Beranda > Uncategorized > Tabir Gelap Jungkir Baliknya DPT Pilpres 2009 Akan Memperpanjang Tragedi Politik Bangsa Saat Berubah Indonesia Memilih Menjadi Menangis

Tabir Gelap Jungkir Baliknya DPT Pilpres 2009 Akan Memperpanjang Tragedi Politik Bangsa Saat Berubah Indonesia Memilih Menjadi Menangis

03/07/2009

TULISAN UTAMA DI WWW.KATAKAMI.COM & Dimuat juga di WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM


Jakarta 3/7/2009 (KATAKAMI) Tontonan elegan debat CAPRES pada Kamis (2/7/2009) malam, kini telah berlalu. Berbeda dari debat sebelumnya — baik debat capres atau debat cawapres — saat debat itu disiarkan secara langsung, polling ala festival musik IDOL yang mengandalkan pesan singkat SMS ditiadakan –.

Sebagai satu-satunya kandidat CAPRES yang “cantik”, Megawati Soekarnoputri terlihat tenang dan kalem saja menghadapi debat terbuka melawan para mantan anak buahnya di kabinet semasa menjadi Presiden RI. Entah karena sungkan dan memang ada rasa “EWUH PAKEWUH”, Susilo Bambang Yudhoyono dari detik pertama debat itu tak terlihat secara taham menyerang atau membantah Megawati.

https://i2.wp.com/www.sumutcyber.com/photo/dir062009/1245398032debat%20capres.jpg

Berbeda dalam menghadapi wapresnya sendiri dalam kabinet Indonesi Bersatu, Muhammad Jusuf Kalla (JK).

Serang-menyerang terlihat sengit antara RI-1 dan RI2 di panggung debat capres itu. Yang tidak dijaga oleh SBY dalam penampilannya adalah ketegangan raut wajah saat menyerang JK. Mantan Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI ini, dari raut wajahnya sangat terlihat betul sedang emosi.

Juga saat moderator mempersilahkan SBY menyampaikan jawaban selama 60 detik, SBY jelas sekali menunjukkan sikap marah dan menunjuk alat penghitung yang dipasang di ruangan karena alat penghitung itu sudah berjalan — sementara SBY masih “ngomel”.

Yang harus diakui dalam debat capres edisi final atau terakhir itu, JK mencuri MOMENT untuk menaikkan “bargaining position” atau daya tawar posisi politiknya di mata publik INDONESIA. JK tidak gentar diserang oleh atasannya sendiri di Kabinet Indonesia Bersatu.

JK selalu saja punya jawaban yang cerdas diselipkan guyonan segar yang membuat dirinya berkali-kali mendapatkan TEPUK TANGAN yang meriah.

Dan salah satu jawaban JK yang sangat mengejutkan untuk “menyodok” SBY adalah, “SATU PUTARAN itu … bisa untuk saya dan Ibu Mega juga !”. Jelas ini menyindir iklan politik SBY – Boediono yang sangat gegabah dan bernada sombong mengatakan PEMILU SATU PUTARAN SAJA.

http://ichwankalimasada.files.wordpress.com/2009/05/mega-prabowo.jpg https://i1.wp.com/www.inilah.com/data/berita/foto/60317.jpg

Dari jauh-jauh hari, pasangan SBY – Boediono sudah dengan percaya diri mengatakan bahwa MEREKA PASTI MENANG dengan perolehan suara sekitar 70 % dan itu akan membuat PILPRES 2009 hanya akan berlangsung sebanyak satu putaran saja !

Secara bersamaan — heran, kok KOMPAK sekali gaungnya berkumandang di tengah masyarakat — yaitu disaat gencar-gencarnya pihak tertentu meyakini HANYA AKAN ADA SATU PUTARAN PILPRES 2009. beberapa hari menjelang penyelenggaraan PILPRES tanggal 8 Juli 2009 mendatang justru mencuat gunjang ganjing seputar DAFTAR PEMILIH TETAP (DPT).

Baru saja 3 bulan yang lalu, INDONESIA mencatat amarah rakyat karena sekitar 40-45 juta rakyat Indonesia tidak bisa memilih dalam Pemilu Legislatif 2009 karena BISA-BISANYA nama mereka tidak dicantumkan dalam DPT.

Namun berdasarkan hasil investigasi Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (KOMNAS HAM), jumlah rakyat Indonesia yang tidak bisa memilih itu sekitar Rp. 20 juta orang dan PEMERINTAH DIWAJIBKAN memfasilitasi ke-20 juta orang itu untuk bisa memberikan HAK SUARA mereka dalam konteks PEMILU LEGISLATIF.

https://i1.wp.com/klatenonline.com/wp-content/uploads/2009/05/pilpres-2009.jpg

Menjelang PILPRES 2009, yang kembali membuat kacau balau adalah rentetan kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPK) yang masuk dalam kategori LALAI ini justru patut dapat diduga berorientasi untuk MEMENANGKAN pasangan tertentu yang ada di pusat kekuasaan.

Jelas saja tudingan itu semakin kuat mengemuka. Lihat saja, di banyak daerah sudah tiba alat peraga sosialisasi PILPRES 2009 (terutama spanduk-spanduk) yang petunjukkan adalah agar rakyat Indonesia MENCONTRENG pasangan kandidat dengan nomor urut 2.

Lalu, di sejumlah daerah mulai diterima dan langsung ketahuan kekisruhan yang sangat fatal dari DPT.

Pasangan JK – Wiranto sudah mengambil ancang-ancang untuk mendesak agar PILPRES 2009 ditunda karena kacau-balaunya kembali masalah DPT. Sejumlah pengamat dan tokoh masyarakat juga menyarankan agar KPU jangan MEMAKSA untuk tetap menggelar PILPRES 2009 dengan kondisi yang sangat MENGERIKAN ini.

Pasangan Megawati – Prabowo Subianto juga sangat keras mengkritisi “jungkir-baliknya” masalah DPT ini hanya beberapa hari menjelang pelaksanaan PILPRES 2009.

Sampai saat ini, KPU masih tetap ngotot bersikukuh untuk menggelar PILPRES sesuai jadwal yaitu 8 Juli 2009.

Yang jadi pertanyaan, gunjang ganjing dan kekacau-balauan seputar masalah DPT menjelang PILPRES 2009 ini, apakah patut dapat diduga SKENARIO tingkat tinggi untuk menggembosi kedua kandidat CAPRES yaitu Megawati Soekarnoputeri dan Muhammad Jusuf Kall ?

Apakah patut dapat diduga, ini adalah SKENARIO tingkat tinggi untuk melemparkan kandidat capres Megawati Soekarnoputeri dan Muhammad Jusuf Kalla agar terjun bebas terhempar ke titik nadir KEKALAHAN yang tak bisa dihindarkan lagi jika misalnya puluhan juta pemilih mereka tak masuk dalam DPT ?

Mata dunia sudah mengarah semuanya mengamati perilaku BANGSA INDONESIA — terutama elite-elite politik dan PEMERINTAH INDONESIA — .

Apakah akan mampu mengulangi kesuksesan penyelenggaraan Pilpres tahun 2004 atau justru membuat sejarah baru yaitu patutkah dapat diduga untuk meraih kemenangan yang wajib diadakan demi mengamankan slogan “LANJUTKAN” itu maka sejak pagi-pagi buta sudah ada disain yang sangat amat “besar” untuk memporak-porandakan nilai-nilai demokrasi itu sendiri ?

Jika nilai-nilai demokrasi itu sudah impoten atau mandul dalam perjalanan bangsa Indonesia di era kekinian maka sudah bisa dibayangkan bahwa nasib INDONESIA akan jauh lebih buruk dari rakyat Irak yang menggelar Pilpres bulan Juni lalu — dan karena tokoh oposisi disana kalak telak serta banyak rakyat yang merasa hak suara mereka “RAIB” maka terjadi demonstrasi besar-besaran yang menelan korban jiwa –.

Lalu untuk apa, figur Megawati Soekarnoputeri dan Muhammad Jusuf Kalla dipasang dan dipajang dalam panggung pertarungan politik tanggal 8 Juli 2009 nanti, jika memang pemenangnya sudah bisa ditebak dari mulai sekarang yaitu masa kekuasaan SBY akan berteriak semakin lantang : LANJUTKAN !

Untuk apa membuang begitu banyak anggaran untuk menyelenggarakan seluruh persiapan dan menyediakan seluruh sarana – prasarana Pemilu Pilpres 2009 ?

Untuk apa KONSTITUSI di negara ini mengatur diadakannya PESTA DEMOKRASI lima tahunan yang bersifat langsung, bebas dan rahasia ?

Untuk apa jajaran POLRI mengerahkan duapertiga dari kekuatan utma mereka untuk mengamankan jalannya Pilpres 2009 jika cuma sandiwara saja karena begitu Megawati Soekarnoputeri dan Muhammad Jusuf Kalla masuk ke bilik suara untuk memasukkan kertas suara mereka, dalam hitungan jam yang tercepat QUICK COUNT akan mengumumkan bahwa Megawati Soekarnoputeri dan Muhammad Jusuf Kalla tumbang dan kalah secara memalukan karena kemenangan diraih secara mutlak oleh pasangan lain dengan perkiraan angkat kemenangan diatas 75 – 85 % misalnya ?

Mengapa tidak dibikin saja, perolehan angka untuk pasangan Megawati – Prabowo Subianto adalah 0 persen alias ZERO, dan perolehan angka untuk pasangan Muhammad Jusuf Kalla dan Wiranto adalah 0 persen alias ZERO juga !

Penyelenggaraan PILPRES 2009 sungguh tak ada gunanya dalam proses demokratisasi di republik ini jika memang pada kenyataannya PULUHAN JUTA rakyat Indonesia — notabene pemilih capres nomor urut 1 atau 3 — kembali alias LAGI-LAGI tidak bisa memberikan hak suaranya.

Tanggal 8 Juli 2009 adalah tanggal bersejarah yang harusnya diberi judul INDONESIA MEMILIH.

Dan bukan, INDONESIA MENANGIS !

Tanggal 8 Juli 2009 adalah tanggal bersejarah yang harusnya memfasilitasi HAK POLITIK RAKYAT yang dijamin oleh UU tetapi patutkah dapat diduga tanggal itu justru menjadi tanggal dimulai tonggak sejarah tersendiri yaitu hancurnya nilai-nilai demokrasi dan remuk redamnya masa depan bangsa Indonesia yang diharapkan bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Masih jauh lebih terhormat kemenangan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad karena pesta demokrasi mereka bisa berlangsung sesuai rencana. Walaupun pada akhirnya, barisan pendukung tokoh oposisi Mousavi yang kalah serta sejumlah rakyat Iran yang hak suaranya “raib” beramai-ramai turun ke jalan.

democrazy

INDONESIA MEMILIH memang sudah dijadwalkan tanggal 8 Juli 2009. Apa dan siapa yang harus dipilih jika patut dapat diduga PEMENANGNYA saja sudah sudah “ditebak” dari sekarang ? Kita seakan bukan mau berdemokrasi karena tak mampu menghormati HAK-HAK POLITIK rakyat. Democracy mendadak sontak berubah menjadi DEMOCRAZY !

Harusnya, para PEMIMPIN DUNIA di muka bumi ini memberikan ucapan selamat atas KEMENANGAN capres yang keluar sebagai “pemenang sebenarnya” pada Pilpres 2009 di Indonesia, setelah agenda Pilpres itu sendiri usai dilaksanakan dan hasilnya diumumkan resmi.

Tapi sepertinya, masing-masing PEMIMPIN DUNIA di muka bumi ini — termasuk misalnya Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB Ban Ki Moon dan Presiden ke-44 AS Barack Hussein Obama yang keduanya sempat ikut ditampilkan gambarnya dalam iklan politik capres tertentu — sudah bisa menyusun draft ucapan selamat mereka dari mulai sekarang.

Ucapan selamat untuk matinya demokrasi di Indonesia ?

Ucapan selamat untuk panggung sandiwara politik Indonesia ?

Atau ucapan selamat untuk apa, kemenangan PILPRES ?

Lho, memangnya PILPRES bisa diselenggarakan secara baik dan benar, yaitu dengan menghormati hak-hak politik rakyat ?

Rasanya perasaan rakyat Indonesia sudah mulai degerogoti perasaan tertekan dan galau yang mencekam — sebelum tiba saatnya, bangsa dan rakyat Indonesia harus benar-benar MENANGIS yaitu menangisi jika memang benar MATINYA DEMOKRASI di negeri iniΒ  !

(MS)

%d blogger menyukai ini: