Tika Balerina Kecil Bergaya Politik Banting Setir Suka SBY & Megawati

Bendera Merah Putih

Little Ballerina Animation

Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi KATAKAMI

Jakarta (DOKUMENTASI KATAKAMI 5 APRIL 2009) Ada seorang bocah kecil, Tika namanya. Saat ini ia berusia 8 tahun dan duduk di kelas 3 SD. Anak yang cantik, berambut panjang, lincah dan tubuhnya sangat lentur dalam memainkan gerakan-gerakan tarian ballet karena sudah sejak berusia 3 tahun Tika mempelajari tarian itu. Sehingga dalam usianya yang ke-8, Tika memang bisa disebut “A Liitle Ballerina Dancer”. Ia, tiga bersaudara, dan ketiganya sama-sama bocah yang cantik dan sama-sama juga memperlajari ekskul BALLET.

Dan sejak ia kecil, ia dan kedua adiknya tidak diperkenankan menonton sinetron dewasa. Sehingga yang jadi hiburan mereka hanya saluran televisi “SPACETOON” alias saluran televisi khusus anak-anak.

Atau ikut menyaksikan tayangan berita saat orangtuanya mengikuti perkembangan dari media pertelevisian.

Tika, anak yang sangat cerdas dan hampir tak pernah menangis. Ia jago dalam tarian ballet. Tapi jangan salah, anak cantik ini juga hobi berat bermain FUTSAL. Sehingga tak jarang, kalau pulang sekolah ia membawa bola plastik yang dibelinya dengan uang jajannya sendiri dari pedagang mainan di sekolahnya.

Cuma, sangking cerdasnya maka ada tingkat keisengan dalam diri Tika yang agak besar kadarnya bila sedang berhadapan dengan kedua adiknya.

Tapi jangan harap ada tanda-tanda apapun bila ia sedang melakukan provokasi. Tidak akan ada gerakan tubuh, terutama kedua tangan misalnya, jika Tika mengganggu kedua adiknya.

Biasanya, kedua bola mata sengaja ia besarkan sehingga tampak melotot atau bibirnya yang mungil sengaja dimajukan untuk mengejek. Dan semua itu bisa dilakukannya dengan sangat cepat, sehingga kalau ada yang menoleh ke arah Tika maka yang tampak adalah Tika sedang duduk manis “tanpa dosa”.

Tapi kalau sudah begitu, tunggu saja dalam beberapa detik karena kedua adiknya pasti akan berteriak marah atau menangis jengkel karena digoda oleh sang kakak.

“Tika, jangan nakal sama adik, Nak !” kata sang mama, setiap kali kejadian yang “itu-itu juga” berulang.

“Aku salah apa, Mama ? Aku kan gak ngapa-ngapain” jawab Tika dengan suara lembut dengan gaya duduk yang manis seakan benar-benar tak bersalah.

Sang Mama sudah hapal dengan keisengan anak yang manis ini. Sehingga di hari-hari selanjutnya, yang harus sangat cepat dilihat oleh mata sang mama adalah memeriksa bagaimana mimik wajah Tika bila sedang bersama adik-adiknya.

Dan akhirnya, Tika jadi tersenyum malu karena selalu kepergok oleh bunda tercinta saat matanya akan melotot atau mulutnya disengaja “dimonyongin” untuk meledek sang adik. Dan ia tak pernah tertawa keras atau terbahak-bahak. Tika, cirinya hanya tersenyum simpul saja. Beda dengan Sang Mama dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil karena ketiganya bisa tertawa ngakak kalau ada yang sangat lucu.

Presiden SBY memandangi cucu semata wayangnya AIRA YUDHOYONO (Foto Detik)SBY, Wiranto, Megawati & Prabowo

Hal yang tak terduga dari bocah berumur 8 tahun ini adalah gaya politik banting setir yang diperlihatkannya selama beberapa bulan terakhir.

Pada suatu kesempatan misalnya, Tika mendekati sang Mama. “Mama, kalau misalnya aku boleh ikut Pemilu, aku mau pilih Partai Demokrat dan Partai Gerindra” kata Tika kepada ibunya.

“Oh ya, kenapa memangnya, Nak ? tanya sang Mama.

Sang Mama, memang membiasakan agar anak-anaknya bisa bebas, berani dan sangat cerdas menyampaikan pendapat mereka dalam hal apa saja. Tetapi jika ada yang perlu dijawab atau diarahkan, barulah orangtua berbicara.

“Iklannya Pak SBY bagus, Mama. Aku udah bisa niru lambang Partai Demokrat pakai tanganku (Tika menirukan gaya Andi Malarangeng membuat lambang Partai Demokrat dengan kedua tangan). Iklannya Prabowo juga bagus, Mama. Katanya Prabowo, nanti perekonomian kita akan bagus kalau Prabowo jadi Presiden” begitu kata Tika “menceramahi” sang ibu.

Sang Ibu manggut-manggut.

Memang, sejak awal ia mengamati iklan politik Prabowo Subianto.

Bahkan Tika bisa menghapal kalimat demi kalimat. Sementara Sang Mama, cuma hapal kalimat pembuka saja dari Iklan Prabowo Subianto di berbagai media pertelevisian yaitu, “Saya Prabowo Subianto …”.

CAPRES GERIDNRA, Prabowo SubiantoPrabowo Subianto saat bertugas semasa DANJEN KOPASSUS

Bulan Januari sampai Februari 2009, Tika bersemangat melihat spanduk atau poster Partai Demokrat dan Partai Gerindra yang terpasang dimana-mana.

Pada suatu hari, ia pernah tampak murung sepulang dari sekolah. Dan seperti biasa, ia mengajak ibunya untuk “berdiskusi” soal politik.

“Mama, kata orang-orang, Prabowo itu tukang culik anak-anak ?” tanya Tika.

Waduh, sang ibu tak bisa menyembunyikan keterkejutan karena penyebaran informasi yang sembarangan seperti itu kepada masyarakat (apalagi ke kalangan anak-anak), patut dapat diduga hal semacam itu merupakan BLACK CAMPAIGN atau kampanye hitam. Tetapi saat itu, dengan tenang sang Ibu menjawab pertanyaan Tika.

“Bukan Nak, Pak Prabowo Subianto itu tentara. TNI. Kerjanya bagus, perbuatannya baik sewaktu masih jadi tentara. Dulu, jabatannya pernah jadi Komandan Kopassus. Terus, pernah jadi Panglima Kostrad. Tidak benar kalau dibilang penculik anak-anak. Yang bicara seperti itu, nanti bisa ditangkap karena mencemarkan nama baik orang. Ngerti kan, Nak ? Jadi, Tika tidak salah kalau Tika suka lihat iklannya Prabowo Subianto” jawab Sang Mama.

Tika tampak puas dengan jawaban itu. Dan tidak pernah lagi terlihat murung seputar isu negatif dari tokoh dan partai yang iklan politiknya disukai Tika.

Iklan politik Megawati Soekarnoputri tentang sembako murahMegawati Soekarnoputri & putrinya, PUAN MAHARANI

Dan beberapa hari lalu, Tika mengajak lagi sang ibu untuk berdiskusi politik seperti biasanya.

“Mama, kali ini aku sudah punya pilihan lain. Kalau aku bisa ikut Pemilu sekarang, aku akan pilih PDI Perjuangan dan Partai Hanura. Kata iklannya PDI Perjuangan, nanti kalau Megawati terpilih, harga sembako bisa murah. Terus masalah kesehatan dan pendidikan juga diperhatikan. Aku juga mau pilih Hanura, sekarang iklannya banyak dimana-mana, Mama. Nama Ketua Umumnya Wiranto. Mama harus lihat iklannya. Kata Wiranto, kita semua harus mendengarkan hati nurani kalau mau melakukan apapun juga,” kata Tika dengan bersemangat.

Sang Ibu manggut-manggut. Tetapi tak lama kemudian, ia melanjutkan omongannya dengan menyorroti parpol lain. Sebab ada yang membuatnya penasaran.

Ketua Umum DPP PAN Soetrisno BachirPartai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan nomor urut 24

Kalau PAN, Partai Amanat Nasional, Ketua Umumnya siapa Mama ?” tanya Tika.

“Oh, kalau PAN, nama Ketua Umumnya Soetrisno Bachir. Iklannya kan banyak Nak. Ingat gak, yang iklannya begini … Hidup adalah perbuatan” jawab Sang Mama.

Kali ini, giliran Tika yang manggut-manggut.

“Terus, kalau yang partainya berlambang hijau … P … apa itu namnya ? Kepanjangan nama Partainya apa Mama ?” tanya Tika lagi.

“P3, PPP, kepanjangannya Partai Persatuan Pembangunan” jawab sang ibu.

Tika tampak serius mendengarkan jawaban demi jawaban dari sang Ibu.

Dan Sang Ibu memang harus selalu siap dengan seribu satu macam kejutan dari anak sulungnya ini. Sebab Tika, bisa aktif bertanya dan entah darimana ia mendapatkan informasi-informasi itu. Ia pengamat yang baik. Iklan dari para CALEG misalnya, ia baca saat melintas bila hendak ke sekolah atau pulang dari sekolah.

Tika pernah sangat gusar ketika ia tahu iklan CALEG dari PARTAI PATRIOT misalnya (Presada Ginting), disingkirkan oleh CALEG lain yang memasang iklannya di tempat iklan yang lebih dulu ditempati CALEG sebelumnya. Sang Mama malah tidak memperhatikan sampai sedetail itu.

H. Japto S. Soerjosoemarno, SHYedidiah Soerjosoemarno

Ia tanyakan, siapa nama Ketua Umum PARTAI PATRIOT.

Sang Mama menjawab kepada anak sulungnya ini, “Namanya YAPTO SOERJOSOEMARNO, dulu Pak Yapto ini pimpinannya organisasi pemuda yang namanya Pemuda Pancasila” jawab Sang Mama.

Dan Tika bisa terus bertanya, kalau misalnya ia belum puas. Ia tanya, mengapa YAPTO tidak mencalonkan diri juga jadi CAPRES karena biasanya Ketua Umum Partai Politik rata-rata maju sebagai CAPRES. Kalau sudah sesulit itu pertanyaannya, maka Sang Mama memerlukan waktu beberapa detik lebih lama untuk mencari jawaban yang “diplomatis”.

“Barangkali karena memang Pak YAPTO tidak punya ambisi atau rencana untuk jadi CAPRES. Tapi kalau Tika perhatikan, anaknya Pak YAPTO ada yang jadi CALEG. Iklannya kan ada di dekat rumah kita, namanya YEDIDIAH Soerjosoermarno” jawab Sang Mama secara bijak.

Tika, bocah kecil yang bergaya politik ala banting setir kesana kemari itu memang berlangganan sebuah media anak-anak yang memuat banyak berita positif mengenai kehidupan di sekeliling kita.Tabloid BERANI namanya.

Ya, sama saja dengan koran yang dibaca oleh orang dewasa. Barangkali yang membedakan adalah cara pengemasan dan penyampaian beritanya.

Sebab, Tika bisa bercerita panjang lebar kepada sang ibu mengenai Tragedi Situ Gintung, yang terjadi di kawasan Cirendeu baru-baru ini.

Dan soal minat politik Tika, hal terbaru yang mengagetkan sang Ibu saat Tika datang dengan “rumpian politik” yang terbaru.

“Waduh Mama, gawat ini. Aku kan sekarang suka sama PDI Perjuangan. Tapi aku dengar, berdasarkan polling partai yang diperkirakan terbesar suaranya adalah PKS. Terus disusul Partai Demokrat. Habis itu baru PDI Perjuangan” kata Tika kepada sang Ibu.

Sang Ibu berusaha untuk “serius” dan sekuat mungkin menahan diri untuk tidak tertawa karena itu akan membuat sang anak tersinggung. Sebab Tika terlihat serius sekali dengan isu terbaru ini.

“Polling itu namanya jajak pendapat, yang menjawab adalah orang tertentu dan jumlahnya tidak sebesar rakyat Indonesia. Dan kadang-kadang, polling itu bisa dibeli berdasarkan kepentingan dari si pemesan. Tapi dalam hal ini, kalau tadi Tika sebut nama PKS, partai yang namanya PKS memang bagus juga, Nak. Mereka punya massa yang banyak. Jadi tidak mungkin PKS membeli polling. Ya, nanti kita lihat di Pemilu Legislatif ya. Partai politik mana yang mendapat suara terbanyak” kata Sang Mama.

Tika tampak diam tapi tetap menyimak jawaban demi jawaban dari sang ibu.

“Jadi, Tika sekarang pilih partai yang mana ?” tanya Sang Mama.

“Aku tetap pilih PDI Perjuangan, Mama. Soalnya aku mau sembako yang murah. Apa-apa sekarang ini kan memang mahal” jawab Tika dengan polos.

Sang Mama tidak berusaha untuk mendoktrin agar si anak menyukai yang ini atau yang itu, lalu mewajibkan untuk membenci yang ini dan yang itu. Tika masih terlalu kecil untuk mendapatkan doktrin politik yang terkooptasi dengan kepentingan atau pilihan politik orang dewasa.

Buat Tika, pernyataan demi pernyataan dari para Ketua Umum Parpol atau Para CAPRES 2009 adalah sesuatu yang wajib untuk disimak. Lalu, Tika membandingkan siapa kira-kira yang “janji politiknya” lebih baik dan akan membawa Indonesia ke arah yang jauh lebih sejahtera.

Itulah tadi sepotong cerita tentang minat dan gaya politik Tika yang memang sangat banting setir kesana dan kemari. Ia hanyalah anak kecil yang secara tulus, polos dan sangat sederhana telah mencoba untuk belajar politik.

Peran orangtua dalam memberikan arahan dan pengetahuan tambahan dari yang didapat si anak dari sekolahnya, memang sangat penting.

Anak mendapat banyak informasi dari dunia sekelilingnya, tanpa bisa dicegah oleh orangtua.

Mau kaya atau miskin, anak-anak tetaplah anak-anak yang harus dijaga dari segala distorsi informasi. Biarlah dengan kerangka pemikiran yang masih kekanak-kanakan, mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak Indonesia yang sehat dan cerdas.

Semua parpol dan CAPRES 2009 ini memang harus sangat berhati-hati dalam menyampaikan janji-janji politik mereka. Begitu banyak, anak bangsa Indonesia yang mendengarkan janji-janji politik itu.

Tidak cuma anak seusia Tika, tetapi seluruh rakyat Indonesia yang memang menyandang predikat sebagai anak bangsa.

Dalam hitungan jam dan hanya tinggal beberapa hari lagi, Indonesia akan menggelar agenda politik penting yang pertama di tahun 2009 ini yaitu PEMILU LEGISLATIF tanggal 9 April 2009.

Selamat berpesta demokrasi untuk kita semua, anak bangsa Indonesia. Berikan suara anda. Dan mari kita berikan suara dan pilihan politik kita untuk menjadikan Indonesia bisa tetap melanjutkan perjalanannya ke depan secara lebih demokratis.

Seperti slogan yang disampaikan pihak MABES POLRI lewat spanduk-spanduk di sejumlah tempat, “PILIHAN BOLEH BERBEDA, TETAPI PEMILU HARUS TERTIB DAN DAMAI”.

POLRI dengan dibantu oleh TNI bertugas mengamankan PEMILU 2009 agar berjalan tertib dan damaiPengamanan PEMILU 2009 oleh POLRI

Janganlah ada pihak manapun yang terpancing atau berinisiatif melakukan sesuatu yang berdampak buruk bagi INDONESIA.

Mata dunia internasional akan mengarah kepada bangsa INDONESIA saat pelaksanaan Pemilu Legislatif 9 April mendatang. Dan memang menjadi tugas POLRI, dibantu TNI, untuk mengamankan pelaksanaan Pemilu Legislatif tanggal 9 April mendatang agar terlaksana secara baik dan suskes.

Kita jaga bersama-sama agar semua tahapan pelaksanaan Pemilu Legislatif itu berjalan secara baik.

Dan yang terpenting, seperti yang disampaikan oleh pesan MABES POLRI tadi, Pemilu harus tertib dan damai.

Siap menang, siap kalah. Itulah prinsip yang harus dipegang dan dilaksanakan oleh semua parpol dan caleg-calegnya.

TikaIlustrasi gambar TIGA BALERINA

Dan kembali ke soal Tika, bocah kecil yang punya minat tinggi dalam masalah politik. Dia adalah anak saya. Anak yang lugu tetapi memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.

Untunglah Tika belum saatnya memilih pada tanggal 9 April nanti. Sebab, kalau misalnya ia boleh memilih maka saya yakin kertas suara yang pertama kali dinyatakan tidak sah adalah kertas suara yang dicentang atau dicontreng oleh Tika. Sebab, ia bisa saja akan mencontreng atau mencentangkan di banyak parpol yang ia sukai iklan politiknya selama ini. Dari mulai Partai Demokrat, Partai Gerindra, PDI Perjuangan, Partai Hanura dan belakangan karena mendengar nama Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tika juga jadi mengamati parpol yang satu ini.

TikaSalam dari TIKA, untuk anda yang menjadi CAPRES, Ketua Umum dan kader dari semua partai yang disukai oleh anak yang lugu ini. Juga kepada semua PARPOL yang menjadi peserta PEMILU LEGISLATIF 2009 dan para kandidat CAPRES lainnya yang akan maju dalam pertarungan PILPRES 2009.

Bukan maksud Tika untuk melakukan diskriminasi karena dengan keluguannya ia cuma menyoroti sejumlah kecil partai politik. Ia hanyalah bocah kecil yang masih belum memahami perpolitikan secara utuh dan menyeluruh.

Sekali lagi, selamat berpesta demokrasi untuk kita semua, anak bansgsa INDONESIA. Berikan suara anda dan pilihkan yang memang anda yakini akan membawa INDONESIA ke arah yang jauh lebih baik dan sejahtera.

(MS)

Palm SundayIklan KATAKAMI

%d blogger menyukai ini: