Untuk menebus kesalahan ini, Bareskrim Polri sengaja memfasilitasi semua media massa bisa bertemu dan mewawancarai teroris tersebut pada hari Senin kemarin. Tetapi hanya selang 3 hari dari permohonan maaf Kapolri Sutanto, ternyata Densus 88 tetap mengulangi tindakan diskriminatif tersebut.

Kepada INILAH.COM, Selasa (6/5/2008) di Jakarta, Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyesalkan tindakan diskriminatif tersebut.

“Presiden SBY berharap agar semua pihak berlaku adil kepada media massa. Dan memang akan dipertanyakan nanti kepada Kapolri, kok bisa masuk ke dalam pesawat itu sebuah televisi? Kalaupun boleh masuk, kenapa cuma satu media saja. Ini sangat disesalkan,” kata Andi.

Sementara itu Wina Armada, anggota Dewan Pers, juga mengaku terkejut atas peristiwa ini. Kepada INILAH.COM Selasa pagi di Jakarta, Wina mengatakan bahwa tindakan diskriminatif yang terus terjadi ini sangat merugikan media massa nasional.

“Dewan Pers akan mempelajari peristiwa ini. Sebab kami heran, apa sebenarnya yang terjadi sehingga Densus 88 Polri ini terkesan tidak mau tahu dan tetap saja melakukan tindakan diskriminatif itu. Ada dibalik semuanya ini? Ini yang harus diklarifikasi oleh Polri. Sebab Polri itu wajib memberikan akses dan peluang yang sama kepada semua wartawan untuk pemberian informasi masalah sebesar itu” kata Wina.

Kecaman yang sama juga datang dari Gayus Lumbuun, anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan. Kepada INILAH.COM Selasa pagi di Jakarta, Gayus menyayangkan tindakan diskriminatif Densus 88 Polri.

“Kenapa selalu terjadi seperti ini ya? Pekan lalu saya baru mendengar protes media massa soal diberikannya wawancara eksklusif kepada satu media saja. Sekarang begitu lagi? Sebaiknya teman-teman wartawan yang memang dirugikan ini datang bertemu ke Komisi III. Nanti kami akan tampung keluhannya” kata Gayus.

Menurutnya, patut dipertanyakan mengapa terus menerus kepada satu media ini saja, Densus 88 Polri memberikan eksklusivitas pemberitaan. Apalagi, kata Gayus, konteksnya kali ini adalah permasalah internasional.

Sementara itu dihubungi INILAH.COM, Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanegara belum dapat memberikan banyak komentar karena akan mengecek permasalahannya.

Hal yang sama juga dikatakan Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Abubakar Nataprawira kepada INILAH.COM.

“Kok bisa masuk ya? Tapi begini, saya sendiri belum lihat tayangan berita yang menyiarkan televisi itu menyiarkan wawancara dengan tersangka Timor Leste itu dari dalam pesawat. Pagi ini saya akan minta rekaman tayangan berita itu. Nanti baru saya bisa berkomentar,” kata Abubakar. (Selesai)

%d blogger menyukai ini: