Beranda > Uncategorized > Atas Nama HAM, Salah Alamat Jika Obama Disalahkan Soal Teknik Integorasi Tangani Terorisme Yang Membuat Nilai Hukum & HAM Seakan "Tetanus" Di Era Bush

Atas Nama HAM, Salah Alamat Jika Obama Disalahkan Soal Teknik Integorasi Tangani Terorisme Yang Membuat Nilai Hukum & HAM Seakan "Tetanus" Di Era Bush

12/08/2009

DIMUAT DI WWW.KATAKAMI.COM & WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM

Jakarta 18 April 2009 (KATAKAMI) Kadang-kadang, ada manusia yang sulit untuk membaca tanda-tanda perubahan zaman yang arahnya sudah begitu positif dan sangat pantas dihargai.

Radio BBC London memberitakan tentang diumbarnya rasa kecewa kelompok HAM tertentu kepada Presiden AS Barack Obama yang dinilai enggan mengadili agen-agen rahasia Dinas Intelijen AS (CIA) karena menggunakan teknik integorasi yang kejam sepanjang era kepemimpinan Presiden BUSH.

Kita simak dulu berita selengkapnya dari Radio BBC London :

16 April, 2009 – Published 20:58 GMT

Obama membuat kecewa

Kelompok hak asasi manusia di Amerika Serikat menyatakan kecewa bahwa agen CIA tidak akan diadili dalam soal teknik interogasi di masa Bush.

Para pegiat menyambut baik keputusan Gedung Putih menerbitkan rincian teknik interogasi yang sekarang sudah dilarang oleh Presiden Barack Obama.

Namun kelompok hak asasi mengatakan keputusan untuk tidak mengadili para agen itu merupakan kegagalan menegakkan hukum di negara tersebut.

Yang lainnya membela dengan mengatakan integorasi itu telah membuat Amerika Serikat lebih aman.

Mantan ketua CIA, Michael Hayden, yang menjalankan badan tersebut di bawah kepemimpinan Bush mengatakan langkah Gedung Putih ini akan mengganggu tugas-tugas intelejen, dan membuat badan asing enggan berbagi informasi dengan CIA.

Penerbitan laporan

Sebelumnya, Amerika Serikat menerbitkan empat memo rahasia yang merinci alasan hukum untuk cara interogasi CIA yang dilakukan pada masa Bush.

Para pengkritik program interogasi itu mengatakan cara yang digunakan itu sama dengan penyiksaan.

Presiden Barack Obama juga menerbitkan satu pernyataan yang menjamin bahwa tidak ada staf CIA yang akan dihukum karena perbuatan mereka dalam program interogasi itu.

Sebagian orang di CIA menghendaki agar sejumlah bagian memo itu tidak dipublikasikan, khawatir kalau-kalau penerbitan secara penuh akan memicu gugatan hukum terhadap para agen rahasia, kata laporan itu.

Penerbitan memo-memo itu berasal dari permintaan kelompok pembela hak sipil American Civil Liberties Union (ACLU).

Teknik kejam

Tiga di antara dokumen tersebut dtulis pada bulan Mei 2005 oleh orang yang waktu itu menjabat kepala Kantor Penasihat Hukum Departemen Kehakiman, Stephen G. Bradbury.

Mereka memberikan dukungan legal untuk penggunaan kombinasi berbagai teknik pemaksaan, dan menyimpulkan bahwa cara yang dipakai CIA tidak “kejam, tak manusiawi, atau melecehkan” berdasarkan hukum internasional.

Obama, adalah pemimpin yang konsisten pada janjinya. Ini yang harusnya sangat cepat disadari, dikenali, dirasakan dan diakui oleh rakyat AS sendiri. Walaupun bergabung dalam sebuah wadah kelompok pembela hak sipil sekalipun, American Civil Liberties Union (ACLU) harus adil dan cerdas dalam “membaca” bagaimana karakter kepemimpinan yang membanggakan dari Obama.

Memang betul bahwa berbagai tindak penyiksaan yang terjadi sepanjang masa pemerintahan Presiden Bush terkait penanganan terorisme, sangat amat memalukan bagi AS.

Itulah sebabnya, Obama menjanjikan bahwa jika ia terpilih sebagai Presiden AS maka yang pertama akan dilakukannya adalah menutup kamp tahanan Guantanamo di Kuba.

Dan apa yang terjadi ?

Persis di hari pertama Obama bekerja secara resmi di Gedung Putih sebagai Presiden AS yang ke-44, memo pertama yang ditanda-tanganinya adalah keputusan untuk menutup Penjara Guantanamo dengan kebijakan bahwa penutupan itu secara resmi akan dilakukan paling lambat satu tahun setelah keputusan itu ditanda-tangani. Artinya, Penjara Guantanamo akan ditutup pada bulan Januari 2010.

Kami menuliskan hal ini secara khusus lewat tulisan berjudul “Misteri Angka Satu Presiden Obama Yang Antiklimaks”.

Mengapa kami sebut antiklimaks ?

Ya sebab masa satu tahun itu termasuk sangat lama untuk dinantikan oleh para tahanan yang ada di Penjara Guantanamo, jika patut dapat diduga penjara itu hanyalah kedok untuk melakukan berbagai tindakan penyiksaan kepada warga negara asing yang ditangkapi seenaknya saja dan ditahan disana hanya untuk disiksa. Tidak ada proses hukum yang diberikan dan tidak ada juga akses apapun yang diberikan kepada negara yang menjadi tanah kelahiran atau tempat asal para tahanan disana.

Sehingga, keputusan untuk menutup setahun ke depan rasanya terlalu lama. Mengapa bukan menutupnya sebulan setelah Presiden Obama menanda-tangani keputusan itu ?

Bayangkan kalau dalam sehari saja, semua tahanan disana tetap mendapatkan penyiksaan fisik. Maka, mereka harus sangat tabah dan kuat sekuat-kuatnya untuk tetap disiksa selama 364 hari berturut-turut. Alangkah lamanya penderitaan itu.

Iya kalau misalnya mereka memang bersalah. Tapi bagaimana kalau mereka samasekali tidak bersalah ? Hak apa yang mau dikedepankan untuk menjadi pembenaran bahwa agen-agen rahasia CIA dan seluruh petugas disana bisa menyiksa warga negara orang lain “seenak udel-nya sendiri” ?

Tetapi, fokus utama yang harus dicermati disini adalah Presiden Obama menepati janjinya untuk menutup penjara itu.

Entah itu sebulan atau setahun kemudian, tetapi state policy atau kebijakan negara (AS) sudah dikeluarkan dan tak bisa ditarik lagi.

Presiden Obama tak berhenti sampai disitu. Ia membuka kepada publik tentang adanya memo-memo rahasia yang membenarkan dan menjadi landasan bagi agen-agen rahasia CIA melakukan teknik integorasi dengan cara penyiksaan fisik yang begitu kejam.

Secara politik, patut dapat diduga kebijakan pemerintahan Presiden Obama membuka rahasia era Bush kepada publik terkait kekejaman teknik interogasi itu bisa dipandang sebagai sebuah sign atau tanda kepada Bush dan jajarannya bahwa mereka punya banya kelemahan dan kekurangan yang bersifat fatal sekali.

Secara politik, patut dapat diduga Presiden Obama bermaksud untuk meminta perhatian dari seluruh perangkat yang bertugas dibawah pemerintahan Bush agar jangan coba-coba untuk membuat lebih banyak permasalahan yang merepotkan AS (terutama pemerintahan Obama sendiri).

Lalu, kalau sekarang Presiden Obama yang dinilai mengecewakan karena “state policy” yang dikeluarkan tidak mencakup proses hukum terhadap seluruh agen rahasia CIA yang melakukan penyiksaan itu, hal ini justru menjadi tanda tanya besar.

Lho, mengapa Obama yang dipersalahkan ?

Dengan menilai bahwa Obama mengecewakan karena tidak memerintahkan agar para agen rahasia CIA diadili, maka penilaian ini yang justru keliru dan perlu diluruskan.

Obama tidak mengecewakan siapapun, entah itu rakyat AS atau publik dunia.

Pasti ada sesuatu yang sifatnya sangat mendasar sehingga ditempuh kebijakan yang formatnya memberikan nuansa yang sangat “win-win solution”.

Proses peradilan yang dituntutkan kepada para agen rahasia CIA itu, tak mungkin hanya dilakukan kepada para agen rahasia tersebut. Tetapi harus terus bergulir sampai ke tingkat atas.

Bahkan, sampai kepada orang per orang yang menuliskan memo-memo rahasia berisi landasan atau menjadi pegangan bagi “aparat dibawah” untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh atasan.

Bukan tak mungkin, proses peradilan itu bisa menembus ke Pejabat Gedung Putih semasa pemerintahan Presiden Bush.

Hingga puncaknya, justru patut dapat diduga bisa menjadi bumerang yang menempatkan Mantan Presiden Bush sebagai tersangka (juga).

Yang menjadi akar permasalahan terkait penyiksaan-penyiksaan kepada para tahanan di Penjara Guantanamo itu, sekarang sudah diredam, dikendalikan, ditekan dan dihilangkan oleh Presiden Obama.

Pelan-pelan, penjara Guantanamo akan ditutup.

Pelan-pelan, sambil menunggu proses penutupan itu maka seluruh landasan atau pegangan tertulis yang menjadi alat pembenaran terjadinya penyiksaan-penyiksaan kepada para tahanan sudah dicabut oleh Presiden Obama.

Para tahanan yang memang bisa dikembalikan ke negara asalnya masing-masing, sudah mulai dkembalikan. Lalu sisanya, dialihkan ke beberapa negara yang memang bersedia menampung para tahanan Guantanamo.

Kadang-kadang, tudingan yang asbun atau asal bunyi saja tetapi mengatas-namakan Hak Azasi Manusia (HAM), justru mengundang rasa prihatin dari publik dunia.

Apakah terlalu sulit untuk kelompok HAM tersebut untuk memberikan waktu dan kesempatan kepada Presiden mereka sendiri untuk membenahi betapa morat-maritnya penanganan terorisme sepanjang masa pemerintahan Presiden Bush ?

Jangan karena membawa isu HAM, maka dianggap sah-sah saja menuding Presiden Obama begini dan begitu dalam konotasi negatif.

Apa yang telah dilakukan oleh Presiden Obama selama 3 bulan pertama masa kekuasaannya ini terkait penanganan terorisme, sudah sangat baik sekali dan patut dihargai oleh siapapun.

Obama memberikan atmosfir yang kondusif dalam hal penanganan terorisme. Ia tak mau lagi secara bombastis mengumbang motto PERANG MELAWAN TEROR.

Obama tak mau lagi, atas nama PERANG MELAWAN TEROR maka AS memamerkan arogansi kekuasaan dan terus bertindak sewenang-wenang. Dan tindakan sewenang-wenang itu, patut dapat diduga ditiru juga oleh segelintir orang yang selama ini dilatih dan diberi kemudahan dalam segala peningkatan kemampuan diri masing-masing dalam hal penanganan terorisme di di negara-negara tertentu.

Ya bayangkan saja, sepanjang Bush berkuasa (pasca serangan teroris 11 September 2001 di AS), begitu atraktif dan agresif sekali terjadi peledakan-peledakan bom di beberapa negara.

Termasuk di Indonesia.

Waduh, seperti langganan saja. Periode 2000, 2002, 2003, 2004 dan 2005 Indonesia terus mendapatkan serangan peledakan bom dalam kategori HIGH EXPLOSIVE.

Katanya sudah pada dilatih oleh AS dalam menangani terorisme, yang terjadi masalah semakin merajalelanya tindak pidana terorisme itu di Indonesia.

Yang mau dikatakan disini adalah Presiden Obama bukan cuma sekedar wacana dalam kaitan pemulihan metode penanganan teror yang sempat menjadi sangat menyimpang pada era pemerintahan Presiden Bush.

Ada “action” atau tindakan nyata dari Presiden Obama yang benar-benar sangat mengagumkan. Dia lakukan sesuatu sesuai dengan otoritas dan kewenangan yang dapat digunakannya sebagai seorang Kepala Negara.

Bagaimana mungkin, agen-agen rahasia CIA itu dapat diseret ke muka hukum jika ternyata pada kenyataannya ada surat tertulis yang keluar dari GEDUNG PUTIH berisi perintah resmi untuk menginterogasi para tahanan terorisme lewat metode yang kejam tadi ?

Para agen rahasia CIA itu tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dari perintah atasan. Ya, mereka tidak melakukan yang disebut sebagai in sub ordiansi.

Kalau para agen rahasia CIA itu dituntut dan diseret misalnya ke muka hukum, maka patut dapat diduga para agen rahasia ini bisa berbalik menuntut jika ternyata tugas-tugas yang sudah mereka laksanakan dianggap sebagai perbuatan melawan hukum.

Lain halnya, kalau misalnya ada petugas yang berinisatif menyiksa sendiri para tahanan itu. Tetapi yang terjadi disini adalah kebalikannya. Ada perintah resmi dari Gedung Putih, lewat memo-memo rahasia yang dibongkar dan dibuka oleh Pemerintahan Presiden Obama.

Jadi, salah besar kalau dikatakan bahwa Presiden Obama sangat mengecewakan kelompok pembela hal sipil (ACLU) tadi.

Kami tidak sependapat.

Presiden Obama sudah melakukan hal yang benar dan terpuji. Ia justru harus didukung untuk terus melakukan PERBUAHAN atau CHANGE sehingga AS dapat menjadi negara adidaya yang sangat mengagumkan.

Jadi, janganlah ada yang asbun menuding bahwa seolah-olah Obama mengecewakan dan tidak memahami duduk persoalan.

Pahami dong duduk persoalannya. Sadari apa yang menjadi esensi dari kebijakan-kebijakan AS.

Presiden Obama , kini seakan menjadi sebuah alunan melodi yang terdengar indah di telinga siapa saja di belahan dunia ini, saat dengan kesungguhannya Obama membenahi apapun juga yang selama ini memang kurang baik atau tidak pantas untuk menjadi bagian dari sistem pemerintahan sebuah bangsa yang terhormat bernama AMERIKA SERIKAT.

Meredam dan memerangi terorisme, bukan dengan cara mengobarkan secara lebih parah mata api perlawanan dari pelaku-pelaku terorisme itu sendiri atau orang-orang tertentu yang berkedok sebagai “teroris” padahal justru berniat untuk “cari makan” atau menggali harta karun yang bisa dikeruh dari rusaknya nilai-nilai peradaban manusia akibat dihajar oleh kekejaman terorisme.

Tak benar jika disebut Obama mengecewakan.

Yang benar adalah Presiden Obama sudah melakukan sesuatu yang benar seturut dengan kebijakan negara yang kini dipimpinnya, agar kebijakan itu tidak menimbulkan guncangan stabilitas (terutama didalam negara mereka sendiri).

Ke depan diharapkan, Presiden Obama sungguh serius untuk mengendalikan sebuah perangkat didalam sistem pemerintahannya agar jangan lagi ada keputusan, kebijakan atau tindakan yang menyalahi ketentuan hukum atau aturan yang berlaku dalam hal penanganan terorisme.

Juga diharapkan, agar Presiden Obama sungguh serius untuk menggunting secara cepat kesengajaan pihak tertentu di berbagai negara asing yang sengaja mengeruk keuntungan dari kocek anggaran AS selama bertahun-tahun terakhir ini atas nama penanganan terorisme.

Singkirkan dan hindari semua benalu-benalu yang cara hidupnya sudah menggerogoti AS dan negara yang menjadi basis gerakan oknum aparat di INDONESIA misalnya, yang patut dapat diduga menjadikan isu terorisme sebagai komoditi dagangan dan ladang emas yang mendapatkan seribu satu macam keuntungan.

Dukung Obama dalam membenahi semua penyimpangan dan ketimpangan terkait penanganan terorisme.

Dengan semua respek yang kita punya maka ketegasan dan keberanian Presiden Obama untuk melakukan pembenahan yang bersifat menyeluruh itu sangat pantas untuk dihargai dan didukung sepanjang masa pemerintahan Obama.

You are the best, Mr President !

(MS)

%d blogger menyukai ini: