Beranda > Uncategorized > Catatan Kecil Pada Perayaan "Father's Day", My Daddy Is My Hero !

Catatan Kecil Pada Perayaan "Father's Day", My Daddy Is My Hero !

22/06/2009

Oleh : Mega Simarmata, Pemimpin Redaksi

Dimuat juga di http://www.katakamikatakami.vox.com dan http://www.katakaminews.wordpress.com


Jakarta 21/6/2009 (KATAKAMI) Di Indonesia, sedikit kurang populer perayaan HARI AYAH (FATHER’S DAY). Yang sangat lazim adalah perayaan HARI IBU setiap tanggal 22 Desember (MOTHER’S DAY).

Tapi rasanya, menarik juga jika saya mengulas sedikit tentang kenangan dan apa pandangan dalam diri saya terhadap figur seorang ayah.

Ayah saya, Oloan Herlin Simarmata Sarjana Hukum, adalah seorang pensiunan Hakim. Ia menikah dengan RA Pasaribu teman sekuliahnya DI Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU), yang tak lain adalah ibu saya. Seorang perempuan yang sangat mulia hatinya. Perempuan yang mengajarkan kami anak-anaknya untuk sangat kuat mengandalkan kekuatan “DOA” dalam menjalani kehidupan.

Jabatan terakhirnya adalah Ketua Pengadilan Tinggi di Sulawesi Utara dan memasuki masa pensiun pada awal tahun 2001.

Yang menjadi kesamaan sangat mendasar antara saya dan ayah saya adalah kami berbintang sama yaitu AQUARIUS dan sama-sama memiliki golongan darah A.

Ayah saya, pribadi yang sangat hangat, punya rasa humor yang sangat amat tinggi, murah hati tak terhingga kepada anak-anaknya, sangat siap dan selalu mau menjadi pendengar yang baik untuk semua anak-anaknya. Dalam keluarga, saya anak bungsu dari 5 bersaudara.

Hal lain yang membuat kedekatan bathin saya menjadi lebih dekat dengan ayah saya adalah dari 7 anak (2 diantaranya meninggal dunia sewaktu bagi balita), hanya saya yang sewaktu lahir dibiayai dari hasil pendapatan ayah saya sendiri yang waktu dekade tahun 1970-an masih menjabat sebagai “hakim biasa”. Saudara saya yang lain dibiayai “ongkos rumah sakitnya” oleh Kakek saya Almarhum “TUAN SARIBURAJA” Somuntul Bungajalan Pasaribu. Dan tidak tanggung-tanggung, semua saudara saya itu lahir di rumah sakit swasta yang sangat bagus dan mahal yaitu Rumah Sakit Elizabeth Medan. Sedangkan saya, (hehehe) lahir di Rumah Sakit Umum Pringadi Medan.

Panggilan saya untuk ayah saya kalau sedang bercanda adalah “Don Corleone”, nama tokoh MAFIA dalam film GODFATHER. Karena itu adalah film kesukaan kami sekeluarga. Dan satu kalimat yang ada dalam film itu adalah “Don’t Let People Know, What You’re Thinking”.

Dilahirkan dari keluarga yang sangat apa adanya di sebuah dusun kecil yaitu Lumban Suhi-Suhi di Pulau Samosir, ayah saya sangat dimanja oleh ayah ibunya. Itu disebabkan karena kelahirannya didunia ini sangat lama dinantikan oleh ayah dan ibunya yaitu Almarhum Mangga Albinus Simarmata dan Katarina Manik. Tigabeslas tahun setelah pernikahan, barulah kakek dan nenek saya itu bisa mendapatkan anak pertama dan itulah yang kelak menjadi ayah saya.

Entah karena di masa kecilnya, ia memang sangat dimanjakan (padahal ketiga orang adiknya sangat jarang dimanjakan berlebihan oleh kakek nenek saya), kepada kami semua anak-anaknya … ayah saya memang terlihat sangat konsisten pada satu hal yaitu memberikan apapun yang terbaik untuk anak.

Bahkan kalau anak-anaknya memilih pasangan yang sesuai dengan keinginan masing-masing. Abang saya yang sulung, Barce Simarmata memilih menikah dengan teman sekuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berlatar-belakang suku Cina. Sempat mendapat penolakan yang keras dari ibu dan kakak perempuan saya (Wendy Simarmata). Tetapi, ayah saya tidak sampai hati dan sejak awal “merestui” hubungan itu dengan cara yang sangat halus.

Dalam kenangan saya di masa kanak kanak, salah satu sifat yang menonjol dari ayah saya adalah beliau tidak pernah marah secara keras kepada anak-anak. Sungguh sangat lembut dan memukau luar biasa hatinya. Ini menjadi sebuah kenangan mendasar yang mengakar didalam hati kami anak-anaknya. Kemanapun ia pergi, ia pasti membelikan buah tangan atau oleh-oleh sesuai dengan permintaan dari anak-anaknya.

Dan, pasti yang dituliskan oleh anak-anaknya akan dibelikan oleh ayah saya.

Saat beliau memasuki masa pensiun tahun 2001, saya yang mendapat kesempatan untuk pergi ke Eropa bersama ayah ibu saya. Mereka lebih dulu berangkat ke Amsterdam, dan saya menyusul beberapa hari kemudian. Saat saya datang, di pintu penjemputan sudah berdiri ayah dan ibu saya dengan senyum mereka di Bandara Schipol Amsterdam.

Dari Belanda, kami bertiga mengunjungi Lourdes di Perancis Selatan, sebuah tempat suci bagi UMAT KATOLIK di seluruh dunia sebab di Lourdes inilah MARIA, Ibunda Yesus, menampakkan diri kepadz Santa Bernadette Soubirous. Dan salah satu tanda yang penuh mukjizat di Lourdes, adalah keluarnya mata air yang diyakini akan dapat memberikan “kesembuhan” — secara jasmani dan rohani kepada umat yang mengimani dengan sungguh-sungguh kemurahan hati Tuhan –. Saya pribadi, sudah 6 (enam) kali berziarah ke “tanah suci” LOURDES ini.

Perjalanan ke Lourdes ini, tidak akan pernah dilupakan oleh ayah saya. Sebab saya “mengerjai” beliau. Di Lourdes, semua umat yang datang ke sana akan menyempatkan diri untuk “mandi” di air suci yang memang dibuatkan khusus menjadi tempat-tempat permandian. Ada yang khusus untuk lelaki dan ada juga yang khusus untuk perempuan.

Suuatu hari saat kami di Lourdes, saya katakan kepada ayah saya, “Pak, didalam ruangan sini nanti, ada pemandangan bagus. Tapi dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Nah sekarang, Bapak masuk ke dalam. Aku tunggu diluar,” kata saya kepada ayah saya waktu itu.

Dan beliau percaya. Masuklah ayah saya di “ruangan” itu — yang ternyata adalah tempat permandian untuk untuk kaum lelaki. Saya sudah tertawa terbahak-bahak karena saya tahu pasti ayah saya akan kedingingan mandi didalam. Sebab, untuk mandi disana harus (maaf) telanjang dan airnya … DINGIN SEKALI. Ketika kami datang, suhu disana minus 2 derajat celcius.

Ketika ayah saya keluar, beliau tidak marah dan malah kami berdua tertawa terbahak-bahak berdua. Beliau tahu dan sadar bahwa sudah dikerjai oleh anak bungsunya. Dan sampai saat ini, jika mengenang peristiwa itu maka ayah saya akan tertawa terbahak-bahak.

Dan sepanjang berapa di Eropa, kami punya kesukaan yang sama yaitu duduk di kafe, sekedar untuk menikmati secangkir cappucino hangat dengan dilengkap “panecake”.

Ayah saya adalah penyayang binatang. Itulah sebabnya, sewaktu saya kecil dulu … kami pernah punya anjing peliharaan sampai 20 ekor. Sebagian diantaranya adalah anjing ras, herder dan doberman. Dan salah satu hobi lainnya dari ayah saya adalah memelihara ikan arwana didalam aquarium. Dan itu yang membuat ayah saya sedih saat terjadi musibah banjir di kawasan Grogol (yang menjadi rumah keluarga besar kami), sebab air banjir setinggi 1.5 meter didalam rumah membuat ikan arwana kesayangan ayah saya “lepas” dan raib sampai saat ini.

Dan itu yang membuat ayah saya tidak ingin memelihara ikan didalam aquariumnya. Saya tahu, beliau tidak ingin “kehilangan” untuk yang kedua kalinya.

Ayah saya, tipikal yang “jahil” juga. Dan semua anak-anaknya pernah jadi sasaran.

Saya ingat, satu waktu saat beliau menjadi Hakim Tinggi di Kupang (Nusa Tenggara Timur), datanglah surat dari kekasih abang saya yang nomor 3. Teodorus Simarmata, sekarang bertugas di Imigrasi. Dari kami berlima, hanya Teo yang ikut ke NTT saat ayah saya bertugas disana. Dan Teo, memutuskan untuk kuliah di NTT mengambil program S-1 nya dulu.

Dulu saat masih kuliah di NTT, abang saya itu pernah berpacaran dengan seorang gadis “Porto” alias Portugis yang tinggal di Dili (sekarang menjadi ibukota Timor Leste). Ia berkirim surat kepada abang saya. Dan ayah saya “keluar” jahilnya. Ia membuka pelan-pelan amplop surat itu, dari berlembar-lembar surat cinta, diambil selembar dan didalam surat itu dimasukkan uang logam (uang recehan). Kemudian amplop itu lem rapi agar tidak ketahuan.

Bisakah anda bayangkan, bagaimana saat abang saya membuka surat cintanya yang sudah “dikerjai” oleh ayah saya. Hehehehe. Pertama-tama saat membaca, abang saya agak kebingungan karena ada yang jalan cerita yang “missing” atau hilang dari surat cinta itu. Dan mengapa ada uang recehan logam … untuk apa ? Tapi lama-kelamaan, abang saya tahu siapa “pelakunya”.

Bagi saya, ayah saya adalah sahabat sangat sempurna dan pendengar yang baik bagi setiap keluh kesah yang menjadi ganjalan di hati anak-anaknya. Kalau sudah ada masalah yang mengguncang hati, saya tahu kepada siapa saya harus berbicara.

Saya pasti menelepon ayah saya. Sering, saya sampai menangis tersedu sedan sampai saat ini jika berkeluh kesah tentang sesuatu yang sangat “mendasar”, kalau memang ada hal-hal yang menyedihkan hati dalam kehidupan saya.

Dan itu juga yang dilakukan oleh kakak perempuan saya, Wendy, dia pasti tahu kepada siapa dia harus “curhat” jika ada masalah atau keluhan yang sangat mengguncang hatinya.

Sebagai jurnalis selama lebih dari 15 tahun, bidang yang menjadi spesialisasi tulisan atau peliputan saya adalah politik, hukum dan keamanan. Khusus di bidang hukum, saya pasti tahu kepada siapa juga saya harus “berdiskusi” atau “bertanya” tentang permasalahan hukum.

Saya pasti menghubungi ayah saya untuk bertanya, walaupun abang saya yang nomor 4 (Edward Simarmata) adalah seorang hakim, satu-satunya yang meneruskan profesi hakim dalam keluarga saya. Saat ini, Edward bertugas sebagai HAKIM Di Pengadilan Negeri Bitung, Gorontalo.

Sama seperti ibu saya, ayah saya menempatkan anak sebagai permata hati yang tak akan putus-putusnya mendapatkan curahan kasih sayang dan pemberian-pemberian yang menyentuh hati.

Sama seperti ibu saya, ayah saya memperlakukan anak sebagai “orang” yang tak boleh disakiti dan justru harus dilimpahi dengan semua kebaikan demi kebaikan. Dari mulai kami lahir, bertumbuh dan berkembang sebagai balita, remaja, dewasa dan saat semua sudah menikah. Tidak ada yang berubah, perlakuan mereka tetap sama kepada anak-anaknya.

Selalu ada cerita yang lucu dan memancing gelak tawa, bila saya bertemu dengan ayah saya. Pasti selalu saja ada yang stok cerita-cerita yang lucu.

Itu sebabnya, sangat ganjil dan begitu “mengerikan” rasanya, jika ada didunia ini kaum lelaki yang memperlakukan anak-anaknya atau anak-anak kecil pada umumnya secara brutal, tidak manusiawi, biadab atau melenceng dari nilai-nilai kepatutan serta kewajaran. Saya dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang menempatkan posisi “anak” sebagai pihak yang harus dikasihani, dihargai dan disayangi.

Bukan cuma anak sendiri, tetapi juga anak-anak orang lain — anak kecil secara keseluruhan.

Apa bedanya dengan binatang, jika cuma anak sendiri yang disayangi tetapi anak orang dihajar, ditindas dan diperlakukan tidak baik ? Binatang yang paling buas, pasti akan sangat menjaga dan menyayangi anaknya sendiri tetapi anak “pihak” lain justru dimangsa.

Saya menghormati dan sungguh mencintai ayah ibu saya, sebab mereka pasangan yang mengagumkan dan menjadi denyut nadi dalam kehidupan saya sebagai anak mereka.

Sudah hampir 5 tahun terakhir, ibu saya menderita sakit permanen pasca operasi di bagian kepala beberapa tahu lalu — yang menyebabkan kondisi fisiknya terbatas dan memori ingatannya berkurang –

Tetapi dengan sangat sabar sekali, ayah saya mengurus ibu saya sampai hal yang sekecil-kecilnya — maaf, memasangkan pakaian dalam, membantu buang air, membantu untuk makan dan minum, terutama minum obat –.

Ayah saya bangga, karena saya sebagai anak bungsunya konsisten dan sungguh menekuni profesi sebagai seorang jurnalis.

Dan diatas semua kebanggaan yang dirasakan oleh ayah (dan ibu saya), saya ingin mereka tahu bahwa justru merekalah yang paling pantas dibanggakan oleh saya, dan ke-empat saudara saya.

Cinta mereka, adalah matahari yang menyinari hidup anak-anak mereka. Cinta mereka, adalah bintang yang menghiasi “langit kehidupan” anak-anak mereka di waktu malam. Cinta mereka, adalah kekayaan yang paling berharga pemberian Tuhan kepada anak-anaknya.

Satu waktu, disaat saya berulang tahun, ayah saya mengirimkan ucapan selamat ulang tahun dengan sebuah harapan yang mengutip doa saya sewaktu kami bersama-sama berkunjung ke Lourdes (Perancis), “Tuhan, tidak perlu kekayaan yang berlimpah diberikan kepada kami, tapi berikanlah apa yang kami butuhkan, terutama kebahagiaan di hati”.

Dan dalam ucapan selamat ulang tahun itu, ayah saya menuliskan pesannya seperti ini, “Ananda Tercinta, Selamat Ulang Tahun Anakku, ingatlah doamu di Lourdes, Tuhan … tidak perlu kekayaan berlimpah yang diberikan kepada kami, tetapi berikanlah saja apa yang kami butuhkan, terutama kebahagiaan di hati”.

Walau di Indonesia ini, tidak populer perayaan “FATHER’S DAY”, saya ingin ikut meramaikannya di komunitas yang merayakannya di belahan dunia manapun karena saya bangga memiliki ayah yang penuh cinta yang tak pernah berkesudahan sepanjang waktu.

Sebuah doa, yang barangkali belum pernah didengar oleh ayah saya selama ini dari mulut dan hati saya sebagai anaknya, juga ada yang sangat khusus. Saya ingin memberitahukan doa saya itu dan dengan sepenuh hati saya ingin Tuhan mengabulkannya.

“Ya Tuhan, berikanlah umur yang panjang kepada ayah dan ibu saya, sepanjang umur NABI MUSA”.

PS : Horas ma Amang, Inang, holong do roha nami tu hamu. Mauliate godang, sahat ma tabe sian hami. (Salam untuk kalian, Bapak dan Ibu, kami sangat menyayangi kalian. Terimakasih banyak, dan kami sampaikan salam hormat dari kami).

Ananda Tercinta,

MS

%d blogger menyukai ini: