Beranda > Uncategorized > Hanya Ada Satu Kata Untuk Mega-Prabowo Dan JK-Wiranto, LAWAN Arogansi Topeng Kekuasaan Yang Tak Jera Merampas Hak Politik Rakyat

Hanya Ada Satu Kata Untuk Mega-Prabowo Dan JK-Wiranto, LAWAN Arogansi Topeng Kekuasaan Yang Tak Jera Merampas Hak Politik Rakyat

06/07/2009

topeng.jpg Topeng image by cah7x_jogja

Jakarta 6/7/2009 (KATAKAMI) Hanya tinggal kurang dari 48 jam ke depan, rakyat Indonesia akan menyambut pesta demokrasi PILPRES 2009. Tetapi walaupun waktu terus berpacu, tetapi kisruh Daftar Pemilih Tetap atau DPT masih tetap seperti benang kusut. Untuk menuliskan tulisan ini saja, KATAKAMI mendapatkan berbagai hambatan yang patut dapat diduga dilakukan oleh aparat yang memiliki perangkat teknologi untuk menyadap sistem keredaksian yang mencoba memberikan alternatif terbaik dalam mebela hak-hak rakyat.

Kasihan, disaat bangsa dan rakyat Indonesia bersatu dan bahu membahu memperjuangkan tegaknya demokrasi. Tetapi patut dapat diduga ada pihak tertentu yang gelap mata demi mempertahankan kekuaasaan atau PENJILATAN demi melanggengkan jabatan masing-masing.

Sesuai jadwal, bangsa Indonesia akan menggelar pesta demokrasi PILPRES tanggal 8 Juli 2009. Sudah dari jauh-jauh hari sebelumnya, banyak pihak — terutama kubu Pasangan Megawati – Prabowo dan kubu JK – Wiranto — sudah menyampaikan WARNING agar kebusukan dan berbagai kecurangan yang nyata-nyata terjadi dalam Pemilu Legislatif 2009 jangan diulangi lagi.

Jangan mendadak jadi penderita akut penyakit lupa ingatan atau AMNESIA sehingga kejadian tragis yang menimpa bangsa dan rakyat Indonesia, dimana ada sekurang-kurangnya 20 juta rakyat Indonesia dirampas dan dibinasakan HAK POLITIKNYA, mau diulangi lagi dalam Pilpres 2009 ?

http://mampus.files.wordpress.com/2009/01/cropped-cukup-sudah.jpg

Wajar, sangat wajar, jika capres Megawati dan Muhammad Jusuf Kalla bergerak ke depan untuk mendobrak pintu arogansi kekuasaan ini. Jangan ada yang menganggap gerakan moral mereka ini, hanya gertak sambal atau sekedar basa basi.

Senin (6/7/2009) ini, Megawati didampingi Prabowo Subianto dan JK didampingi Wiranto, menyambangi Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di jalan Diponegoro Jakarta Pusat. Mereka tidak sedang bermain-main dalam jam-jam terakhir menjelang dilaksanakannya PESTA DEMOKRASI.

Ketokohan, kharisma dan pengaruh kuat mereka dimata para pendukungnya, jangan dianggap enteng dan jangan dipandang sebelah mata. Jangan pikir rakyat Indonesia ini bodoh atau mengidap bisu tuli semua. Sampai detik ini saja, tidak pernah ada pengumuman resmi tentang kapan 20 juta (lebih) rakyat Indonesia yang dirampas hak politiknya pada Pemilu Legislatif 2009 lalu, bisa memberikan hak suara mereka. Padahal pembagian kursi di parlemen sudah diumumkan resmi.

Lho, jangan dilupakan hak politik rakyat yang sudah disunat dan dirampas pada ajang Pemilu Legislatif. Itu saja belum dibereskan, bagaimana mau menggelar Pemilu Pilpres ?

Siapa yang mau dijebak, seolah-olah akan ada keajaiban dari langit yang membuat DPT akan “mendadak” waras yaitu sesuai denganΒ  data resmi yang dapat dipertanggung-jawabkan dimuka hukum. Bukan data fiktif. Bukan data rekayasa. Dan bukan DPT ganda !

Megawati dan Jusuf Kalla, jangan mau menjadi asesori saja dari panggung perpolitikan PILPRES 2009. Untuk apa hanya sekedar jadi pajangan yang cuma dimanfaatkan sebagai peran pembantu dalam panggung sandiwara melanggengkan kekuasaan semata. Sadari, bahwa patut dapat diduga disana sini telah terpasang jaring-jaring perangkap.

Begitu PILPRES dimulai tanpa ada perubahan yang signifikan, maka selesailah sudah semua teori-teori tentang proses demokratisasi yang sehat, jujur, adil, beradab dan bermartabat. Mau demonstrasi ? Mau turun ke jalan sampai berdarah-darah dan bisa berterbangan semua nyawa karena CHAOS yang mengerikan ?

Jangan, jangan lakukan kekerasan ! Jangan korbankan rakyat. Jangan memilih cara-cara yang sifatnya menjebak karena rakyat hanya akan dibuat BERHADAP-HADAPAN dengan POLISI atau APARAT KEAMANAN SECARA KESELURUHAN yang patut dapat diduga sudah sangat sulit untuk netral.

Demonstrasi belum dimulai, bisa-bisa patut dapat diduga semua tokoh-tokoh bangsa dengan para pendukung mereka semuanya akan dengan brutal ditangkapi, ditendangi dan dipenjarakan.

Lalu, nanti kalau ada persidangan maka patut dapat diduga semua akan dinyatakan bersalah dengan vonis yang dibuat sangat tidak manusiawi. Hindari semua jaring-jaring perangkap yang patut dapat diduga memakai teori gelap mata. Megawati dan JK, tak perlu ragu untuk terus maju tak gentar membela yang benar yaitu membela hak rakyat.

Cari cara yang cantik dan sangat sulit untuk dikecoh. Jika sudah tak bisa dinasehati dan diajak untuk “kembali ke jalan yang benar” dalam menegakkan proses demokratisasi ini, berikan saja kemenangan itu secara utuh menyeluruh kepada pihak tertentu yang sudah sangat kebelet menang satu putaran dengan perolehan angka diatas 60-90 persen.

Kasih, kasihkan saja ! Biar puas. Beri jalan agar segera diumumkan bahwa pemilu memang telah dilakukan satu putaran dengan satu pasang peserta.

Peserta yang lain, sedang ada “urusan lain” yaitu mengobati luka bathin dan cedera yang parah dalam jiwa rakyat Indonesia. Megawati dan JK, cukup senyum-senyum saja dan ikut menonton tayangan-tayangan berita di media massa tentang kemenangan heroik sebesar 100 persen.

Indonesia sudah sebegini “maju dan sejahtera”, masak tidak bisa meraih kemenangan 100 persen ?

Bisa, sudah barang tentu bisa !

Yang harus disadari dan diupayakan oleh Megawati dengan cawapresnya Prabowo Subianto, juga Jusuf Kalla dengan pasangan Cawapresnya Wiranto, bahwa bangsa Indonesia jangan dibiarkan — walau hanya sedetik — terjerumus ke dalam lembah kehancuran dalam situasi yang CHAOS. Hindari darah dan nyawa rakyat terbuang sia-sia.

Jaga keselamatan rakyat Indonesia. Bentengi NKRI ini dari ancaman disintegrasi bangsa. Situasi yang CHAOS hanya akan membuat Indonesia berdarah-darah dan kehilangan anak-anak bangsanya.

Formula perjuangan jangan dibiarkan terfokus ke jalanan lewat demonstrasi yang destruktif atau anarkis. Formula perjuangan harus cerdas, tangkas dan lugas.

Dalam hitungan detik, menit dan jam, minta semua data tertulis dan dokumen apapun yang memang bisa dijadikan bukti resmi bahwa kebusukan dan kecurangan DPT itu memang sudah ada beredar secara nyata di tengah masyarakat. Waktu tidak banyak. Waktu sangat sempit.

Jangan cuma bicara dengan teori “katanya katanya” disana disini ada kebusukandan kecurangan seputar DPT. Bukti, minta bukti dari semua mesin partai serta tim kampanye nasional untuk bergerak cepat.

Lalu, dengan sikap yang legowo Megawati dan Jusuf Kall tampil berdua dan tunjukkan kepada rakyat Indonesia bahwa inilah semua fakta-fakta dan data-data tentang ancaman serius kebusukan dan kecurangan DPT yang mau dipaksakan dalam ajang Pilpres pada hari Rabu 8 Juli 2009.

Tunjukkan, supaya jangan ada lagi yang lancang menuding Megawati dan Jusuf Kalla sekedar gertak sambal atau mengada-ada.

Tutup mulut bagi siapapun yang menuding Megawati dan Jusuf Kalla cuma gertak sambal atau mengada-ada. Jangan ada yang mengatakan bahwa Pilpres harus wajib dilaksanakan dengan kondisi apa adanya seperti sekarang ini. Tidak bisa, hak politik rakyat disunat dan dibabat habis, kok bisa-bisa ada kewajiban membiarkan pesta demokrasi disulap menjadi panggung sandiwara. Ini kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditolerir.

Megawati dan Jusuf Kalla harus berani menempatkan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi dan partai politik mereka masing-masing. Renungkan sejenak saja. Jauh lebih baik memberikan jalan bagi terwujudnya pemilu satu putaran dengan kemenangan mutlak tak terkalahkan bagi pihak manapun yang takut pada rivalitas yang sehat.

Kalau tidak takut, sudah barang tentu APARAT bisa sangat netral karena patut dapat diduga sistem yang bekerja di bidang politik, hukum dan keamanan sudah sangat HEBRING alias HEBAT memasang pagar betis untuk mengamankan kemenangan yang MUTLAK di-LANJUTKAN.

Silahkan, kasih saja. Jangan direcoki dan dipersulit. Namanya juga tim sukses yang hebat karena patut dapat diduga instansi yang perangkat dan personilnya dibeli atau dibayar dengan uang rakyat, malah untuk jadi markas tim sukses bekerja ganda yaitu sebagai abdi negara dan abdi penguasa secara pribadi. Masak tidak malu melakukan semua ini.

Masak tidak sadar bahwa semua mata rakyat Indonesia sudah melihat gerakan-gerakan siluman yang patut dapat diduga hobi benar memakai terori lempar batu sembunyi tangan. Begitu ketahuan ada sesuatu yang salah dan kesalahan itu fatal memalukan, lemparkan saja kesalahan kepada orang per orang atau pihak lain yang tak ada kaitannya dengan penguasa atau tim suksesnya.

Ya capek deh.

Negara punya sistem yang komponennya memiliki unsur intelijen, justru patut dapat diduga jadi mesin kemenangan yang sangat menggebu-gebu menggembosi lawan-lawan politik. Semua sudah sangat tidak sehat jadinya. Kasihan kalau POLISI harus ikut juga bersandiwara menjaga pelaksanaan PILPRES 2009 yang patut dapat diduga cuma jadi panggung sandiwara.

Sayang kalau uang negara dihabiskan untuk anggaran tugas pengamanan sebab sebenarnya yang patut dapat diduga mau diamankan adalah kekuasaan yang berkelanjutan.

Biarkan saja, prinsip netralitas itu dikotori dan dinodai. Biar, biarkan saja. Apa maunya, kasihkan saja dan biarkan saja. Sekali-sekali, perlu dikasih kelonggaran dan keleluasaan yang sangat menggembirakan.

https://i2.wp.com/www.tribunkaltim.co.id/photo/2009/04/afad3a37b250bcf349e132a80d399053.jpg

Daripada harus terus berpura-pura dan bergerak siluman agar tak ketahuan. Mari, kita berpikir dan bertindak secara jernih dan cerdas. Gendang permainan lawan sudah tak merdu nadanya.

Megawati dan Jusuf Kalla tak perlu terjebak dan terperangkap dalam gendang permainan lawan yang cuma akan merugikan kedua tokoh penting ini. Jadi, kalau ada berteriak lantang menyapa, Indonesia … bagaimana kabarnya ?

Biarlah, Megawati, Jusuf Kalla dan rakyat Indonesia menjawab dengan lantang juga, “Baik, lanjutkan saja apapun ambisi dan hawa nafsu kekuasaan yang mau dilanjutkan !”.

Sambil berjalannya waktu, biarlah siapapun juga yang sudah dengan sangat sengaja menjilat kepada arogansi kekuasaan atau keabadian kesewenang-wenangan yang merugikan nilai-nilai kebenaran, adilan, hukum, HAM, demokrasi dan kemanusian, akan segera terbuka semua TOPENG-TOPENG MEREKA.

Dan hanya ada satu kata untuk disampaikan di akhir tulisan ini kepada Megawati dan Jusuf Kalla, LAWAN !

Lawan semua bentuk arogansi kekuasaan. Lawan semua bentuk kesewenang-wenangan ini.

Lawan semua bentuk pemenangan yang menyunat dan merampas hak-hak politik rakyat.

Lawan, tetapi bukan dengan cara “melawan” yang berpotensi menimbulkan CHAOS.

Jadilah benteng penyelamat dan penjaga bangsa lewat cara-cara yang jauh lebih terhormat.

Lebih ampuh untuk menjawab semua kongkalikong. Mau menang satu putaran ! Ambil !

Mau menang seratus atau seribu persen ? Ambil.

Kasih saja. Jangan dihalangi. Dan cukup didalam hati dan pikiran kita saja, kita tanyakan dengan penuh senyum yang mengharukan.

PUAS ? PUAS ? PUAS ?

Keterlaluan.

(MS)

%d blogger menyukai ini: