Andai Amrozi Tahu Ajalnya

Dimuat Di INILAH.COM tgl 27/08/2008 – 07:27

Oleh :  Mega Simarmata

Amrozi
(Istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Dengarlah lirik lagu Andai Kutahu dari Ungu. Isinya senapas nasib terpidana mati kasus Bom Bali I: Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron alias Muklas. Ketiganya memang sedang menanti sesuatu yang tak pasti.

Tapi, bisa jadi kisah nyata yang dihadapi ketiganya berbeda dengan lirik lagu Ungu itu. Sebab, Amrozi mengaku tak takut mati dan siap dieksekusi kapan saja. Itu sebabnya, ia dan dua rekannya tak ingin mengajukan permohonan grasi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Meski begitu, entah apa yang terjadi sebenarnya. Kini, Jaksa Agung Hendarman Supandji dan jajarannya di Kejaksaan Agung menunjukkan keseragaman sikap. Mereka bungkam seribu bahasa soal rencana pelaksanaan eksekusi mati terhadap Amrozi, Imam, dan Ali.

Berulang kali Hendarman menegaskan bahwa pihaknya selaku eksekutor berharap agar pelaksanaan eksekusi mati itu dilakukan sebelum bulan puasa. Artinya, eksekusi akan berlangsung 5 x 24 jam lagi mengingat puasa dimulai Senin, 1 September 2008.

Mengacu pada UU Nomor 2/PNPS/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hukuman Mati, paling lambat Jumat (29/8) Kejagung harus memberikan surat pemberitahuan kepada ketiga terpidana dan keluarganya bahwa eksekusi segera dilakukan.

Hal itu diatur dalam pasal 6 ayat (1) yang berbunyi, ‘Tiga kali dua puluh empat jam sebelum melaksanaan pidana mati, Jaksa Tinggi/Jaksa memberitahukan kepada terpidana tentang akan dilaksanakan pidana itu’. Ayat (2) berbunyi, ‘Apabila terpidana hendak mengemukakan sesuatu, keterangan atau pesannya itu diterima Jaksa Tinggi/Jaksa tersebut’.

Mengacu pada UU ini, paling lambat Jumat (29/8) Amrozi, Imam, Ali masuk ke ruang isolasi. Ketiganya saat itu dimungkinkan menyampaikan permintaan terakhir kepada pihak eksekutor.

Semua itu hanyalah perkiraan yang mengacu pada aturan. Tidak ada yang bisa memastikan kapan eksekusi itu dilaksanakan kecuali SBY dan Hendarman.

Kepada INILAH.COM, Selasa (26/8) di Jakarta, Fauzan Al-Anshari selaku juru bicara Ustadz Abu Bakar Baasyir mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan eksekusi akan berlangsung persis memasuki bulan suci Ramadhan.

“Ustadz Abu menduga eksekusi itu memang sengaja diatur persis memasuki bulan suci Ramadhan untuk meredam semua gejolak. Sebab, umat Islam tidak dibolehkan mengumbar emosi pada bulan suci Ramadhan,” kata Fauzan meniru pernyataan Ustadz Baasyir.

Lain lagi pandangan Sutradara Gintings, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI-P. Ia justru melihat adanya indikasi tekanan dari SBY terhadap Hendarman sehingga rencana eksekusi terus tertunda-tunda.

“Hendarman sangat menguasai teknis hukum. Semua tahu kapabilitasnya. Nah, kalau orang sekelas Hendaman belum juga melaksanakan eksekusi sampai saat ini, apakah memang ada tekanan politik dari presiden kepada Jaksa Agung?” kata Gintings.

Mengacu pada persoalan HAM, pelaksanaan hukuman mati ini sudah tidak sesuai dengan komitmen dari mayoritas negara-negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menentang hukuman mati.

Tapi, sebagai negara hukum, Indonesia harus tegas dan konsisten menegakkan hukum. Vonis hukuman mati itu sudah dijatuhkan kepada Amrozi, Imam, dan Ali.

Aksi ketiganya dalam kasus Bom Bali I menewaskan 202 orang dan mencederai ratusan lainnya. Bahkan, tidak sedikit yang terpaksa menderita cacat permanen akibat tindak brutal teroris kelompok Al Jamaah Al Islamyah itu.

Walau tim kuasa hukum mereka sedang mengajukan gugatan materiil kepada Mahkamah Konstitusi terkait pasal penembakan pada UU Nomor 2/PNPS/1964, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Dr Mahfud MD menegaskan bahwa eksekusi bisa tetap dilaksanakan tanpa harus menunggu vonis dari MK.

Entah apa yang ada di hati dan pikiran Amrozi, Iman, Ali saat ini. Terutama pihak keluarganya. Entah apa juga tanggapan dari ketiga terpidana jika mendengarkan kelanjutan lirik lagu dari Ungu ini: Andai kutahu, kapan tiba masaku/ku akan memohon/Tuhan jangan kau ambil nyawaku… Aku takut akan semua dosa-dosaku/aku takut, dosa terus membayangiku… (Selesai)

 

Filed under: Tak Berkategori , ,

%d blogger menyukai ini: