Airmata Keluarga Mbah Surip Belum Kering Tapi Duka Bertambah Oleh Dugaan Arogansi Manajemen Soal Royalti TAK GENDONG

Karikatur Mbak Surip (Fonda - INILAH.COM)

Jakarta 6/8/2009 (KATAKAMI)  Sangat keterlaluan kalau ada pihak tertentu yang tidak mampu membaca situasi dan menangkap situasi kebathinan masyarakat INDONESIA atas kematian penyanyi nyentrik sangat fenomenal MBAH SURIP. Begitu besar perhatian publik dan sungguh-sungguh tampak nyata kecintaan INDONESIA kepada almarhum MBAH SURIP.

Apa saja perkembangan pasca kematian penyanyi “TAK GENDONG” ini, pasti akan diangkat ke permukaan oleh semua MEDIA MASSA.

Artinya, MBAH SURIP memang mendapatkan tempat yang sangat khusus di hati rakyat INDONESIA. Terutama media massa. Sosoknya sangat sederhana, lugu dan kocak luar biasa.

Kesedihan atas kematian ini seakan tak seimbang dan tak bisa menutupi kegelian atau gelak tawa yang sangat spontan setiap mendengarkan lagu-lagu Mbah Surip serta rekaman wawancaranya.

Bayangkan, di sebuah tayangan televisi MBAH SURIP mengatakan (kira-kira seperti ini) :

https://i0.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Everything_Else/Smoking/Cigarette_burns.gifhttps://i0.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Everything_Else/Smoking/Cigarette_burns.gif

“Ya, kalau memang benar nanti dapat uang maka uangnya yang 1 Miliar mau Mbah pakai buat beli ROKOK, yang 1 Miliar lagi buat beli KOPI, beli GULA, supaya Mbah bisa merokok dan minum kopi sampai MATI. Hahaha”.

MBAH SURIP seakan menjadi sosok yang semakin berdaya magis justru setelah ia meninggal dunia.

Ia semakin dicintai dan semakin kuat merebut hati rakyat INDONESIA. Ia tetap melucu dan sangat menggelikan.

AnimatedCoffeeMonster.gif image by cutypie999

Contohnya, saat ia meminta agar dimakamkan di tempat pemakaman milik keluarga Budayawan WS Rendra. “Seniman lain kan bilang, ah nanti kalau mati dikubur disini saja tapi yang dekat pohon jengkol. Kalau Mbah, milihnya yang dekat pohon KOPI saja biar tetap bisa NGOPI ! Hahaha”.

Rasa kehilangan dan kecintaan yang semakin membesar dari hati masyarakat INDONESIA kepada MBAH SURIP bukanlah basa-basi.

https://i1.wp.com/www.karenrodriguez.net/images/wordle.png

Sehingga, ketika dalam perkembangannya terjadi sebuah kegetiran terkait minimnya “sisi kematerian” yang menjadi hak keluarga atas kesuksesan MBAH SURIP di dunia tarik suara mengundang keprihatinan mendalam.

Kita semua bukanlah hidup di alam mimpi.

230620091000.jpg image by marZZZ_photo

Faktanya, lagu TAK GENDONG itu memang menjadi sangat laris manis. Masak, tidak ada sepeserpun yang bisa diklaim sebagai hak dari MBAH SURIP ?

Ini kegilaan dan kebiadaan model apa, jika kesuksesan yang sangat luar biasa dari MBAH SURIP dianggap angin lalu saja. Keterlaluan sekali. Gelagat yang tidak baik sudah mulai kelihatan.

http://www.facebook.com/profile/pic.php?uid=AAAAAQAQDnLEZULOO5JqLSiYhdGhSAAAAAqCwN9Cx05v9tjtUOS-vzwh

Kepada KATAKAMI Kamis (6/8/2009) ini lewat wawancara, pengamat musik sekaligus aktivis politik ADHIE MASSARDI menilai bahwa MBAH SURIP adalah simbol rakyat yang secara nyata memiliki KREATIVITAS sehingga sangat tidak pantas semua perlakuan yang mengarah pada pencarian untung sepihak yang mengorbankan MBAH SURIP sekeluarga.

“Mbah Surip itu benar-benar menjadi SIMBOL RAKYAT yang memang menjadi milik PUBLIK. Jangan ada pihak tertentu — dalam hal ini manajemennya misalnya — yang seolah-olah mengarah pada kecenderungan bahwa KREATIVITAS itu seakan tidak ada harganya. Memang ada kontrak kerjasama ada tata cara pembayaran tetapi dalam situasi khusus yang berduka seperti ini, pihak manajemen KAMPUNG ARTIS harus punya itikat baik memberikan hak-hak Mbah Surip pada keluarganya” kata Adhie Massardi.

Menurut Adhie, jika ada klaim dari pihak MANAJEMEN ARTIS bahwa royalti nada sambung lagu TAK GENDONG belum bisa dibayarkan atau belum mencapai angka yang signifikan, semua itu harus di-recheck atau diperiksa kembali.

“Begini lho, kematian MBAH SURIP ini kan benar-benar jadi perhatian publik. Nah, ini harus jadi perhatian juga dari pihak Manajemennya. Jangan main-main. Oke bahwa pembayaran royalti itu ada tata caranya, berapa bulan sekali termin pembayaran itu dilakukan. Dalam suasana duka seperti ini, apakah susah untuk membayarkan dulu termin pertama yang telah disepakati untuk dibayarkan kepada MBAH SURIP ?” tanya Adhie Massardi.

https://i0.wp.com/jenggot.klinong.com/wp-content/uploads/2009/07/mbahsurip-300x224.jpg

Adhie Massardi juga meminta inisiatif dari kalangan seniman dan praktisi LSM — terutama dari kalangan YLKI (Yayasan lembaga Konsumen Indonesia) untuk memberikan bantuan kepada pihak Keluarga MBAH SURIP dalam mempersoalkan kejelasan dan keadilan untuk mendapatkan hak ROYALTI NADA SAMBUNG lagu “TAK GENDONG” yang meledak di pasaran.

Sementara itu sumber KATAKAMI di Kepolisian menyebutkan bahwa jika memang ada pihak yang berkeinginan untuk melaporkan adanya dugaan penipuan dalam hal masalah royalti MBAH SURIP maka yang berhak melaporkan kepada pihak KEPOLISIAN adalah pihak KELUARGA dari Mbah Surip atau LSM yang bergerak di bidang perlindungan konsumen sebab pelaporan itu bisa ke PERLINDUNGAN KONSUMEN atau DUGAAN PENIPUAN.

LAMPIRAN BERITA :

ROYALTI “TAK GENDONG” TEMBUS Rp. 10 MILIAR ?

Keluarga Mbah Surip memprotes manajemen Kampung Artis yang dianggapnva terlalu banyak meraup keuntungan. Namun, pihak Kampung Artis selaku manajemen Mbah Surip membantahnya.

“Kami tak membuat Mbah Surip sebagai sapi perahan,” ujar Petrus Idi Darmono dari Kampung Artis saat ditemui di kawasan Depok, Rabu (5/8).

Selama Mbah Surip bergabung dengan manajemen Kampung Artis, kata Petrus, pihaknya baru tiga kali memberi pekerjaan kepada pria berambut gimbal tersebut. Tiga pekerjaan itu bernilai Rp 63 juta.

Selebihnya mereka tak bisa mengganggu jadwal promo Mbah Surip. Jadwal pentas Mbah Surip memang padat, tapi itu tak datang dari Kampung Artis. Selain diurusi manajemennya, Mbah Surip juga dimanajeri Farid, anak keduanya. “Di media banyak yang bilang manajemen nggak becus. Padahal kita punya waktu dari 100 persen, hanya 40 persen saja. Mbah itu nggak matrealistis, nggak memikirkan
gepokan uang,” jelas Petrus.

Penyanyi, pencipta lagu, dan produser musik Dharma Oratmangun (50) mempertanyakan kabar tentang royalti yang bakal diperoleh Mbah Surip mencapai Rp 4,5 miliar, yang didapat dari RBT (ring back tone/nada sambung atau nada tunggu) lagu “Tak Gendong”. Menurut dia, basil royalti Mbah Surip itu bisa mencapai nilai minimal Rp 10 miliar.

Dikatakan Dharma, yang merupakan Ketua Umum Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPRI), sampai saat ini masih tidak ada kejujuran kepada seniman, pencipta lagu, dan penyanyi ketika lagunya dijadikan nada sambung atau nada tunggu. “Menurut data yang saya miliki dari sejumlah penelitian tentang penggunaan hak cipta atas hasil karya seni, penyanyi dan pencipta lagu hanya mendapatkan jatah 2,26 persen dari hasil penggunaan nada tunggu atau nada sambung itu. Justru, yang paling menikmati adalah usaha penyedia jasa telekomunikasi, label, dan perantara kontrak antara seniman atau artis,” ujar pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, itu.

Soal ketidakadilan atas bagi hasil itu, lanjut Dharma, selama ini pihak di luar pencipta dan penyanyi justru menerima lebih besar. Salah satu contohnya, penyedia jasa layanan komunikasi seluler mendapatkan Rp 5.575 atau 63,89 persen dari harga RBT yang senilai Rp 9.000 untuk satu kali mengunduh (download).

Sementara itu, tambah Dharma, label dan perantara kontrak mendapatkan Rp 2.438 atau 27,08 persen. “Apa yang terjadi saat ini bagi artis, penyanyi, pencipta lagu, dan seniman sangat memprihatinkan. Padahal, di undang-undang perlindungan hak cipta sudah jelas. Sesuai UU Hak Cipta No 19 Tahun 2002, Pasa145 Ayat 4, kontrak antara penyanyi maupun pencipta lagu untuk penggunaan hak cipta harus ada kesepakatan antara penyanyi/ pencipta lagu dengan penyedia jasa layanan telekomunikasi seluler serta label, termasuk dengan organisasi profesi,” katanya.

“Mbah Surip itu kan sudah 18 tahun jadi anggota PAPRI. Namun, sampai saat ini berapa jumlah penggunaan hak cipta lagu itu tidak dilaporkan oleh pihak pengguna hak cipta,” tambah Dharma.

Dia mengaku sudah ditanya oleh pihak keluarga dan ahli waris Mbah Surip di sela-sela pemakaman.

Menurut Dharma, kondisi yang memprihatinkan ini sudah diupayakan pembelaannya ke pihak berwenang atau pemerintah. Namun, sampai saat ini belum ada ketegasan dan realisasi. Dan, dari hitung-hitungan yang ada di catatan milik Dharma, penyanyi dan pencipta lagu sebenarnya selama ini hanya dapat Rp 406 atau 4,51 persen.

“Coba saja lihat faktanya, kalau cuma dapat seperti itu kan sama saja tidak ada penghargaan atas karya seni. Hanya dijadikan komoditas bisnis saja atau industri. Fakta yang saya dapat di Amerika Serikat, pencipta lagu dapat 9,34 persen, itu belum termasuk jika penciptanya itu juga penyanyinya. Saya cuma berharap apa yang diberitakan dapat dilacak kebenaranya dan royalti yang seharusnya didapat almarhum dapat diungkap,” kata Dharma.

(KOMPAS / ms)

%d blogger menyukai ini: