Beranda > Uncategorized > Tiga Ballerina Dengan Tiga Pilihan Politik Berbeda, Dan Kabar Terbaru Yang Mengejutkan "Jenderal Wiranto" Berhasil Menguasai Panggung Debat Cawapres !

Tiga Ballerina Dengan Tiga Pilihan Politik Berbeda, Dan Kabar Terbaru Yang Mengejutkan "Jenderal Wiranto" Berhasil Menguasai Panggung Debat Cawapres !

24/06/2009

https://i2.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_2.gifhttps://i2.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_2.gifhttps://i2.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_2.gif

OLEH : MEGA SIMARMATA, Editor In Chief Of KATAKAMI.COM


Dimuat juga di BREAKING NEWS WWW.KATAKAMI.COM , WWW.BLOGKATAKAMIINDONESIA.BLOGSPOT.COM dan WWW.KATAKAMIKATAKAMI.VOX.COM


Jakarta 24/6/2009 (KATAKAMI) Bisakah anda bayangkan, kalau misalnya anda punya 3 anak dan ketiganya memiliki pilihan berbeda dalam kehidupan mereka — termasuk pilihan politik — ?

Nah, itulah yang saya hadapi sebagai seorang jurnalis yang memang berkecimpung seluruh rekam jejak di dunia kewartawanan selama lebih dari 15 tahun. Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden (Pemilu Pilpres) awal Juli mendatang, demam “politik” mulai mewabah juga didalam rumah saya.

Khususnya diantara ketiga puteri yang saya lahirkan seluruhnya melalui proses operasi caesar.

https://i2.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_3.gifhttps://i2.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_3.gifhttps://i2.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_3.gif

Tika atau Skolastika (8 tahun), Mika atau Mikaela (7 tahun) dan Nika atau Gaudensnika (3 tahun). Jangan pikir mereka tidak tahu nama-nama Capres dan Cawapres yang akan bertarung di panggung perpolitikan Pilpres Indonesia.

Mereka hapal luar kepala. Dan sebagai orangtua, asyik asyik saja mengikuti pertumbuhan anak yang mencoba untuk “belajar politik” dengan menilai situasi yang ada di sekeliling mereka — menurut daya tangkap dan kecerdasan yang mereka miliki masing-masing –.

Ketiga bidadari kecil saya ini, tidak ada yang kompak pilihannya untuk masalah Capres dan Cawapres.

Mereka hanya kompak dalam hal kelincahan menari BALLET karena ketiganya memang sama-sama mengikuti ekstrakulikuler BALLET.

https://i2.wp.com/www.formatnews.com/photo/1242981485jk%20wiranto.jpg

Bahkan, Tika — yang sulung — sudah mencapai grade atau tingkatan yang lumayan tinggi yaitu Grade 2. Tapi untuk urusan “politik”, ketiga ballerina ini punya pertimbangan politik masing-masing yang menggelitik hati.

Tika, yang akan segera duduk di kelas 4 SD ini, secara pasti dan lantang mengatakan bahwa ia akan memilih pasangan JK – Wiranto. “Mama, aku mau pilih JK – Win (dia tahu slogan pasangan ini adalah JK – Win, red).

“Oh ya, kenapa Nak ?” tanya saya.

“Begini Mama, pasangan ini pasangan yang tercepat mengumumkan pasangannya mereka, itu lho … mengumumkan JK – Win. Yang lain lama. Terus, Mama baca dong di iklan-iklan mereka. Mama gimana sih ? JK … Jaga Keharmonisan … terus katanya untuk Indonesia yang lebih mandiri, pilih JK – Wiranto” jelas Tika kepada sang “Mama” yang pura-pura tak mengerti soal politik.

http://ichwankalimasada.files.wordpress.com/2009/05/mega-prabowo.jpg

Penjelasan Tika ini, tidak diterima oleh sang adik yaitu Mika — anak saya yang nomor dua –.

“Huh, kakak payah. Aku pilih Mega – Pro. Mega – Prabowo. Kakak lupa ya, Megawati itu nawarin SEMBAKO MURAH. Mau … semua semua serba mahal seperti sekarang ? Aku pilih Mega – Pro. Pro Anak Muda, YESSS ! Gitu Mama, tapi iklannya sedikit di televisi. Kenapa ya ? Kalah sama iklannya JK – Wiranto” kata Mika.

Saya hanya tersenyum setiap kali kakak beradik ini berdekat soal pilihan politik mereka.

https://i0.wp.com/static.tvguide.com/MediaBin/Galleries/Shows/A_F/Di_Dp/DoraTheExplorer/crops/dora-explorer.jpg

Yang seru, kalau anak saya yang paling kecil sudah ikut angkat bicara — yang notabene jadi musuh bersama kakak-kakaknya sebab si bungsu ini memang modal gertak saja jika mau mendapatkan sesuatu milik kakak-kakaknya –. Dalam keluarga kami, si bungsu in biasa dipanggil DORA. Itu disebabkan karena ia sangat menyukai tokoh kartun DORA THE EXPLORER, dan jangan coba-coba membelokkan jadi DORAEMON, tokoh kartun lainnya yang gendutdan lebih lucu sebenarnya — sebab si bungsu “DORA” tidak segan-segan menggebuk kalau ada yang salah memanggil dirinya yaitu dari DORA THE EXPLORER menjadi DORAEMON.

Kalau kedua kakaknya sudah bicara “politik”, si bungsu ini akan ikut ambil bagian dengan gaya dan logat bicara yang masih sangat cadel.

https://i2.wp.com/www.animated-angels.com/animated-angels/winter-angels/rose-angel.gif

“Mama, aku pilih PALTAI BUNGA … aku ketuanya, aku yang pimpin. Aku gak mau pilih SBY, aku pilih PALTAI BUNGA. Kalau PALTAI GELINDLA yang menang, aku mau pilih PALTAI GELINDLA, tapi kata papa PALTAI GELINDLA kalah jadi juara satu. Jadi aku pilih PALTAI BUNGA ya MAMA !” kata si Nika “DORA”.

Kalau sudah sok tahu dan “tidak nyambung” seperti ini arah pembicaraan, kedua kakaknya dengan sangat judes tetapi geli mendengar jawaban sang adik, akan ramai-ramai mengoreksi.

“Huuu, Dedek … gak nyambung banget sih, gak ada lageee, PARTAI BUNGA. Sekarang pilih orangnya Dek, bukan pilih partainya kayak dulu” kata Tika, si sulung yang punya kadar kecuekan sangat amat tinggi dalam sikap dan perilakunya.

“Ah, bial aja, aku mau pilih PALTAI BUNGA, ya kan Mama. Mama pilih siapa ?” tanya si bungsu Nika “DORA”.

Nah, kalau sudah ditanya seperti maka saya harus pintar-pintar menjawab.

Sebab, kalau saya jawab yang sejujurnya, mereka akan dengan mudah menceritakan kepada siapa yang mereka jumpai bahwa Sang Mama memilih si A atau si B atau si C. Jadilah, saya menjawab dengan diplomatis saya.

https://i1.wp.com/static.tvguide.com/MediaBin/Galleries/Editorial/090119/inaugural/inaugural25.jpg

“Kalau Mama, milih Obama dan Joe Biden aja ahhh …..” jawab saya sambil becanda.

Tika, si sulung menjawab “Itu kan di Amerika, Mama. Mama kan harus pilih yang di Indonesia !”.

Saya jawab lagi, “Wah, kalau yang di Indonesia, rahasia dong. Pemilu kan bebas dan rahasia”.

Seperti itulah gambaran pilihan politik dalam keluarga kami. Saya membiarkan dan mempersilahkan anak-anak saya yang masih di bawah umur ini untuk bicara tentang “politik” sesuai dengan gambaran dan pengertian mereka sebagai anak-anak.

Jika memang ada yang ingin mereka tanyakan, barulah saya menjelaskan.

Dan jika ada yang kurang tepat dari pandangan atau pengertian mereka, maka saya  juga harus cepat memberikan koreksi agar pengetahuan politik yang tertanam dalam diri anak-anak ini memang menjadi benar sejak awal penyusunan fondasi-fondasi dalam diri mereka. Pemilu Pilpres tinggal beberapa hari lagi.

Tentu, tak cuma anak-anak saja, seluruh rakyat Indonesia dari semua lapisan menantikan PESTA DEMOKRASI yang sangat penting ini.

https://i0.wp.com/koran.seveners.com/wp-content/uploads/2009/04/indonesia-memilih1-225x300.jpg

Mari kita berikan suara dan pilihan politik kita pada Pemilu Pilpres nanti. Dan mari kita juga menghimbau kepada semua pihak untuk menghormati pilihan politik dari anak bangsa yang lain.

Janganlah ada pemaksaan kehendak. Janganlah ada rekayasa atau kejahatan-kejahatan politik yang mengebiri atau menyunat hak suara pasangan Capres – Cawapres yang menjadi pesaingnya.

Janganlah juga ada agen-agen intelijen atau perangkat keamanan — termasuk juga semua perangkat pemerintahan — yang patut dapat diduga memancing di air keruh untuk memenangkan pasangan tertentu. Lihatlah carut marutnya situasi pasca Pemilu Pilpres  di Iran.

Apa yang mau dibanggakan dari Iran saat ini ?

Negeri mereka luluh lantak, sekitar 7 orang tewas dan ratusan orang terluka. Tetapi tetap saja, sampai detik ini tidak ada solusi politik yang bermartabat di Iran.

https://i0.wp.com/kpuklaten.com/wp-content/uploads/2009/05/centang.gif

Janganlah juga ada CAPRES tertentu yang ganti gaya dalam kampanye yaitu kebalikan dari iklan politiknya yang selama ini kerap membanggakan diri dan keberhasilan yang menggebu-gebu, sekarang dibuat jadi memelas dan sok terzolimi. “TETAP SABAR, WALAU DICACI MAKI”, demikian isi sebuah spanduk yang kami baca Rabu (24/6/2009) pagi ini di salah satu sudut kota Jakarta.

Weleh weleh, aduh piyung … macam mana awak tak jadi bingung, yang mencaci dan memaki ente itu siapa, Jek ?

Ndak ada, janganlah berhalusinasi dan berfantasi. Jangan terbiasa menzolimi diri sendiri tetapi melemparkan kesalahan kepada pihak lain yang terus mendapat dukungan rakyat.

Saatnya INDONESIA memilih pemimpin sejati.

Pemimpin yang tidak suka MENZOLIMI. Baik itu MENZOLIMI dirinya sendiri, MENZOLIMI lawan politik, MENZOLIMI jurnalis atau media, MENZOLIMI nilai-nilai kebenaran dan keadilan”.

https://i1.wp.com/www.jkwin4you.com/fotoberita/200905311932521.jpg

Dan disaat seperti ini, kabar terbaru yang hadir ke tengah rakyat Indonesia adalah, dari panggung DEBAT CAWAPRES yang diadakan Selasa (23/6/2009) malam, Cawapres dari Capres Jusuf Kalla yaitu Jenderal Wiranto berhasil menguasai panggung perdebatan itu.

Mantap !

Wiranto menunjukkan kelasnya sebagai Jenderal Berbintang 4 yang sesungguhnya. Bukan apa-apa, ada lho yang sebenarnya bukan Jenderal Berbintang 4 karena sebenarnya bintang 4 yang dimilikinya cuma sebuah pemberian cuma cuma alias gratisan dari Pemerintah Indonesia.

https://i2.wp.com/www.perspektif.net/i/art/wiranto.jpg http://toghe91.files.wordpress.com/2009/03/65464_deddy_mizwar_thumb_300_225.jpg

Beda, antara Jenderal bintang 4 yang asli, dengan Jenderal bintang 4 yang “tidak asli” karena yang “tidak asli” ada embel-embel KEHORMATAN. Lagi-lagi, yang bisa dikatakan adalah

“Weleh, Weleh, Aduh Piyung … macam mana awak tak jadi bingung !”.

Nagabonar juga pangkatnya Jenderal lho, tapi tentu saja masuk dalam kategori Jenderal bintang 4 yang tidak asli.

Sambil menunggu jadwal penyelenggaraan Pilpres awal bulan Juli mendatang, elok rasanya kalau menghibur hati mendengarkan sebuah iklan politik dari pasangan Capres – Cawapres tertentu yang kini banyak ditayangkan di berbagai media televisi … “PAK KETIPAK KETIPUNG SUARA GENDANG BERTALUH-TALUH !”.

Selamat menentukan pilihan pilihan politik yang sesuai dengan kata hati.

Pilihlah yang diyakini akan membawa Indonesia menjadi lebih baik. Jangan golput, jangan apatis dan jangan sinis. Tentukan saja pilihan. Selama masih ada hidup, maka disitu akan selalu ada harapan.

Ya, harapan untuk membawa dan membuat Indonesia menjadi LEBIH BAIK dalam pengertian yang sesungguhnya. (MS)

%d blogger menyukai ini: