Beranda > Uncategorized > Perlunya Regenerasi POLRI Tapi Jangan Pilih Tri Brata 2 Yang Patut Dapat Diduga MAFIA & Beking Narkoba

Perlunya Regenerasi POLRI Tapi Jangan Pilih Tri Brata 2 Yang Patut Dapat Diduga MAFIA & Beking Narkoba

25/07/2009

https://i2.wp.com/data5.blog.de/media/151/3391151_fcc4ca4e04_s.jpg

DIMUAT JUGA DI WWW.KATAKAMI.COM

Jakarta 25/7/2009 (KATAKAMI) Walau tak mendukung dan samasekali tak memilih pasangan SBY – Boediono, ketetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang untuk sementara ini menetapkan pasangan nomor dua Pilpres 2009 ini sebagai pemenang pertama maka … baiklah, kami ikut mengucapkan SELAMAT.

Dengan catatan, ucapan SELAMAT itu akan kami tarik kembali bila ternyata di kemudian hari terdapat bukti-bukti yuridis yang sangat signifikan untuk membuka tabir bahwa patut dapat diduga ada KECURANGAN fatal dalam Pilpres 2009.

Lalu, jika misalnya selama 5 tahun ke depan SBY berkuasa kembali, satu pertanyaan sederhana di bidang penanganan NARKOBA. Sejauh mana keseriusan itu ? Hanya di bibir saja alias OMDO atau OMONG DOANG ?

Atau, memang mau secara sungguh-sungguh menegakkan hukum yang berkeadilan ?

Menjelang dilakukannya REGENERASI POLRI sebab Wakapolri Komjen Makbul Padmanegara (Angkatan 1974) akan segera memasuki masa pensiun bulan Desember 2009 ini,  salah seorang yang sangat tidak layak dan benar benar tidak pantas dinominasikan adalah KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE yang saat ini menjabat sebagai Kalakhar Badan Narkotika Nasional (BNN).

https://i2.wp.com/www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20090317_052315_makbul.jpg

Makbul memang sudah saatnya lengser keprabon. Pengabdian tidak mengenal batas ruang dan waktu. Tetapi perjalanan waktu itu sendiri jugalah yang mengharuskan Makbul memberikan jalan dan kesempatan bagi terciptanya REGENERASI POLRI.

Bahkan kalau perlu, tak perlu menunggu sampai masa pensiunnya tiba di penghujung tahun 2009.

Kandidat terkuat dan yang terpantas untuk dipertimbangkan adalah PERWIRA TINGGI yang bersih, jujur, berintegritas tinggi, kapabel, taat beragama, cakap dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai abdi negara, bisa bekerjasama dengan atasan langsung yaitu KAPOLRI Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan LOYAL kepada NEGARA.

https://i1.wp.com/i192.photobucket.com/albums/z195/sparkletags4/import2/graphics/Mafia-Mobsters/Mafia-Wars-Power.gif

Jika kriterianya seperti itu, maka dalam hitungan detik atau menit nama yang akan tergusur adalah Komisaris Jenderal GORIES MERE (1976).

Patut dapat diduga, rekam jejak perwira tinggi FLORES ini sangat hitam dan buruk di bidang narkoba.

Selain patut dapat diduga pernah mencuri barang bukti sabu seberat 13 kg beberapa tahun lalu, melakukan pembunuhan atas nama penegakan hukum terhadap bandar dan mafia narkoba Hans Philip tahun 2005, fakta lain yang sangat memberatkan adalah dugaan sebagai BEKING BANDAR NARKOBA LIEM PIEK KIONG (MONAS).

Kami hadirkan beberapa tulisan yang menjadi dokumentasi KATAKAMI periode bulan Desember 2008 sampai April 2009.

Baca selengkapnya di kedua BLOG KATAKAMI di WordPress, tulisan dengan judulCongrats SBY ! Prioritaskan Regenerasi POLRI, Jangan Pilih Tri Brata 2 Yang Patut Dapat Diduga MAFIA & Beking Bandar Narkoba — dimana kelima lampiran tulisan kami rangkum dan dijadikan dalam satu bagian. Atau dapat anda baca secara terpisah dari masing-masing judul di RUBRIK BREAKING NEWS KATAKAMI.

Dari semua dokumentasi tulisan itu, akan sangat jelas terlihat bagaimana sisi KEMAFIAAN yang patut dapat diduga sangat melekat erat dan kuat dalam diri Komisaris Jenderal Gories Mere.

Ayo SBY, bersama kita bisa untuk MELANJUTKAN perang melawan narkoba. Negara tidak boleh kalah terhadap narkoba, beking dan bandar-bandarnya.

Ayo SBY, katakan pada rakyat Indonesia “LANJUTKAN” yaitu bahwa pemerintahan SBY sebenarnya bisa untuk konsisten melakukan penegakan hukum.

Jangan ragu.

Copot, tangkap, adili dan semoga secara tegas MAJELIS HAKIM menjatuhkan VONIS MATI kepada Komisaris Jenderal Gories Mere dan seluruh anggota sindikatnya jika memang terbukti bersalah di muka hukum.

http://ucsbglobalvoices.files.wordpress.com/2009/03/death-penalty.jpg

Ya, jatuhkan VONIS MATI !

Dan bersihkan struktur organisasi POLRI dari siapapun juga yang patut dapat diduga hanya menjadi PARASIT-PARASIT atau KUMAN-KUMAN berbahaya yang dampak atau keberadaannya cuma menjadi beban dan aib yang sangat memalukan.

Jangankan untuk menjadi WAKAPOLRI, hanya sekedar melanjutkan tugas dan jabatannya sebagai Kalakhar BNN sajapun sangat tidak pantas sekali jika patut dapat diduga memang berkutat dalam kubangan nista bernama perdagangan dan sindikat kemafiaan NARKOBA.

Copot, tangkap, adili dan berikan VONIS MATI kepada beking bandar serta sindikat narkoba yang bersembunyi di balik seragam aparat penegak hukum. (MS)

https://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gifhttps://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gifhttps://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gif

https://i0.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Alphabets/Arrows/1.gif

Satu Pertanyaan Untuk Seorang SBY, Mengapa Patut Dapat Diduga Anda Melindungi Oknum Perwira Tinggi Yang Dikabarkan Jadi BEKING BANDAR & MAFIA Narkoba

https://i2.wp.com/www.wikiberita.com/wp-content/uploads/sby-dalem2.jpg

Jakarta (DOKUMENTASI KATAKAMI BULAN APRIL 2009) Ketika sekarang diramaikan kontroversi kasus Jaksa Ester dan rekannya yang dituding terlibat dalam penggelapan 300 butir pil ekstasi, kami merasa tak perlu ikut larut dalam euforia itu. Ada kasus yang jauh lebih berat dan mengerikan dalam penanganan narkoba di negara ini.

Tetapi patut dapat diduga, oknum Perwira Tinggi yang menjadi beking utama dari bandar narkoba Liem Piek Kiong pemilik 1 JUTA pil ekstasi yang ditangkap di Apartemen Taman Anggrek bulan November 2007 malah dilindungi oleh PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO. Ada apa dengan dirimu, hai Susilo Bambang Yudhoyono ?

Sungguh-sungguh kami mohon maaf jika tak berkenan untuk mempercayai bahwa pemerintahan anda SEMPURNA dalam menjalankan semua tugas-tugas negara.

Maaf Bung, bagaimana dengan sinyalemen bahwa patut dapat diduga PRESIDEN SBY melindungi Komisaris Jenderal Gories Mere yang dikabarkan atau patut dapat diduga menjadi BEKING UTAMA bandar narkoba Monas.

Mengapa setiap akan mengikuti Pemilu Pilpres, patut dapat diduga SBY selalu berdekatan dengan orang yang bermasalah ?

Contoh nyata saja, sebelum pelaksanaan Pemilu Pilpres 2004 lalu misalnya. SBY terus didampingi dan dibantu oleh makelar kasus ARTALYTA SURYANI alias Ayin yang kini mendekam di penjara dalam kasus suap USD 660 ribu kepada mantan Jaksa Urip Tri Gunawan.

Dan menjelang Pilpres 2009 ini, patut dapat diduga SBY meminta pertolongan dari Komisaris Jenderal Gories Mere dalam hal kecanggihan Informasi dan Teknologi (IT).

Itulah sebabnya, KATAKAMI tak akan pernah melepaskan fokus perhatian yang paling utama pasca pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 bahwa patut dapat diduga ada KEJAHATAN di bidang IT yang menguntungkan pihak tertentu dalam meraih perolehan suara yang sangat dominan.

Patut dapat diduga, pihak tertentu yang menguasai bidang IT ini memang sudah mendapatkan pelatihan-pelatihan dan pengetahuan tertinggi di bidang IT dari Pihak Asing yang hendak membantu INDONESIA untuk menangani masalah terorisme.

Tidak akan ada yang bisa menandingi kemampuan bidang IT yang dikuasai oleh kelompok tertentu didalam INTERNAL MABES POLRI.

Dan pihak tertentu yang patut dapat diduga menguasai bidang IT secara SEMPURNA itu adalah kelompok KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE.

https://i0.wp.com/www.republika.co.id/images/news/2008/09/20080921003646.jpg

Padahal, sejak bulan Desember 2008 lalu MABES POLRI sedang terus mengusut kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS. Dari 9 orang yang ditangkap di Apartemen Taman Anggrek, hanya 3 orang saja yang dilimpahkan berkasnya ke tingkat Penuntutan KEJAKSAAN oleh para Penyidik BARESKRIM POLRI.

Sedangkan yang 6 orang lagi, patut dapat diduga DILOLOSKAN dari jerat hukum pada kasus Taman Anggrek. Dan dilepaskannya Bandar Narkoba MONAS ini adalah untuk yang ketiga kalinya.

Bagaimana mungkin, ada bandar narkoba pemilik 1 JUTA PIL EKSTASI justru diloloskan dari JERAT HUKUM ?

Dan inilah kelemahan utama dari KEJAKSAAN AGUNG dalam era kepemimpinan Hendarman Supandji yaitu patut dapat diduga sengaja mendiamkan pelanggaran hukum yang semacam ini. Tetapi kini, KEJAKSAAAN AGUNG yang terkena imbasnya yaitu ketika ada oknum Jaksa yang dituding terlibat dalam penggelapan 300 butir EKSTASI maka semua seakan heboh.

Bahkan hari Selasa (14/4/2009) kemarin, KEJAKSAAN AGUNG sampai didemo.

KEJAKSAAN AGUNG harus pro aktidf meminta dan mendesak MABES POLRI untuk menangkap 6 BANDAR NARKOBA yang bertaraf sindikatnya bertaraf internasional.

Tangkap bandar narkoba MONAS !

Tangkap 5 orang bandar narkoba lainnya dalam sindikat MONAS yang juga diloloskan dari jerat hukum !

Yang harus diketahui dan dipertanyakan oleh rakyat INDONESIA mengapa patut dapat diduga PRESIDEN SBY melindungi seorang beking bandar narkoba ?

Ada apa dengan SBY ?

Keuntungan apa yang patut dapat diduga dikejar SBY dari oknum bawahan yang patut dapat diduga menjadi BEKING UTAMA BANDAR NARKOBA yang klasifikasinya lebih terpat disebut MAFIA NARKOBA ?

Mohon maaf Saudara Presiden, hendaklah kiranya ANDA menghormati proses hukum di negara ini karena patut dapat diduga ANDA melindungi orang per orang serta kelompoknya yang memang terlibat dalam SINDIKAT KEMAFIAAN NARKOBA INTERNASIONAL !

Mohon maaf Saudara Presiden, tahukah ANDA bahwa patut dapat diduga KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE juga terlibat dalam kasus pencurian barang bukti 13 kg sabu sabu beberapa tahun lalu ?

Mohon maaf Saudara Presiden, tahukah ANDA bahwa patut dapati diduga KOMISARIS JENDERAL GORIES MERE adalah dalang penembakan misterius terhadap bandar dan mafia narkoba HANS PHILIP yang ditembak di BOGOR beberapa tahun lalu ? Mengapa dalam penanganan narkoba, diberlakukan tindakan main hakim sendiri yaitu menghilangkan nyawa orang lain ?

Mohon maaf Saudara Presiden, hendaknya ANDA menyadari tentang pentingnya penegakan hukum di negara ini dan semua itu bisa menjadi terhambat karena patut dapat diduga ANDA melindungi oknum tertentu yang disebut sebagai BEKING BANDAR & MAFIA NARKOBA kelas atas.

Jangan pernah ada siapapun di negara ini yang merasa bahwa dirinya BERHAK menginjak-injak hukum. Tidak bisa, HUKUM harus ditegakkan sampai langit runtuh sekalipun.

Jangan pernah ada SIKAP AROGAN & OTORITER karena patut dapat diduga PRESIDEN SBY melakukan sikap-sikap semacam itu sehingga MABES POLRI menjadi terhambat kemandirian serta profesionalismenya dalam melakukan penegakan hukum.

Jangan ada yang merusak profesionalisme POLRI !

Jangan ada yang menjajah atau mengobrak-abrik kemandirian dan kegemilangan prestasi POLRI secara INSTITUSI dalam penegakan hukum, khususnya pemberantasan narkoba.

Barangkali Presiden SBY kurang paham atau lupa, maka baiklah kami beritahukan bahwa bandar dan mafia narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS adalah pemilik 1 JUTA PIL EKSTASI saat di tangkap di Apartemen Taman Anggrek.

Patut dapat diduga karena Komisaris Jenderal GORIES MERE direkrut menjadi TIM SUKSES pihak tertentu maka oknum perwira tinggi ini aman-aman saja dari proses hukum yang hendak ditegakkan.

Presiden Barack Obama dan Jajarannya, terutama CIA dan FBI, harus segera diberitahu bahwa sejumlah personel POLRI yang mendapatkan keistimewaan dari AMERIKSA SERIKAT dalam mendapatkan seluruh PELATIHAN di bidang IT untuk menunjang kinerja dalam pemberantasan TERORISME, patut dapat diduga telah menyalah-gunakan seluruh PENGETAHUAN & KEMAMPUAN mereka di bidang IT untuk kepentingan yang bertolak-belakang dari tujuan semula.

Presiden Barack Obama dan Jajarannya, terutama CIA dan FBI, harus segera diberitahu bahwa sejumlah personel POLRI yang mendapat bantuan luar biasa dari AMERIKA SERIKAT dalam masa pemerintahan Presiden BUSH untuk misi pemberantasan terorisme, patut dapat diduga telah melakukan KEJAHATAN KEMANUSIAAN, teror dan penindasan terhadap JURNALIS / MEDIA MASSA yang konsisten membongkar dugaan pelanggaran hukum seputar masalah narkoba.

Presiden Barack Obama dan Jajarannya, terutama CIA dan FBI, harus segera diberitahu bahwa patut dapat diduga PRESIDEN di INDONESIA melindungi oknum perwira tinggi POLRI yang dikabarkan menjadi beking dari bandar narkoba MONAS. Padahal selama bertahun-tahun, patut dapat diduga telah melakukan kebohongan publik terkait tabir gelap peledakan bom didepan Kedubes Australia tanggal 9 September 2004.

Presiden Barack Obama juga harus diberitahu agar segera memeriksa data dan laporan keuangan, patutkah dapat diduga PEMERINTAHAN BUSH memberikan sejumlah uang kepada oknum Perwira Tinggi POLRI agar membiarkan teroris HAMBALI diserahkan oleh Pemerintah Thailand kepada PEMERINTAHAN BUSH pada bulan Agustus 2003 ?

CHANGE, ya … Presiden Obama telah berhasil meyakinkan, mengajak dan secara riil membawa bangsa serta rakyat AS kepada masa yang penuh PERUBAHAN. Dengan semangat perubahan itu, Presiden Obama harus mendalami indikasi tertentu yang sangat mengerikan bahwa patutkah dapat diduga peledakan bom di Hotel JW Marritor Jakarta (Agustus 2003) adalah rekayasa segelintir oknum untuk memudahkan dan memberi jalan bagi Pemerintah Thailand menyerahkan HAMBALI kepada PEMERINTAHAN BUSH ?

Perbedaan waktu antara peledakan bom Marriot dan penyerahan HAMBALI ke AS hanya kurang seminggu saja ! (Kami sudah mengulas dan menyoroti masalah ini lewat tulisan berjudul, “ODE UNTUK PRESIDEN OBAMA YANG MENGHAPUSKAN MOTTO KALIMAT PERANG MELAWAN TEROR dan bisa dibaca di WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM).

Presiden Barack Obama dan Jajarannya, terutama CIA dan FBI, harus bersikap tegas, penuh penghormatan terhadap hukum, HAM dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga jika memang ada KOLEGA dari negara lain yang patut dapat diduga melakukan pelanggaran hukum dengan menjadi BEKING BANDAR & MAFIA NARKOBA, melakukan KEJAHATAN KEMANUSIAAN dan pelanggaran HAM terhadap JURNALIS maka AS tidak akan memtolerir tindakan yang brutal seperti ini.

Artinya, coret nama oknum kolega yang patut dapat diduga menjadi ancaman paling serius terhadap keberadaban dunia !

http://snhadi.files.wordpress.com/2009/07/logo-polri4.jpg

Oleh sebab itu, semua pihak harus memberikan dukungan moril yang tinggi bagi POLRI untuk bertugas secara baik dan benar. Jangan cuma di bibir saja bahwa POLRI diminta NETRAL, tetapi patut dapat diduga diintervensi.

POLRI harus NETRAL dan tidak boleh ada satupun juga yang terlibat dalam POLITIK PRAKTIS.

Memalukan dan sangat memprihatinkan jika ada pihak manapun juga yang MENJAJAH profesionalisme POLRI dan menodai INSTITUSI yang membanggakan ini dengan sikap-sikap yang mencari keuntungan diri sendiri.

Jadi, jangan lindungi siapapun yang bersalah !

Sedangkan besan saja dibiarkan menjalani proses hukum. Apalagi, oknum Perwira Tinggi yang patut dapat diduga adalah BEKING UTAMA BANDAR NARKOBA yang sangat berbahaya.

TNI / POLRI jati dirinya adalah menjadi bagian dari masyarakat atau rakyat INDONESIA, sehingga jika patut dapat diduga ada seorang PRESIDEN sekalipun yang menjerumuskan TNI / POLRI agar tidak netral dan atau diperintahkan berbuat yang SALAH (termasuk menindas MEDIA MASSA), maka TNI / POLRI harus berani menolak.

Dan kami tidak takut kepada siapapun yang patut dapat diduga seenaknya saja menginjak dan mencacik-cabik penegakan hukum di negeri ini. Masak masih muka muka di hadapan rakyat INDONESIA jika patut dapat diduga ada yang haus terhadap kekuasaan dan kalap untuk menghalalkan segala cara guna membentengi kekuasaan itu.

Sportif dong, Boss !

https://i1.wp.com/www.indonesiaontime.com/images/stories/foto/headline/bambang_danuri3_081011.jpg

Yang harus diperintahkan segera adalah agar MABES POLRI mencopot oknum perwira tinggi bernama GORIES MERE karena patut dapat diduga menjadi BEKING BANDAR NARKOBA MONAS !

Perintahkan untuk memeriksa oknum perwira tinggi bernama GORIES MERE karena patut dapat diduga melakukan rekayasa dalam kasus peledakan bom di Hotel JW Marriot Jakarta (Agustus 2003) dan di depan Kedubes Australia (September 2004).

Perintahkan untuk mencopot oknum perwira tinggi yang patut dapat diduga melakukan penyadapan ilegal dan berbagai kejahatan kemanusiaan, serta pelanggaran hukum yang sangat memalukan di bidang pemberantasan narkoba.

Rakyat Indonesia akan menjadi saksi, apakah ada oknum perwira tinggi POLRI yang patut dapat diduga menjual dirinya kepada pihak tertentu yang berusaha memenangkan PEMILU 2009 agar terbebas dari upaya penegakan hukum di negeri ini.

(MS)

https://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gifhttps://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gifhttps://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gif

https://i0.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Alphabets/Arrows/2.gif

Terpidana Mati CECE Jual Beli Narkoba Dari Dalam Rutan ? Cape Deh ! SBY – JK – BHD Saja Terkesan Tidak Berani Tuh Menindak Beking Bandar Narkoba MONAS Cece Isteri Bandar Narkoba MONAS yang telah mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim

JAKARTA (DOKUMENTASI KATAKAMI APRIL 2009) Harusnya tulisan ini akan kami muat Jumat (3/4/2009) malam tetapi patut dapat diduga ada sejumlah pihak langsung “panik” saat mengetahui dari deteksi alat penyadap atau intercept mereka terhadap nomor telepon yang menjadi koneksi saluran internet kami, sudah membaca pemberitaan di sejumlah media online bahwa CECE “sang terpidana mati” alias NYONYA MONAS tertangkap basah jual beli narkoba dan dikendalikan dari dalam penjara.

Sampai seperti itu kepanikan terhadap semua “gerak gerik” tugas jurnalistik KATAKAMI, entahlah.

Dan kami memang tak gr. Tapi justru lebih “bangga”. “Oh, media kami sangat diperhitungkan rupanya oleh begitu banyak perwira-perwira tinggi dari sejumlah INSTANSI karena KATAKAMI termasuk media yang tajam dan tak mau menjilat maka aksi pengrusakan KATAKAMI ini “diaminkan” saja sebagai riak-riak kecil dalam proses demokratisasi.

Alamak, ngeri kali kepura-puraan itu ! Terlalu munafik dan sangat pantas untuk dikecam.

Kabar tentang diperiksanya petugas Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur oleh APARAT KEPOLISIAN merupakan kabar yang antiklimaks. Pemeriksaan itu disebabkan terbongkarnya aksi jual beli narkoba dari dalam penjara Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur, yang melibatkan terpidana mati JET LI alias CECE alias isteri bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas.

Monas, bandar pemilik 1 Juta Pil Ekstasi yang ditangkap bersama anggotanya di Apartemen Taman Anggrek Jakarta Barat (November 2007), patut dapat diduga bisa BEBAS MERDEKA karena ia diloloskan untuk yang ketiga kalinya dari jerat hukum oleh oknum perwira tinggi yang menjadi beking utamanya.

Kami bilang juga apa, sudah sepantasnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla memerintahkan kepada Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri untuk mencopot Kalahkar Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Gories Mere.

Tidak ada rasa kebencian secara personal tetapi sejumlah masalah “antri” untuk diperiksakan kepada perwira tinggi asal Flores tersebut. Kami mengenalnya tetapi karena patut dapat diduga ada “keterlibatan” menyangkut kasus bandar narkoba MONAS maka perlu dilakukan pemeriksaan. Untuk menjaga independensi dan kejernihan Tim Pemeriksa karena menyangkut seorang PERWIRA TINGGI yang pangkatnya sudah sama dan setara dengan IRWASUM POLRI sebagai Ketua TIM PERIKSA, maka mau tak mau harus dibebas-tugaskan dari jabatannya saat ini.

Dan CECE adalah isteri dari bandar narkoba MONAS. Sehingga, semua itu memiliki benang merah yang tak bisa dipungkiri lagi. Situasi ini semuanya bisa diilustrasikan seperti lingkaran setan karena apapun permasalahan menjadi terkait dan patut dapat diduga serba berhubungan antara satu masalah dengan masalah yang lain.

Jadi kalau ada yang bertanya, apa hubungannya desakan pemeriksaan terhadap perwira tinggi Flores tersebut dengan kabar tentang sindikat jual beli narkoba dari dalam Rutan Pondok Bambu yang melibatkan CECE, isteri dari bandar narkoba MONAS ?

Ya ada dong hubungannya, gimana sih ?

Cermati, siapa yang terindikasi kuat sebagai bandar utama perdagangan narkoba dalam kehidupan CECE ? Jawaban MONAS. Lalu, siapa oknum perwira tinggi yang patut dapat diduga membekingi mereka ?

Mengapa CECE yang sudah mau “MAMPUS” mendekati ajal masih sangat kurang ajar melakukan perdagangan gelap narkoba dan mungkinkah isteri dari seorang bandar utama narkoba di tingkat dunia semacam MONAS bisa lolos dari pengamatan APARAT KEPOLISIAN, dalam hal ini BNN misalnya ?

Lalu, cermati apa jabatan dari KOMJEN GORIES MERE ? Jawaban adalah Kalakhar BNN. Disitu-situ juga berputar semua kesimpang-siuran permasalahan MONAS.

Baiklah, kami akan menceritakan kepada anda temuan di lapangan yang sudah mampir ke “telinga” para wartawan senior yang biasa meliput di bidang politik, hukum dan keamanan.

Dan mohon maaf untuk MABES POLRI, khususnya jajaran BNN karena terpaksa tabir gelap itu akan semakin kami buka.

Tanggal 30 Desember 2008 lalu, Kapolri Jenderal BHD menggelar jumpa pers di Ruang RUPATAMA Mabes Polri untuk menyampaikan evaluasi akhir tahun. Seperti biasa, Kapolri didampingi oleh sejumlah Pejabat Teras MABES POLRI. Termasuk diantaranya adalah Kalakhar BNN Komjen Gories Mere.

Saat jumpa pers itu belum dimulai, KATAKAMI “berdiskusi” secara serius dengan sejumlah jurnalis senior. Diantaranya dari sebuah televisi swasta nasional yang beberapa sebelumnya berhasil mengadakan wawancara khusus dengan Cece, isteri dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS.

Ketika itu, kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bandar narkoba Monas sedang hangat-hangatnya mencuat ke permukaan. Terutama karena TIM IRWASUM POLRI sudah memulai pemeriksaan terhadap sejumlah PENYIDIK POLRI. Baik di Direktorat Narkoba POLDA METRO JAYA, maupun di BARESKRIM POLRI.

Dari diskusi yang sangat “serius” dengan rekan jurnalis dari sebuah televisi swasta nasional tadi, diperoleh informasi bahwa Cece begitu terpukul atas permainan kotor yang mengorbankan dirinya. Sementara sang suami yaitu bandar narkoba MONAS lolos dari jerat hukum.

Ilustrasi gambar suasana Rutan Pondok Bambu (Foto : KOMPAS)

Cece memang mendapatkan vonis mati dari majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada bulan September 2008. Dan ia tak sendiri menerima vonis mati itu karena ada 2 anggota sindikat MONAS yang ditangkap bersama-sama di Apartemen Taman Anggrek (November 2007) yang juga mendapatkan vonis mati.

Berdasarkan perbincangan santai antara Cece dengan sebuah media yang melakukan wawancara khusus dengan terpidana mati ini di Rutan Pondok Bambu, tercetus sebuah pengakuan bahwa sepanjang berada didalam Rutan Pondok Bambu Cece bersahabat sangat baik dengan seorang artis muda belia yang juga sedang ditahan di Rutan tersebut.

Kita sebut saja si artis ini dengan julukan, “Elpe Si Pembunuh”

Ada asas praduga tidak bersalah atau presumption of innocent yang harus kami hormati. Memang, dalam kasus yang melibatkan artis muda belia itu majelis hakim telah menetapkan bahwa si artis ini terbukti bersalah melakukan pembunuhan terhadap seorang pria bersuku Tapanuli.

Nah, saat menghadiri jumpa pers KAPOLRI BHD untuk menyampaikan evaluasi akhir tahun itulah, kami sudah mendapatkan informasi sedikit demi sedikit perihal kasus bandar narkoba MONAS.

sketsa wajah artia

Dan point terpenting yang kami garis-bawahi adalah persahabatan yang erat dan rapat antara CECE dengan artis muda belia alias Elpe Si Pembunuh.

Bagaikan sedang bermain PUZZLE, potongan-potongan cerita seputar kasus bandar narkoba MONAS itu mulai dapat digabungkan satu persatu.

Tidak lama setelah kami mendapatkan informasi bahwa CECE bersahabat akrab dengan artis muda belia tadi, seorang jurnalis senior lainnya memberikan informasi yang tak kalah serunya bahwa seorang wartawan senior di media tempatnya bekerja menceritakan sebuah peristiwa yang unik bahwa ada seorang Akuntan diundang untuk bertemu di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur. Akuntan itu yang bercerita langsung kepada wartawan senior yang bekerja di media yang sama dengan si wartawan senior yang bercerita kepada KATAKAMI.

Anda mau tahu, siapa yang ditemui di Rutan tersebut ?

Akuntan tadi diundang untuk bertemu dengan artis muda belia tadi alias “Elpe Si Pembunuh”. Oleh karena informasi ini masih bersifat mentah maka kami tak bisa menguraikan secara rinci. Tetapi patut dapat diduga, ada bisnis jual-beli narkoba yang dikendalikan dari dalam Rutan Pondok Bambu. Dan patut dapat diduga, bisnis kotor itu melibatkan CECE dan artis muda belia tadi sebagai tangan kanannya dalam mengelola keuangan.

Mengapa bisa kami sebutkan dugaan semacam ini ? Ini bukan asbun atau asal bunyi. Tetapi, akuntan yang diundang bertemu tadi memang ditawari untuk menjadi semacam Auditor terhadap rekening keuangan atas nama si artis muda belia “Elpe Si Pembunuh”.

Bayaran yang ditawarkan tidak tanggung-tanggung yaitu M-M-an atau mencapai miliaran rupiah (kami tidak akan sebut angka pastinya karena informasi ini belum terkonfirmasi).

Dari sejumlah potongan yang kami terima berturut-turut itulah muncul sebuah analisa yang mendalam bahwa memang patut dapat diduga ada sindikat narkoba yang dibangun dan dikendalikan dari balik jeruji besi.

Kapolri Jenderal Sutanto saat sidak ke apartemen Taman Anggrek (Nov 2007) yang menangkap MONAS Cs

Patut dapat diduga, kondisi ini memang dibiarkan oleh Jajaran POLRI, khususnya BNN.

Pengakuan Cece kepada seorang wartawan bahwa sepanjang berada di Rutan Pondok Bambu, ia bersahabat akrab dengan artis muda belia tadi, menjadi sangat berguna bila digabungkan dengan informasi lainnya bahwa si artis muda belia tadi mengundang seorang Akuntan untuk menjadi semacam “Manajer Keuangan” guna memeriksa uang masuk dan keluar ke dalam rekening si artis muda belia. Wah hebat sekali, si Elpe mendapat vonis pidana kurungan kurang dari 15 tahun (vonis yang pasti untuk si artis tidak akan kami cantumkan karena kami meman harus mengaburkan informasi untuk menjaga identitasnya).

Tak berhenti sampai disitu, serba serbi berita dari sejumlah tayangan infotaiment bila mengisahkan kegiatan artis dari balik jeruji besi maka dapat diketahui gambaran bahwa belakangan memang si artis muda belia yang tega menewaskan kekasihnya hanya untuk “NYOLONG” uang milik kekasihnya itu, bisa tiba-tiba berpenampilan “jet set”. Dia masuk ke dalam penjara saja karena menewaskan kekasihnya sendiri untuk bisa NYOLONG uang si kekasih tapi mengapa begitu masuk ke dalam penjara patut dapat diduga jadi milyuner. Jelas saja dia bisa disebut milyuner kalau untuk bayaran terhadap seorang Akuntan saja bayarannya M-M an alias miliaran. Tas yang digunakan bermerek dan kawat gigi (behel) yang digunakan artis ini juga bukan behel biasa.

Kejelian wartawan dalam menembus dan memperoleh informasi, tidak jauh beda dengan apa yang ditugaskan kepada Para Reserse POLRI. Sama-sama mencari informasi.

Hanya bedanya, wartawan lebih kuat lingkaran tugasnya dan atas nama penugasan sebagai jurnalis maka sumber informasi yang manapun akan mudah diterobos atau diminta buka suara.

Beda dengan POLISI karena masyarakat awam akan langsung ngeri duluan untuk mau buka suara.

Kami tidak sembarangan dalam menjalankan tugas sebagai bagian dari PERS NASIONAL.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri

Informasi seputar CECE tadi, sudah sejak AKHIR DESEMBER 2008 lalu kami sampaikan secara langsung kepada KAPOLRI Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan KEPALA BIN Sjamsir Siregar.

Bahkan, kami komunikasikan juga kepada Pihak KEJAKSAAN AGUNG, dalam hal ini Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAMPIDUM) Abdul Hakim Ritonga.

Khusus kepada KEPALA BIN Sjamsir Siregar, pada akhir DESEMBER 2008 lalu KATAKAMI menelepon beliau untuk menyampaikan kabar seputar CECE ini. Dan ada yang lucu dari perbincangan dengan KEPALA BIN.

Kepada BIN Sjamsir Siregar

“Opung (Sjamsir biasa dipanggil Opung, red), kenal gak dengan nama LP … ?” tanya KATAKAMI.

Saat berbicara dengan Sjamsir Siregar, nama artis muda belia itu kami sebutkan secara lengkap.

“Siapa itu, tak kenal aku” jawab Sjamsir.

“Artis Pung, tapi aku pun tak tahu artis apa kawan ini karena tak jelas main di sinetron apa. Tapi kasus yang menyebabkan dia masuk ke penjara itu karena membunuh pacarnya, orang Batak pacarnya itu” lanjut KATAKAMI.

“Terus kenapa ?” tanya Sjamsir Siregar.

“Jadi Pung ….” KATAKAMI menyampaikan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, disertai analisa-analisa sebagai seorang jurnalis yang memang mengkhususkan sebuah media analisa. Untuk apa itu disampaikan, agar ada pengawasan yang tajam menyoroti sindikat narkoba bertaraf internasional dibawah kendali MONAS, CECE dan oknum Perwira Tinggi yang menjadi BEKING UTAMA mereka.

Dan untuk apa disampaikan kepada PIHAK KEJAKSAAN AGUNG ? Agar KEJAKSAAN tidak tinggal diam tetapi PRO AKTIF mendesak POLRI untuk menangkap MONAS agar diajukan ke Pengadilan dalam kasus TAMAN ANGGREK, yang sudah lebih dulu menjatuhkan vonis mati kepada CECE (isteri MONAS) dan 2 orang rekannya.

Lalu selanjutnya kepada KAPOLRI BHD, pada akhir bulan DESEMBER 2008 lalu pun kami juga sudah menyampaikan secara langsung secara “rahasia” mengenai informasi yang sama. Dengan harapan agar Jajaran POLRI menindak tegas dan memotong mata rantai sindikat narkoba yang dikendalikan dari dalam Rutan Pondok Bambu.

Sehingga, kontribusi kami sebagai bagian dari PERS NASIONAL tidak cuma sekedar basa basi. Jaringan, lobi dan pengaruh yang kuat dibalik sepak terjang sebagai seorang jurnalis, akan sangat sia-sia jika tidak dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia.

Dalam hal ini, pernyataan dari Direktur IV Bareskrim POLRI Brigjen harry Montolalu yang disampaikannya lewat jumpa pers pada hari Jumat (3/4/2009) kemarin di Gedung BNN Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, menjadi seperti … maaf saja, dagelan !

Kepada para wartawan, Harry Montolalu mengatakan seperti ini seputar pemeriksaan kepada para Petugas Rutan pasca terbongkarnya jual beli narkoba yang dikendalikan dari dalam Rutan Pondok Bambu.

“Ya nanti kita akan mengarah ke sana. Apakah itu kelalaian internal, atau seperti apa, itu nanti,” ujar Direktur IV Bareskrim Mabes Polri Brigjen Harry Montolalu.

Niat Polri itu dipicu Cece, seorang anggota sindikat pengedar narkoba Apartemen Taman Anggrek dari jaringan internasional Malaysia, yang menjual narkoba dari balik jeruji menggunakan handphone. Di sel Cece ditemukan 4 unit handphone yang digunakan untuk memesan narkoba ke Verawati alias Vera, napi di rutan yang sama. Di sel Vera sendiri ditemukan 3 unit handphone yang digunakan Vera untuk memesan narkoba dengan orang di luar rutan.

“Menjadi keprihatinan kita mengapa di sejumlah LP masih beredar handphone dan beredar begitu banyak. Termasuk juga di Nusakambangan. Ini yang menjadi pokok persoalan,” imbuh Harry.

Seberapa jauh Direktorat Narkoba mengontrol peredaran narkoba di balik penjara?

“Kita sudah ada MoU dengan pihak LP. Dan setiap kali kita melakukan penggeledahan, pihak LP selalu welcome,” pungkas Harry.

Kita menjadi sangat prihatin terhadap kinerja BARESKRIM POLRI, dalam hal ini Direktorat Narkoba.

Tidak usah banyak omong yang patut dapat diduga hanya merupakan dalih untuk sekedar mencari pembenaran diri.

Dari hasil pemeriksaan TIM IRWASUM POLRI terhadap kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bandar narkoba MONAS, 5 orang Penyidik kelas bawah dan menengah sudah dinyatakan terbukti bersalah dan dicopot dari posisi.

Konglikong busuk yang membuat kelima orang Penyidik itu “disikat” habis karena mereka sengaja membuat MONAS tidak ikut diproses secara hukum dalam kasus Taman Anggrek. MONAS sengaja dibuatkan BAP yang tuduhannya sangat ringan yaitu kepemilikan sekitar 1 gram sabu saja.

Sedangkan CECE dan 2 orang lainnya yang ditangkap dalam kasus Taman Anggrek, dilimpahkan berkasnya kepada PIHAK KEJAKSAAN.

Dan yang sampai saat ini masih “gelap gulita”, patut dapat diduga ada sekitar 4 atau 5 orang lagi BANDAR NARKOBA yang ditangkap bersama-sama dengan Monas dan Cece di Taman Anggrek, juga diloloskan oleh oknum APARAT KEPOLISIAN.

Sebab, dalam kasus Taman Anggrek itu yang ditangkap bukan 4 orang. Tapi lebih dari itu !

Namun mengapa, yang dilimpahkan berkasnya ke Pihak Kejaksaan untuk kasus Taman Anggrek hanyalah Cece dan 2 rekannya. Lalu untuk MONAS, dibuatkan berkas berbeda sehingga dalam persidangan yang dijalani MONAS tahun lalu, ia tidak didakwa untuk kasus Taman Anggrek.

MONAS, hanya menjadi saksi untuk persidangan Cece dan 2 rekannya.

Sehingga, jangan heran kalau vonis untuk Monas hanya 1 tahun penjara. Sementara vonis untuk Cece dan 2 orang rekannya tadi adalah VONIS MATI.

Yang perlu diketahui publik disini adalah KATAKAMI melakukan wawancara eksklusif dengan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAMPIDUM) Abdul Hakim Ritonga seputar kasus bandar narkoba MONAS ini.

Jadi, maaf-maaf saja untuk Jajaran BNN dan Direktorat Narkoba BARESKRIM POLRI karena informasi yang kami terima bukan kelas abal-abal.

Saat KATAKAMI berada di ruang kerja JAMPIDUM pada bulan Desember 2008, Ritonga memerintahkan agar dicari dan dipanggil secepatnya pada saat itu juga Jaksa yang menangani kasus Taman Anggrek. Semua dipanggil. Baik yang menangani kasus Cece dan kedua rekannya. Maupun yang menangani kasus MONAS, dimana bandar narkoba kelas kakap ini dibuatkan kasus berbeda oleh PENYIDIK BARESKRIM POLRI.

Semua jaksa yang dipanggil itu, akhirnya bisa dikumpulkan di ruang kerja JAMPIDUM Ritonga.

Dari sanalah terkuak, bahwa setelah Pihak Kejaksaan terlihat semakin mencurigai ada rekayasa dibalik kasus Taman Anggrek yaitu bandar utamanya yang menjadi pemilik dari 1 juta PIL EKSTASI dalam kasus Taman Anggrek (MONAS), justru tidak diajukan ke muka hukum untuk kasus yang sebenarnya menimpa Monas.

Rekayasa dari Pihak BARESKRIM POLRI sudah terlihat dari awal.

Dan dari keterangan Jaksa yang menangani kasus Cece dan kedua rekannya, Jaksa mendapatkan sebuah “janji” dari salah seorang utusan BNN.

Apa janji itu ?

Mereka akan mengajukan kembali Monas ke muka hukum untuk kasus Taman Anggrek.

Sebab, sangat lucu tetapi sebenarnya menjadi tidak lucu, jika PENYIDIK POLRI tidak mengajukan MONAS sebagai tersangka dalam kasus Taman Anggrek.

Pada penangkapan di Apartemen Taman Anggrek itu, bandar utama yang disinyalir menjadi pimpinan sindikat dan pemilik atas 1 juta PIL EKSTASI itu adalah MONAS.

Lalu bagaimana mungkin, MONAS bias diloloskan dari jerat hukum untuk kasus Taman Anggrek ?

Sudahlah, jangan terlalu banyak rekayasa dan aksi apapun yang seolah-olah mau menutupi aib dan kebusukan dari aparat penegak hukum. Buka dong, jangan ditutupi untuk kepentingan menjaga nama baik KOPRS.

Nama baik apa, sebab kinerja BNN dan Bareskrim POLRI (khususnya Direktorat Narkoba) memang tidak baik.

Apa yang ditutup-tutupi ?

Sejak awal, sudah beredar informasi bahwa patut dapat diduga BEKING UTAMA bandar narkoba MONAS ini adalah oknum perwira tinggi POLRI sendiri.

Sehingga, sudah 3 kali berturut-turut MONAS diloloskan dari jerat hukum yang memungkinkan dirinya mendapat VONIS MATI.

Direktur IV Bareskrim POLRI, Brigjen Harry Montolalu sebaiknya hati-hati kalau berbicara kepada pers.

“Jangankan anda yang masih bintang 1, kepada Jenderal bintang 4 yang ada di MABES POLRI itupun sudah diberitahukan sejak akhir Desember 2008 bahwa patut dapat diduga ada sindikat bisnis jual beli narkoba yang dikendalikan CECE dan kelompoknya dari dalam jeruji besi”.

Jangan main-main kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia bila mendapatkan amanah jabatan !

Apa yang mau dikatakan oleh KAPOLRI BHD sekarang ?

Jangan katakan bahwa KAPOLRI BHD tidak tahu menahu soal indikasi jual beli narkoba dari dalam penjara terkait CECE.

Maaf Jenderal BHD, Jenderal ditempatkan dalam posisi jabatan sebagai KAPOLRI bukan untuk melindungi oknum anak buah yang patut dapat diduga memang berperilaku sangat kotor dan liar.

Lalu, kalau Brigjen Harry Montolalu seolah-olah terkejut karena didalam Rutan Pondok Bambu bisa masuk alat komunikasi HANDPHONE, kami sarankan sekali lagi agar hati-hati kalau berbicara kepada PERS.

Jangan asbun deh !

Coba, Brigjen Harry Montolalu pergi ke Rutan Brimob Kelapa Dua karena patut dapat diduga didalam Rutan itu semua TAHANAN memang “dibiarkan” mempunyai, membawa, memiliki dan menggunakan alat komunikasi HANDPHONE.

Jangan coba-coba mengatakan bahwa kami memfitnah atau mencemarkan nama baik POLRI.

Maaf Jenderal, siapapun Jenderalnya di POLRI, KATAKAMI mengetahui secara langsung bahwa patut dapat diduga kepemilikan dan penggunaan yang sangat bebas terhadap alat komunikasi HANDPHONE bagi para tahanan didalam Rutan tersebut.

Jangan pernah berpikir bahwa MEDIA MASSA adalah sarana untuk menyampaikan informasi blunder untuk mencari pembenaran diri. Tugas dari PERS NASIONAL adalah menyampaikan serta menyuarakan kebenaran dan keadilan.

Dalam kasus jual beli narkoba yang melibatkan CECE dari dalam Rutan Pondok Bambu, patut dapat diduga sudah diketahui KAPOLRI BHD sejak beberapa bulan lalu. Mengapa didiamkan ? Mengapa diendapkan ? Ada apa dibalik semua itu ?

Barang bukti kasus bandar narkoba LIEM PIEK KIONG alias MONAS, siapa beking utamanya ?

Tolong, jangan seperti inilah kinerja POLRI dalam menangani masalah narkoba. Jika patut dapat diduga, KOMJEN GM merupakan beking utama dari bandar narkoba MONAS, maka jangan dilindungi atau sengaja didiamkan saja karena selama ini tidak ada yang berani kepada perwira tinggi NTT tersebut.

Lalu, mau jadi apa INDONESIA, kalau patut dapat diduga PIMPINAN POLRI saja merasa takut dan sungkan kepada seorang bawahannya yang terindikasi menjadi beking utama bandar narkoba kelas kakap ?

CECE, mendapatkan vonis mati pada bulan September 2008. Dan pada bulan Desember 2008, sejumlah jurnalis senior sudah mendapatkan informasi bahwa patut dapat diduga CECE terlibat dalam bisnis jual beli narkoba.

Dan mustahil, BNN tidak memantau sepak terjang CECE pasca dijatuhkannya VONIS MATI.

Komisaris Jenderal Gories Mere, sejak masih aktif menangani masalah penanganan terorisme, patut dapat diduga sudah menggunakan alat penyadap atau INTERCEPT.

Jangankan Komjen Gories Mere secara pribadi, BNN secara INSTITUSI juga patut dapat diduga memang memiliki perangkat penyadapan yang sangat canggih.

Mustahillah, kalau disebut tidak tahu menahu bahwa CECE dan sindikatnya menggunakan HP untuk bisnis jual beli narkoba dari dalam penjara sebab patut dapat diduga semuanya itu sudah termonitor dari alat penyadap.

Sekarang tinggal bagaimana Presiden SBY dan Wapres JK, menyikapi masalah ini. Siapa yang mau ditindak terlebih dahulu oleh SBY- JK ?

Kapolri BHD, Komjen Gories Mere, Komjen Susno Duadji selaku KABARESKRIM atau Direktur IV Bareskrim POLRI Brigjen Harry Montolalu ?

Semakin aneh dan akan sangat mencurigakan bagi rakyat Indonesia, jika Presiden SBY pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu terhadap permasalahan ini.

Ada apa dibalik semua sikap tidah tahu dan tidak mau tahu itu ?

Kalakhar BNN Komjen Gories Mere saat menghadiri acara jumpa pers akhir tahun KAPOLRI tahun 2008Presenter TV One yang muda belia GRACE NATALIE LOUISA saat memberitakan CECE mendapat vonis MATI

Apakah patut dapat diduga, ada rahasia menyangkut Presiden SBY yang ada di tangan KOMJEN GORIES MERE sehingga seorang Kepala Negara tidak berkutik menangani perwira tinggi NTT ini ?

Kami sudah kehilangan kata-kata lebih panjang lebar untuk menyoroti masalah ini karena kata-kata tampaknya sudah tidak berarti apa-apa. Alangkah sedihnya INDONESIA, ketika PEMERINTAHAN SBY-JK mengumbar keberhasilan yang gemilang selama hampir 5 tahun berkuasa di negeri ini.

Padahal pada kenyataan, untuk menindak secara tegas seorang oknum perwira tinggi yang patut dapat diduga menjadi BEKING UTAMA sindikat bandar narkoba kelas kakap semacam Liem Piek Kiong atau MONAS, ternyata tidak bisa berbuat apa-apa. (MS)

Jadilah, kasus narkoba menyangkut pasutri MONAS –CECE terlempar kesana-kemari bagaikan BOLA LIAR !

Ya, sudahlah. Apa boleh buat !

Pihak yang harusnya bertindak secara tegas saja terkesan tutup mata dan tutup telinga karena patut dapat diduga ada CINCAI-CINCAI atau gaya kepemimpinan TST alias tahu sama tahu.

Kalau orang Betawi bilang, apa kata elu deh ! Suka-suka elu deh. Tapi jangan coba-coba mengkhianati rakyat Indonesia. Satu saat, roda zaman akan menggilas siapapun yang buas dalam meraup keuntungan dari bisnis kotor seputar narkoba !

https://i2.wp.com/www.indymedia.ie/attachments/jan2008/arton26846dc54.jpg

Perlukah kita katakan TIDAK kepada narkoba ?

Malas ah menjawabnya. Biarlah, pertanyaan itu dijawab oleh SBY, JK, BHD dan GORIES MERE !

Dan tidak ada kata lain yang harus disampaikan jika memang patut dapat diduga terlibat dan terbukti bersalah menjadi “beking utama” dari pasutri BANDAR NARKOBA LIEM PIEK KIONG ALIAS MONAS DAN CECE, yaitu :

COPOT GORIES MERE, TANGKAP, PENJARAKAN DAN ADILI SESUAI PROSES HUKUM YANG BERLAKU.

(MS)

https://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gifhttps://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gifhttps://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gif

https://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Alphabets/Arrows/3.gif

Patutkah Dapat Diduga Ada Filosofi “KURA-KURA DALAM PERAHU” Dibalik Pemeriksaan Skandal Hukum Paling Memalukan Bandar Narkoba MONAS ?

Semua orang sama kedudukannya di muka hukum, siapapun yang patut dapat diduga terlibat (walaupun berpangkat Komisaris Jenderal), copot, tangkap, penjarakan & proses sesuai ketentuan hukum !

Jakarta (DOKUMENTASI KATAKAMI BULAN MARET 2009) Inikah yang namanya reformasi birokrasi POLRI ? Skandal hukum yang paling memalukan di negeri ini adalah diloloskannya sebanyak 3 kali bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS dari jerat hukum, ternyata hanya memecat 5 penyidik kelas-kelas bawah.

Padahal, MABES POLRI telah menurunkan Tim Pemeriksa dari IRWASUM POLRI guna memeriksa kasus rekayasa Berita Acara Pemerikasan (BAP) bandar narkoba Liem Piek Kiong, ternyata Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri cuma mencopot 4 penyidik kelas bawahan doang.

Ya ampun, lalu bagaimana dengan beking utamanya yang patut dapat diduga berpangkat Komisaris Jenderal ? Pemeriksaan itu sangat kredibel atau patut dapat diduga sekedar basa-basi saja karena terlanjur bocor ke wartawan ?

Apartemen Taman Anggrek yang menjadi

Apartemen Taman Anggrek yang menjadi “markas” bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS yang digrebek polisi Nov 2007

Menjelang akhir bulan Februari lalu, yaitu 25 Februari 2009 lalu MABES POLRI mengumumkan bahwa 5 penyidik yang dicopot dari jabatannya ialah para penyidik dari Direktorat IV Narkoba Bareskrim Polri dengan pangkat mulai dari Bintara sampai perwira menengah yaitu Brigadir, AKP, AKBP dan Kombes.

Dalam berita acara pemeriksaaan (BAP), Monas disebutkan bukan sebagai bandar narkoba 1 juta ekstasi di Apartemen Taman Anggrek. Monas hanya disebut sebagai pecandu dan kepemilikan sabu sebanyak 1,5 gram sehingga hanya divonis satu tahun. Sedangkan istrinya, Cece, dikenai hukuman mati.

Sementara dalam jawabannya kepada Komisi III DPR-RI tanggal 9 Februari lalu, Kapolri Jenderal BHD menegaskan bahwa guna mengoptimalkan kerja penyidik Polri dalam penanganan narkoba, maka Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri dan jajarannya harus mengawasi penanganan perkara narkoba agar profesional dan benar.

https://i0.wp.com/data5.blog.de/media/068/3391068_a5db5d5da5_m.gif

“Kelimanya, diduga terkait atas penyimpangan penyidikan dan pemberkasan kasus Monas,” kata Kapolri.

Lim Piek Kiong alias Monas, 48, adalah bandar narkoba yang ditangkap di Apartemen Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, pada 21 November 2007. Saat penangkapan, disita barang bukti 490.802 butir pil ekstasi bernilai Rp49,08 miliar. Sebenarnya ia memiliki satu juta pil ekstasi, tapi 509.198 butir telah terjual.

Namun, berita acara pemeriksaan (BAP) Monas tidak pernah ada. BAP yang diserahkan kepada kejaksaan adalah pemakaian sabu di Apartemen Mal Taman Anggrek dengan barang bukti 1,5 gram. Monas kemudian divonis 1 tahun pada 5 Juni 2008 dan telah bebas.

Inilah sebagian barang bukti kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS. Dimana semua ujud dari barang bukti ini dan aslikah barang bukti itu sekarang ? Jangan sampai barang bukti itu DIJUAL oleh oknum POLRI

Kelima orang penyidik itu akhirnya memang telah diberhentikan terkait BAP yang dinilai meringankan hukuman Monas.

Lalu bagaimana dengan para perwira tinggi yang patut dapat diduga terlibat sebagai beking dari bandar narkoba Monas ?

Bayangkan, bandar kelas kakap yang lebih patut disebut sebagai MAFIA ini, sudah untuk yang ketiga kalinya diloloskan dari jerat hukum. Patutkah dapat diduga, Kapolri BHD takut menangani kasus ini karena melibatkan sejumlah perwira tinggi.

Bahkan, patut dapat diduga, beking tertinggi dari bandar narkoba MONAS ini berpangkat KOMISARIS JENDERAL.

Patut dapat diduga juga, biaya renovasi gedung Direktorat Narkoba sebuah Polda berasal dari sumbangan pasangan Liem Piek Kiong alias MONAS dan isterinya Cece beberapa tahun silam yaitu saat keduanya diloloskan dari jerat hukum untuk yang kedua kalinya.

Inilah sebagian barang bukti kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS. Dimana semua ujud dari barang bukti ini dan aslikah barang bukti itu sekarang ? Jangan sampai barang bukti itu DIJUAL oleh oknum POLRI

Ini bukan kasus narkoba biasa. Ini sebuah kasus yang sangat memalukan. Kami lebih cenderung menggunakan istilah skandal hukum yang paling memalukan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, boleh merenungkan dalam-dalam bagaimana nasib dan masa depan Indonesia jika POLRI bersikap mendua dalam menangani kejahatan narkoba.

https://i2.wp.com/data5.blog.de/media/554/3378554_8565723d30_s.jpg

Patut dapat diduga, Kalakhar BNN Komjen GM terlibat dalam kasus bandar narkoba Monas ini.

Mengapa yang bersangkutan masih bisa tetap menjabat ?

Sudah sepantasnya, yang bersangkut di non-aktifkan agar pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh.

Tidak gampang untuk memeriksa seorang perwira tinggi berpangkat Komisaris Jenderal. Tim Pemeriksa sudah harus lebih tinggi pangkatnya. Sementara, di dalam struktur organisasi POLRI pangkat tertinggi diatas Komisaris Jenderal adalah Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Sehingga, yang dapat memeriksa oknum perwira tinggi berpangkat Komisaris Jenderal ini adalah Kapolri BHD atau langsung ditangani oleh Menko Polhukkam Widodo AS yang berpangkat bintang 4 juga atau Laksamana TNI Purnawirawan.

Penanganan kasus narkoba, khususnya kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong ini akan menjadi bola api yang menggelinding kesana kemari. Dan pergerakan bola api dari kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS ini bisa “membakar dan menghanguskan” jika tidak ditangani secara tepat.

Namanya juga bola api, jadi cara penanganannya harus dipadamkan sampai sumbu utama dari api itu padam. kalau cuma mencopot penyidik kelas-kelasan bawahan, apa gunanya ?

Untuk apa memeriksa sekian banyak orang dari mulai penyidik di jajaran Polda Metro Jaya sampai ke Direktorat IV Bareskrim, kalau hanya berujung pada pencopotan 5 penyidik kelas-kelas bawahan saja ?

Pepatah lama mengatakan :

Pepatah lama mengatakan : “Janganlah Kura-Kura Dalam Perahu, Jangan Ada Yang Pura-Pura Tidak Tahu”

Tepuk tangan dan bersorak-sorai beking dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas ini, mendengar keputusan Kapolri BHD yang sangat murah hati dan “bijaksana”.

Di akhir pekan ini, ada pepatah lama yang layak untuk direnungkan yaitu “Janganlah Seperti Kura-Kura Dalam Perahu, Janganlah Pura-Pura Tidak Tahu !”.

Katakan tidak pada narkoba, artinya katakan juga tidak pada segala bentuk toleransi pada beking utama kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong ini. Copot, tangkap, penjarakan, dan adili sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku bagi BEKING UTAMA BANDAR NARKOBA LIEM PIEK KIONG ALIAS MONAS.

Siapapun perwira tinggi POLRI yang patut dapat diduga terlibat, tangkap & adili !

Dan dimana, barang bukti berupa uang rupiah dan beragam dolar dari kasus bandar narkoba MONAS ini ? Patut dapat diduga, barang bukti berupa uang ini diserahkan Pihak Kejaksaan kepada Kepolisian.

Presiden SBY dan Wapres JK perlu bertanya kepada Kapolri BHD, “Mana laporan dan dimana wujud barang bukti uang dari kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS ?”.

Kami menyarankan agar Presiden SBY dan Wapres JK bertanya kepada Kapolri BHD tentang barang bukti berupa uang itu. Patut dapat diduga barang bukti uang dari kasus bandar narkoba MONAS itu ada di internal Polri.

Presiden & Wapres perlu menanyakan kepada KAPOLRI BHD, dimana semua barang bukti uang rupiah dan seluruh uang DOLAR dari kasus bandar narkoba MONAS ini ?

Presiden & Wapres perlu menanyakan kepada KAPOLRI BHD, dimana semua barang bukti uang rupiah dan seluruh uang DOLAR dari kasus bandar narkoba MONAS ini ?

Dan inilah kronologi kasus bandar narkoba MONAS yang kami kutip sepenuhnya dari harian SUARA MERDEKA tangga 24 November 2007 :

Mabes Polri, Jumat (23/11/2007), membongkar jaringan internasional bisnis haram. Tidak tanggung-tanggung, sekitar setengah juta tablet ekstasi berhasil diamankan. Selain itu, polisi mengamankan barang bukti uang tunai total sebesar Rp 3,45 miliar, 25 ribu dolar Singapura, 60 ribu dolar AS, dan 168 ribu dolar Hong Kong.

Polisi mengamankan tersangka, tiga orang WNI yaitu Abdulrohim (50), Lim Piek Kiong alias Monas (47), dan Thio Bok An alias Johan (60), serta dua warga negara Malaysia atas nama Lim Jit Wee (41) dan Chua Lik Chang alias Asok (52).

Empat tersangka lainnya buron, yaitu Cheong Mun Yau, Diong Chee Meng, Steven Law alias Albert, dan Jet Lie Chandra (istri Monas). Selain Jet Lie, ketiga buron lainnya merupakan warga negara Malaysia yang diduga mengendalikan pengiriman ekstasi ke Indonesia.

https://i2.wp.com/images.pratidina73.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SXDYZAoKCtIAAGTqKK41/tanto.JPG

Menurut Kepala Polri (Kapolri) Jend Sutanto, dari informasi yang diperoleh dari anggotanya, jaringan itu total berencana memasukkan dua juta pil ekstasi ke Indonesia. Dari jumlah tersebut, setengah juta pil berhasil diamankan, dan 481 ribu pil sudah beredar di pasaran, serta sekitar 1 juta lagi masih dalam penyelidikan.

Direktur IV Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Indradi Tanos mengatakan bahwa kasus itu berawal informasi dari masyarakat yaitu ada sindikat narkoba yang mengimpor ekstasi dari Belanda dalam jumlah jutaan tablet. Atas informasi tersebut, diterjunkan tim yang diketuai oleh AKBP Samsu Rijal Mokoagow untuk melakukan pendalaman. Benar saja, tanggal 10 November tepat pukul 18.00, polisi menemukan barang bukti ekstasi sebanyak 9.802 butir, dan menangkap Abdurohim di kamar 2319 Hotel Peninsula Jakarta Barat.

Dalam pengembangan penyidikan, Rabu (21/11/2007), pukul 13.30 di kamar 30 KH Tower Dahlia Apartemen Mediterania Jakarta Barat, polisi menangkap Lim Jit Wee, dan menyita uang tunai Rp 950 juta, 25 ribu dolar Singapura, dan ekstasi sebanyak 11 ribu tablet yang disimpan di mobil Kijang B-7870-ZO yang diparkir di lantai dasar apartemen itu.

Rabu itu juga, pukul 15.00, di kamar 26 KA apartemen yang sama, ditangkap seorang warga negara Malaysia bernama Chua Lik Chang alias Asok. Selanjutnya penyidikan dikembangkan dengan menggeledah kamar 19A Tower 5 Apartemen Taman Anggrek.

Di tempat tersebut, berhasil disita ekstasi sebanyak 470 ribu tablet, 24 kaleng phosporus yang setiap kalengnya berisi 500 gram, serta tiga botol iodium cristal yang setiap botolnya berisi 500 gram, yang diduga sebagai bahan pembuatan ekstasi.

Kamis (22/11/2007), pukul 01.00 di kamar 39E Tower 7 Apartemen Taman Anggrek, ditangkap dua orang tersangka lainnya yang merupakan WNI, yaitu Lim Piek Kiong alias Monas, dan Thio Bok An alias Johan. Di tempat itu ditemukan 1,6 gram sabu.

Penyidikan berlanjut, dengan menggeledah rumah Monas di Jalan Gria Lestari Blok J Nomor 27 Komplek Gria Inti Sentosa Tanjung Priok Jakarta Utara. Di tempat tersebut ditemukan, 0,7 gram sabu serta 45 gram serbuk putih yang diduga ketamin.

Berlanjut Jumat (23/11), pukul 02.00, polisi mendobrak kamar 19J Tower 3 Apartemen Taman Anggrek, milik Steven Law alias Albert. Polisi menemukan uang tunai Rp 2,4 miliar, 60 ribu dolar AS, dan 168 ribu dolar Hong Kong yang disimpan di dalam brankas.

Selain itu ditemukan, 4 botol iodium cristal, satu kaleng fosfor, dan kristal yang diduga sabu seberat 5 gram.

Menurut Samsu Rijal, pengungkapan kasus itu merupakan yang terbesar dalam kasus ekstasi. ”Selama penangkapan di kepolisian, barang bukti yang disita kali ini yang terbesar,” ujarnya.

Sedangkan Indradi Tanos mengatakan, diduga peredaran ekstasi tersebut melalui diskotik-diskotik di seluruh Indonesia, dengan harga Rp 100 ribu per butir. Sedangkan sekitar setengah juta tablet ekstasi yang disita aparat setara dengan lebih dari Rp 49 miliar.

Presiden & Wapres perlu menanyakan kepada KAPOLRI BHD, dimana semua barang bukti uang rupiah dan seluruh uang DOLAR dari kasus bandar narkoba MONAS ini ?

Barang bukti lainnya dari kasus bandar narkoba MONAS, dimana semua barang bukti yang asli dari kasus ini ?

Kasus yang sangat menggemparkan ini, apakah mungkin hanya dikendalikan dan dianggap layak untuk dipertanggung-jawabkan hanya oleh 5 orang penyidik ?

Kalau hanya 5 penyidik itu yang dianggap layak dipecat, maka patut dapat diduga keputusan KAPOLRI ini adalah keputusan yang paling memalukan dalam upaya penegakan hukum di Indonesia.

Tidak bisa tidak dan jangan katakan tidak, beking utama dari kasus bandar narkoba MONAS ini harus diseret ke Pengadilan. Jangan lindungi siapapun yang terlibat dalam kasus ini.

Gambar animasi binatang KURA-KURA

Dan yang sangat mendesak, jangan berikan jabatan apapun sebab proses pemeriksaan dan penindakan tidak boleh berhenti hanya sampai pada pemecatan 5 orang penyidik itu.

Tangkap beking utamanya. Penjarakan. Dan bawa sang beking yang pasti sudah kaya raya tak terhingga itu ke Pengadilan. Jangan lindungi, sekali lagi, jangan lindungi.

Tangkap beking utamanya. Tangkap, siapapun itu ! Dan jangan terapkan filosofi, “KURA-KURA DALAM PERAHU”.

(MS)

https://i2.wp.com/www.animationbuddy.com/Animation/Alphabets/Arrows/4.gif

Jika Patut Dapat Diduga Terlibat & Terbukti Bersalah Jadi Beking Bandar Narkoba Liem Piek Kiong (MONAS), Copot, Adili & Beri Vonis MATI Pada Komjen GM

121-gm4

Jakarta (DOKUMENTASI KATAKAMI MARET 2009) Hampir 3 bulan kontroversi kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas menguak ke permukaan. Sejak pertengahan bulan Desember lalu, Tim Irwasum Polri menangani kasus ini.

Sejak awal, sudah tercium kabar tak sedap yaitu patut dapat diduga Komisaris Jenderal GM adalah beking utama dari bandar narkoba Monas. Herannya perwira tinggi ini tidak tersentuh samasekali oleh pemeriksaan internal POLRI.

Patut dapat diduga, kabar tentang keterlibatan dalam kasus seputar bandar narkoba Monas ini bukan kasus pelanggaran hukum pertama yang melibatkan Komjen GM.

Jauh sebelumnya, yaitu saat era kepemimpinan Jenderal Sutanto pun sudah ada kasus lain yang sama kotornya yaitu patut dapat diduga Komjen GM adalah otak pelaku dari pencurian barang bukti 13 kg sabu-sabu.

Kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS
Walau banyak yang menyebutkan bahwa Komjen GM dekat dengan Sutanto, tetapi ketika itu kemarahan Sutanto tak bisa dihindari lagi. Setelah mendapat teguran keras dan ancaman dari Sutanto agar secepatnya barang bukti yang hilang itu dikembalikan ke gudang penyimpanan, akhirnya barang bukti yang hilang itu memang bisa kembali secara “ajaib” ke gudang penyimpanan.

Bukan apa-apa, kasus hilangnya barang bukti 13 kg sabu-sabu tersebut menjadi sorotan publik yang sangat memalukan Polri.

Dari segi nominal angka memang termasuk kecil angka 13 kg. Tetapi kalau dijual ke pasaran, dari barang seberat 13 kg sabu-sabu ini maka penjualnya akan meraup keuntungan sebesar Rp.13 miliar !

Bayangkan, betapa kaya raya oknum pelaku PENCURIAN barang bukti narkoba di negara ini kalau dibiarkan terus menerus menggerogoti gudang penyimpanan.

Tim Irwasum Polri saat mulai memeriksa kasus bandar narkoba Monas, terlebih dahulu memeriksa para Penyidik di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya.

http://redaksikatakami.files.wordpress.com/2009/03/1-jusuf-mangga1.jpg

Yang sulit untuk dipahami adalah Tim Irwasum melewatkan satu celah yang sangat penting dalam kasus bandar narkoba Monas. Patut dapat diduga, biaya renovasi dari Gedung Direktorat Polda Metro Jaya berasal dari sumbangan pasangan Liem Piek Kiong dan Jet Li isterinya.

Pemeriksaan Tim Irwasum harus diperluas dan diperdalam. Tidak cuma memeriksa seputar kasus rekayasa BAP saja, tetapi keseluruhan dari sepak terjang Monas.

Bandar dan mafia yang kotor ini sudah untuk yang tiga kalinya lolos dari jerat hukum. Hal ini tidak akan pernah bisa terjadi kalau tidak ada beking utamanya didalam internel Polri sendiri.
https://i2.wp.com/fanart.lionking.org/Artists/Spiritwolf77/VampLion.gif

Janganlah ada yang kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Jika memang ada dugaan keterlibatan dari perwira tinggi sekalipun, tangkap, penjarakan dan seret ke muka hukum.

Lepas dari semua jasa atau prestasi Komjen GM dalam bidang penanganan terorisme sejak 8 tahun terakhir, ia pantas untuk dibawa ke muka hukum jika memang terindikasi melakukan perbuatan melawan hukum.

Jasa atau prestasi apapun, tidak akan ada gunanya jika seseorang menjadikan semua itu sebagai pembenaran untuk melakukan apa saja yang melanggar hukum di negara ini.

Jasa atau prestasi dari Komjen GM dalam penanganan terorisme juga akhirnya akan terkuak bahwa semuanya itu tidak sempurna dan tidak harum secara semerbak.

Patut dapat diduga, didalam penanganan terorisme itu sendiri ada begitu banyak dugaan pelanggaran yang bermuara pada penggunaan kewenangan secara berlebihan dan ada bau anyir pundi-pundi. Pemberian eksklusivitas pemberitaan kepada satu media massa televisi selama 7 tahun (dari mulai kasus peledakan bom malam natal tahun 2000 sampai periode penanganan teroris Abu Dujana – Zarkasih), patut dapat diduga dampak dari penggunaan wewenang yang berlebihan dari Komjen GM.

Patut dapat diduga, peminjaman ALI IMRON — terpidana kasus Bom Bali I — sejak tahun 2003 sampai saat ini adalah dampak dari penggunaan wewenang yang disalah-gunakan juga oleh Komjen GM.

Patut dapat diduga, pemberian segala fasilitas dan kemewahan hidup untuk ALI IMRON (termasuk didalamnya pembuatan buku memoar alias otobiografi dari ALI IMRON) adalah atas penggunaan wewenang yang berlebihan dari Komjen GM.

https://i0.wp.com/www.inilah.com//data/berita/foto/62348.jpg

Jasa atas prestasi dari Komjen GM dalam penanganan terorisme, bercampur aduk antara harum semerbak yang wangi dengan bau busuk yang sangat sengit karena begitu banyak dugaan pelanggaran hukum yang terkandung di dalamnya. POLRI harus tegas menangani masalah Komjen GM.

Jika memang ada indikasi keterlibatan dalam kasus bandar narkoba Monas, Komjen GM sekalipun harus diperiksa. Dan jika terdapat bukti-bukti keterlibatan (apalagi bukti nyata sebagai beking utama dari bandar narkoba Monas), Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri tak perlu ragu untuk memerintah penangkapan terhadap Komjen GM dan menahannya di Rutan POLRI.

Reformasi Birokrasi POLRI harus tegas dan keras menyikapi oknum-oknum yang patut dapat diduga melakukan perbuatan melawan hukum secara terus menerus dan berkesinambungan. Periksa semua rekening, aset pribadi dan harta kekayaan Komjen GM. Termasuk 3 rumah yang patut dapat diduga DIBERIKAN kepada oknum polwan yang berselingkuh dengan diri oknum perwira tinggi ini.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan PPATK, dapat dikerahkan untuk bekerjasama dengan MABES POLRI memeriksa semua rekening-rekening dari Komjen GM, isterinya, kedua anaknya dan bahkan rekening dari oknum polwan yang dekat dengan oknum perwira tinggi ini.

Tak perlu ragu menindak siapapun yang mencari kekayaan abadi lewat cara-cara yang salah dan melanggar hukum ! Jangan ada upaya untuk mendiamkan atau melindungi siapapun yang patut dapat diduga melakukan pelanggaran hukum. Indonesia adalah negara hukum !

Bahkan KATAKAMI.COM juga sangat terkesima, belakangan ini patut dapat diduga oknum perwira tinggi berinisial GM menjadi tidak malu-malu untuk ikut teruus-menerus merusak SITUS BERITA WWW.KATAKAMI.COM dan semua BLOG kami di WordPress, terutama bila sudah ada berita soal Bandar Narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS, serta tulisan seputar oknum POLWAN yang patut dapat diduga berselingkuh dengan oknum berinisial GM ini sejak belasan tahun silam.

Luar biasa, sudah tidak ada rasa malu samasekali.

Terutama jika ada tulisan yang menyinggung atau memuat tentang bandar narkoba MONAS. Bahkan ketika profil dari Irwasum Polri Komjen Polisi Jusuf Manggabarani dimuat, tulisan itupun dirusak karena didalamnya ada menyinggung masalah bandar narkoba Monas.

Patut dapat diduga inilah oknum polwan yang berselingkuh dengan oknum perwira tinggi GM Sejak belasan tahun lalu, sehingga keduanya layak dicopot dari jabatannya dan diberhentikan secara tidak hormat sebagai POLISI

Juga tulisan tentang oknum polwan yang patut dapat diduga berselingkuh, termasuk yang dirusak terus menerus tanpa ada rasa malu dari oknum perwira tinggi ini.

OTAK PELAKU pengrusakan tulisan seputar bandar narkoba Monas ini sangat percaya diri bahwa dirinya tidak akan pernah bisa diperiksa atau dipersalahkan oleh PIHAK BERWAJIB. Jangan lupa, kami telah melaporkan kasus pengrusakan ini kepada Komnas HAM dan beberapa Fraksi di DPR-RI.

Dan kepada Kapolri BHD, jangan biarkan nama baik dan kehormatan POLRI menjadi tercoreng hanya karena ulah seorang oknum saja.

(MS)

https://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gifhttps://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gifhttps://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Nature/Stars/Star_flash.gif

https://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Alphabets/Arrows/5.gif

Skandal Hukum Paling Memalukan Terkait Bandar Narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS Yang Patut Dapat Diduga Melibatkan Komjen GM !

http://redaksikatakami.files.wordpress.com/2009/03/1-barang-bukti-monas.jpg

JAKARTA (DOKUMENTASI KATAKAMI DESEMBER 2008) Bukan sulap sembarang sulap. Inilah skandal hukum yang paling memalukan di Indonesia untuk tahun 2008 dalam hal pemberantasan narkoba. Bayangkan, seorang bandar dan mafia narkoba internasional yang paling berbahaya, sengaja diloloskan dari jerat hukum oleh oknum Polri. Pemerintah Indonesia sekarang menjadi sangat dilematis posisinya.

Nama si bandar “MONAS” yang ditangkap di Apartemen Mal Anggrek bulan November 2007, terkesan sengaja tidak dimasukkan namanya di berkas pemeriksaan.

Sangat memalukan, jika ada seorang bandar dan mafia narkoba yang disebut-sebut sebagai pemilik dari 1 juta pil ekstasi, justru hanya dijadikan sebagai saksi saja dan memang disengaja untuk tidak dimasukkan namanya dalam berkas pemeriksaan penyidik Polri dalam kasus yang melibatkan si bandar itu sendiri.

http://redaksikatakami.files.wordpress.com/2009/03/2-monas7.jpg

Bandar pemilik 1 juta pil ekstasi dengan tersangka Lim Piek Kiong alias Monas bisa berubah kasusnya hanya menjadi kepemilikan 1,5 gram sabu. Sedangkan isteri dari si bandar tadi, justru mendapat hukuman atau VONIS MATI !

Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepemilikan 1,5 gram sabu itulah yang diserahkan polisi sehingga jaksa hanya menuntut 1 tahun penjara.

Tidak dimasukkannya nama Monas ke dalam berkas pemeriksaan kasus Apartemen Taman Anggrek, seakan menunjukkan betapa lihai dan canggihnya oknum aparat Polri yang berada sebagai arsitek dari penyelamatan terhadap Monas.

Sebab, Jaksa tidak akan dapat berbuat apapun untuk menjerat Monas ke dalam proses hukum, sepanjang polisi memang tidak mencantumkan nama sang bandar ke dalam berkas pemeriksaan. Disinilah letak kelihaian dari oknum Polri yang “bermain”

Oknum tersebut menguasai kekurangan dan kelemahan KUHAP yang digunakan aparat penegak hukum di Indonesia.

Untuk “mengunci” gerak kalangan Jaksa agar tidak bisa menjatuhkan dakwaan apapun terhadap sang bandar yang tampaknya mempunyai beking kuat didalam internal Polri, maka modus operandi seperti ini ditumbuh-suburkan oleh Oknum Pelaku di internal Polri.

Oknum ini langsung mengirimkan SMS teror kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM pada Rabu (10/12/2008) siang ini sebagai reaksi atas tulisan ini). SMS itu menunjukkan kepanikan yang sangat parah dari sang Oknum yang liar tak terkendali indikasi pelanggaran hukumnya. Oknum yang dikenal suka menyalah-gunakan penggunaan alat penyadap ini, begitu ketakutan jika keterlibatannya dalam kasus Monas terongkar.

Luar biasa !!!

https://i2.wp.com/4.bp.blogspot.com/_WNdQEdvGljQ/SLeVIU0tfiI/AAAAAAAABF8/cuzSdSwIfOQ/s200/jampidum.jpg

Kepada KATAKAMI.COM, hari Selasa (9/12/2008) kemarin di ruang kerjanya di Kejaksaan Agung, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Abdul Hakim Ritonga mengatakan lewat wawancara khusus bahwa Monas tidak pernah dimasukkan namanya oleh Kepolisian dalam BAP kasus Mal Taman Anggrek,

“Semua kasus bandar narkotika, yang memiliki sindikat terorganisasi, pasti kami tuntut hukuman mati. Dalam kasus Monas, dia bukan di-BAP sebagai bandar, melainkan pengguna sabu 1,5 gram. Sesuai KUHAP (Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana), BAP yang diserahkan Polisi itulah yang dijadikan oleh Jaksa menjadi dakwaan untuk dibawa ke persidangan. Kami juga memastikan bahwa Jaksa tidak main-main dengan kasus narkoba. Bukan pelaku dan Bandar narkoba saja yang kami tindak dan tuntut sesuai hukum. Jaksa yang main-main untuk kasus narkoba, akan kami tindak tegas !” kata Ritonga.

Jampidum Ritonga juga memerintahkan bawahannya untuk mengecek keberadaan Monas, apakah masih berada didalam tahanan. Tapi ternyata dari hasil pengecekan itu, diperoleh informasi bahwa Monas sudah “tidak ada” didalam tahanan LP Salemba. Sekali lagi, inilah permainan sulap yang menjadi skandal narkoba paling memalukan abad kini.

Bayangkan, pejabat negara selevel Kapolri sampai harus melakukan sidak ke TKP penangkapan Monas dan mengumumkan langsung kepada media massa.

Bahkan, kabareskrim ketika itu (Komjen Bambang Hendarso Danuri, kini menjadi Kapolri, red), sampai datang ke ruang kerja Jampidum Abdul Hakim Ritonga untuk menjalin koordinasi yang erat agar Kejaksaan ikut mendukung seluruh pelaku “Mal Anggrek” dihukum seberat-beratnya.

Tapi, apa yang terjadi ?

Disinilah letak permainan sulapnya. Monas, sang bandar yang disebut-sebut dan dikabarkan dekat dengan “seorang perwira tinggi berbintang tiga”, hanya menjadi SAKSI dalam persidangan pada terdakwa kasus narkoba “Mal Anggrek”.

Dan hebatnya, ketika 3 orang terdakwa dihukum MATI, Monas justru disidangkan dan mendapat vonis yang luar biasa ringannya.

Bandar yang kabarnya sudah bolak balik “lolos” dari jerat hukum ini, disidangkan karena melakukan tindak pidana “secara sengaja dan tanpa hak, melawan hukum, memiliki, menyimpan dan menguasai Psikotropika Golongan II”.

Vonisnya ?

Bukan sulap sembarang sulap, Monas yang dipergoki di Mal Taman Anggrek November 2007 itu, divonis hanya 1 tahun penjara dengan denda Rp 1 juta subsidair 1 bulan kurungan, dengan barang bukti 1,1587 sabu-sabu.

Vonis untuk Monas dijatuhkan oleh Majelis Hakim Haris Munandar SH, Agusin SH dan Daniel DP, serta Panitera Pengganti Nellyy Rusli SH. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum adalah Sultoni SH.

Monas bersama delapan rekannya di Apartemen Mal Taman Anggrek dengan barang bukti 490.802 butir atau senilai Rp49,08 miliar pada 21 November 2007.

https://i1.wp.com/www.inilah.com/data/berita/thumbnail/26259.jpg

Pada 18 September 2008, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat yang diketuai Hesmu Purwanto memvonis mati tiga anggota jaringan tersebut, yakni Christian Salim alias Awe, 48, Lim Jit Wee alias Kim, 43, serta Jat Lie Chandra alias Cece, 40, istri Monas.

Cece yang ditangkap di rumah rocker gaek Ahmad Albar tanpa barang bukti divonis mati dengan pertimbangan bagian dari sindikat terorganisasi.

Tahun 2007 lalu, terbongkarnya kasus “Mal Taman Anggrek” ini berawal dari adanya informasi bahwa ada sindikat narkoba yang mengimpor ekstasi dari Belanda hingga jutaan butir.

Didahului dengan penangkapan aparat Polisi kepada Abdurohim Di Kamar 2319 Hotel Peninsula Jakarta. Dari tangannya, Polisi menyita 9.802 butir ekstasi. Berdasarkan pengakuan Abdurohim, tanggal 21 November 2007 Polisi membekuk Lim Jit We di Kamar 30 KH dan Bhua Lik Chang di Kamar 26 KA Tower Dahlia Apartemen Mediterania.

Kemudian Polisi melakukan penggerebekan di Apartemen Taman Anggrek Tower 5 Kamar 19 A. Disitulah bandar kelas KAKAP Monas alias Lim Piek Kiong ditangkap.

https://i0.wp.com/www.tribunkaltim.co.id/photo/2008/09/0454c336ae384cc368c39162f14dd575.jpg

Kapolri Sutanto yang “meninjau” TKP memberitahukan kepada wartawan bahwa sindikat Monas ini berencana membangun pabrik ektasi di Indonesia. Untuk mewujudkan rencana itu, mereka berniat mendatangkan enam orang ahli kimia asal Cina.

Bagaimana sebenarnya komitmen dari Pemerintah Indonesia dalam memberantas narkoba ?

Bagaimana pertanggung-jawaban dari Polri terhadap penempatan perwira tinggi dalam pos jabatan yang strategis dalam pemberantasan narkoba, padahal nama perwira tinggi itu memang sangat “santer” menjadi sahabat sangat amat rapat luar biasa dengan bandar dan mafia narkoba internasional ?

Rakyat jenuh terhadai segala kepura-puraan dan ketidak-jujuran !

Rakyat jenuh dengan sandiwara dan lakon tak bermoral dari oknum aparat yang mempermainkan hukum di negeri yang tercinta ini !

Rakyat sudah terlalu mual dan mau muntah dengan semua aksi bau terasi dari oknum yang mencari keuntungan dan kekayaan bagi dirinya sendiri !

Dimana, implementasi dari slogan dan jargon-jargon, “NEGARA TIDAK BOLEH MELAWAN NARKOBA ?”

Betapa pedih dan perih hati dan jiwa rakyat di negeri ini, lihatlah, bandar dan mafia narkoba internasional yang sangat berbahaya di muka bumi ini, dibiarkan lolos dari jerat hukum dengan semua akal-akalan yang canggih, rapi dan terorganisir secara profesional untuk meloloskan sang bandar yang biadan dan laknat ini.

http://ucsbglobalvoices.files.wordpress.com/2009/03/death-penalty.jpg

Benarkah “NEGARA TIDAK BOLEH KALAH MELAWAN NARKOBA ?”

Dengan lolosnya bandar biadab dan laknat semacam Monas, dengan hanya divonis 1 tahun penjara dan barang bukti HANYA 1,1587 gram sabu sabu, tampaknya NEGARA MEMANG AKAN KALAH MELAWAN NARKOBA.

Ibu pertiwi sudah sepantasnya menangisi hal ini ….

Siapa beking dari Monas ?

Siapa oknum perwira tinggi yang mendapat setoran uang dari Monas ?

Siapa yang memerintahkan agar Monas tidak dimasukkan namanya dalam berkas BAP penyidik Kepolisian agar Jaksa tak akan pernah bisa mendakwa bandar biadab dan laknat itu ?

Mengapa harus ada sandiwara ?

Mengapa harus ada permainan yang sekotor ini dan sangat tidak bermoral ?

Entahlah …

Tapi tidak ada kata terlambat untuk penegakan hukum, tangkap bandar busuk yang sangat berbahaya itu dimanapun ia berada saat ini.

Tangkap oknum Perwira Tinggi Polri yang menjadi beking sang bandar. Penjarakan keduanya di dalam jeruji besi yang sama. Adili dan hukum seberat-beratnya. Tidak cuma menghukum si bandar, tetapi juga beking yang sangat tak bermoral ini.

Indonesia akan ditertawakan oleh dunia internasional bila terus menerus memelihara “abdi negara” yang berperilaku seperti iblis.

https://i1.wp.com/www.aimproductions.com/SusanLee/Images/DeathPenalty/DeathPenaltyGraphic2.gif

Bayangkan, berulang-ulang kali melakukan pelanggaran hukum yang sama yaitu sengaja meloloskan bandar dan mafia narkoba sekotor ini.

Siapa bekingnya ?

Siapa ?

Katakan sejujurnya kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia, siapa beking dari bandar narkoba yang busuk ini agar hukum dapat ditegakkan kembali sebenar-benarnya.

(MS)

%d blogger menyukai ini: