Beranda > Uncategorized > Thank You God, Gracias A Dios, Untuk Terkabulnya Doa & Harapan Bebasnya Roxana Saberi Dari Rezim Iran

Thank You God, Gracias A Dios, Untuk Terkabulnya Doa & Harapan Bebasnya Roxana Saberi Dari Rezim Iran

Jakarta 16 Mei 2009 (KATAKAMI)  Kalau untuk sebagian orang, barangkali yang menjadi euforia adalah deklarasi bak panggung sandiwara satu babak dari sejumlah pihak yang mengumumkan pendeklarasian mereka di panggung politik nasional.

Barangkali dianggap untuk mengurus sebuah negara yang majemuk seperti Indonesia ini, cukup dengan satu kedipan mata yang genit maka semua penderitaan rakyat akan teratasi. Itulah sebabnya, hal lain yang lebih menyentuh hati dan mendorong kami untuk membahasnya secara khusus adalah bebasnya wartawati AS yang selama berbulan-bulan dipenjara oleh REZIM di Iran, ROXANA SABERI.

Its amazing. Sebuah mukjizat atau keajaiban telah diberikan oleh Sang Klalik. Memang benar sebuah kalimat bijak yang mengatakan, “Manusia merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan”. 

Lalu kalimat bijak lainnya ada yang mengatakan, “Tidak ada yang mustahil di hadapan Tuhan”. 

Naha hai impossible para DIOS. Gracias a DIOS. Terimakasih Tuhan.

Pembebasan Roxana Saberi dari penjara Iran — padahal sebelumnya sudah sempat divonis 8 tahun penjara — adalah sebuah kabar baik yang kami sambut dengan sukacita. 

Senyum Roxana saat keluar dari penjara Iran benar-benar meyentuh hati. Sebuah senyuman yang hanya bisa terjadi saat “tangan Tuhan” memberikan kekuatannya untuk menghentikan sebuah pemutar-balikan fakta dan pencederaan terhadap kemuliaan tugas seorang jurnalis di muka bumi ini.

 

 

Informasi tentang pembebasan Roxana Saberi sudah tersebar di media-media asing hanya beberapa menit setelah Roxana Saberi menginjakkan kakinya di Wina, Austria. Ia sudah dibebaskan sejak hari Senin lalu dan untuk beberapa hari ke depan ini akan beristirahat sejenak di Wina Austria untuk menenangkan diri.

Berita tentang pembebasan wartawati cantik ini, dituliskan dalam laporan ANTARA NEWS berikut ini :

Wina (ANTARA News/AFP) – Wartawati kelahiran AS Roxana Saberi, yang dibebaskan dari sebuah penjara di Iran pekan ini, tiba di Wina, Jumat, dalam penerbangan dari Teheran. Saberi mengatakan kepada AFP, ia berencana menghabiskan waktu beberapa hari di kota itu karena Wina merupakan tempat yang tenang dan santai.  Saberi, yang didampingi ayah, ibu dan saudara laki-lakinya, tidak memberikan penjelasan terinci mengenai rencana perjalanannya. Tak lama setelah pembebasannya, ayahnya, Reza Saberi, mengatakan, keluarganya berencana membawa Rozana kembali ke AS.  Saberi dibebaskan Senin lalu setelah masa hukuman penjara yang semula delapan tahun, atas tuduhan melakukan tindakan mata-mata untuk AS, dikurangi menjadi hukuman dua tahun yang ditangguhkan oleh sebuah pengadilan banding.  Saberi mengatakan, keluarganya memutuskan pergi melalui Wina karena Duta Besar Austria di Teheran telah sangat membantu. “Saya ingin berterima kasih kepadanya.”  Wartawati berusia 32 tahun yang memiliki kewarganegaraan ganda AS-Iran itu telah berada di Iran selama enam tahun dan melakukan peliputan untuk National Public Radio (NPR) yang berpusat di AS, BBC dan kelompok media asing.

 

Pembebasan Roxana Saberi, memang merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan. Sangat tak terduga dan menjadi sebuah keajaiban yang mendatangkan membawa keselamatan penuh haru-biru dalam keluarga besar Roxana Saberi.

Kami yakin, dibalik semua peristiwa yang menyentuh hati ini memang ada upaya diplomasi dan kegigihan yang mengagumkan dari Pemerintah AS untuk menyelamatkan Roxana dari cengkraman hukum Iran yang menjengkelkan.

Masa tugas Roxana di Iran sebagai koresponden media AS, bukan baru sehari atau dua hari. Ia sudah 6 tahun bertugas di Iran. Ia sudah mengenal Ahmadinejad sebagai tokoh oposisi — jauh sebelum Ahmadinejad menjadi Presiden Iran –.

Lantas, kalau tiba-tiba Roxana ditangkap, dipenjara, diadili dengan dakwaan yang menyesatkan dan akhirnya divonis bersalah dengan pidana kurungan atau penjara selama 8 tahun, semua media massa di muka bumi ini bangkit membela.

Hak apa yang dimiliki Pemerintah Iran yang lewat tangan-tangan penegak hukumnya menghakimi wilayah kehidupan pribadi jurnalis AS ini dengan tuntutan yang dibelokkan dari prinsip-prinsip kebenaran ?

Bahwa ada seorang jurnalis kedapatan membeli minuman beralkohol (WINE) di sela-sela hidup kesehariannya di negeri perantauan tempatnya bertugas, itu adalah ruang pribadi atau domain dari kehidupan Roxana yang sangat pribadi.

Lantas dari latar belakang dan fakta yang riil bahwa kesalahan Roxana adalah membeli minuman anggur (WINE) dibelokkan menjadi tudingan sebagai agen mata-mata asing, darimana dongeng seperti itu bisa dikarang-karang ?

Bahkan kami pun, jurnalis yang tumbuh, berkembang, bertugas dan berjuang di sebuah negara berkembang seperti INDONESIA, juga menyukai minuman anggur merah misalnya (Red Wine, Red).

Lalu misalnya kami menempuh penerbangan antar negara, maka salah satu hobi yang menggelikan dan menguntungkan adalah setiap kali pramugari atau pramugara maskapai penerbangan yang membawa kami itu lewat di sisi tempat duduk kami di dalam pesawat, maka kami kami mengajukan permohonan dengan nada suara yang sangat manis dan penuh bujukan, “Red wine, please !”.

Jadi kalau pramugari dan pramugara itu lewat berulang-ulang kali dalam penerbangan yang menghabiskan waktu belasan jam, kami akan mendapatkan tambahan barang baru yaitu anggur merah yang lezat dalam kemasan botol kecil untuk jadi minuman di kala senggang. Dengan meminum itu, kami tidak menjadi mabuk atau liar. Kami samasekali tidak merokok, apalagi menggunakan narkoba. Kami tidak menyukai kehidupan malam atau dugem sambil gedeg gedeg akibat pemakaian narkoba di tengah dentuman musik yang menggema keras sehingga pasti bisa membuat telinga menjadi pekak alias berisik. Tetapi jangan lantas karena kami menyukai wine — khususnya red wine — maka kalau nanti kapan-kapan kami tugas keluar negeri … apalagi ke Iran, akan ditangkap dan dipenjara juga dengan dakwaan sebagai agen mata-mata.

Gak janji deh !

Di negara-negara Eropa, minuman anggur (wine) adalah minuman yang menyehatkan. Ladang-ladang anggur yang ditanam para petani di Eropa sana, sangat indah dilihat apalagi bila sedang panen. Kami pernah melihatnya.

Wine bukan minuman yang memabukkan atau menyesatkan.

 

Tanpa adanya perjuangan yang gigih dari segenap aparat dan perangkat pemerintahan dibawah kendali Presiden Barack Obama, tak akan pernah mungkin Roxana Saberi bisa bebas dari cengkraman hukum yang jungkir balik prinsip-prinsip kebenaran dan keadilannya selama ini.

Pasca jatuhnya vonis 8 tahun penjara untuk Roxana Saberi pada pengadilan tingkat pertama di Iran beberapa bulan lalu, tampaknya Pemerintah AS menyadari bahwa cara menangani permasalahan ini tak bisa dan tak mungkin lagi hanya sekedar menyampaikan seruan-seruan terbuka di media massa agar Roxana dibebaskan.

Sebab, patut dapat diduga Presiden Ahmadinejad memang keras kepala dan terkadang jadi kelihatan arogan alias sok jago.

Ketika ada seruan keprihatinan keluar dari Pemerintah AS agar wartawati mereka ini dibebaskan, maka hanya dalam hitungan jam atau hari seruan keprihatinan itu direspon langsung oleh Presiden Ahmadinejad di media massa juga. 

Respon dan pernyataan resmi yang terakhir dari Presiden Ahmadinejad adalah, “Silahkan bagi Roxana Saberi menyampaikan pembelaan dirinya di pengadilan tingkat banding jika memang ingin menempuh jalur hukum untuk mendapatkan pembebasan bagi dirinya”. 

 

Ini menjadi pelajaran berharga bagi Presiden Barack Obama dan Pemerintah AS secara keseluruhan bahwa dalam menyelesaikan kasus-kasus sensitif menyangkut isu-isu krusial semacam ini, tidak dibutuhkan lagi perang kata-kata di media.

Diplomasi tak harus yang bersuara kencang jika ingin meraih hasil yang signifikan dan maksimal perubahannya ke arah yang lebih baik.

Diplomasi tak harus ditempuh dengan cara membuat gaung yang berbunyi keras di telinga seluruh dunia jika ingin menyelamatkan warga negara mereka yang bermasalah dengan hukum di negara asing yang patut dapat diduga sedang dipimpin oleh manusia bertipikal arogan.

Disinilah dibutuhkan kecantikan diplomasi, kematangan intelijen, kecerdasan dalam mencari jalan alternatif untuk melobi dan kemuliaan hati sebagai pemimpin negara agar dalam menyelesaikan masalah yang bersifat “gawat darurat” harus penuh dengan perhitungan yang jeli.

Barack Obama pasti punya andil yang besar dengan tidak membiarkan upaya penyelamatan wartawati ini bocor ke pihak manapun sampai akhirnya Roxana dibebaskan.

Kami yakin, dibalik pembebasan wartawati ini memang ada andil yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata semata dari Barack Obama dan kabinetnya.

 

Ini prestasi besar dan memperpanjang daftar keberhasilan duet Obama – Hillary dalam mngelola berbagai permasalahan bangsa dan negara mereka. “DIPLOMASI HENING” yang dipraktekkan pasca jatuhnya vonis8 tahun penjara untuk Roxana Saberi yang dilakukan Obama dan kabinetnya telah membuahkan hasil nyata.

Mengapa kami sebut istilah DIPLOMASI HENING ?

Ya, sebab kecerdasan yang dikaruniakan Tuhan kepada Obama dan Hillary akhirnya mampu menyadari bahwa kalau cuma mengumbar seruan-seruan keprihatinan di media massa untuk memperkuat dukungan moral bagi pembebasan Roxana, ternyata tak cukup ampuh untuk membuat Presiden Ahmadinejad mengubah kebijakan pemerintahannya yang patut dapat diduga penuh dengan arogansi busuk.

Kami tidak ragu-ragu untuk memberikan penilaian tersendiri bahwa mereka penegakan hukum di Iran — khusus untuk kasus Roxana Saberi — patut dapat diduga mengandung kebusukan yang luar biasa sebab dengan tega hati melakukan pemutar-balikan fakta.

 

Kalau dengan tangan-tangan besi dan mulut-mulut lancang, ada pihak tertentu yang mengatakan Roxana Saberi atau JURNALIS lainnya yang bertugas di negara-negara asing adalah agen mata-mata … maka kalangan JURNALIS juga bisa balik bertanya dan menyampaikan respon keras bahwa penguasa yang melakukan semua kesewenang-wenangan itu adalah manusia yang tak punya akal budi, tak punya hati, tak punya kemauan dan kemampuan untuk menghormati hukum, HAM dan nilai-nilai kemanusiaan.

Jangan pernah ada yan melecehkan JURNALIS, khususnya JURNALIS PEREMPUAN. 

Dimanapun jurnalis perempuan itu bertugas, pasti akan sangat tangguh, bekerja keras dan teguh hati untuk melakukan semua kegigihan dalam menjalankan tugas kewartawanannya.

Dan ketika ada jurnalis perempuan yang secara fisik memang sangat cantik, menawan hati, mempesona dan mampu membuat lawan jenisnya jatuh hati, yang harus diingat disini adalah jurnalis adalah jurnalis.

Sekali jurnalis tetap jurnalis. Sekali wartawan tetap wartawan. Wartawan bukan pelacur. Wartawan bukan pekerja seks komersial. Wartawan bukan penjaja tubuh yang seakan tak punya otak atau kecerdasan untuk menjalankan tugasnya.

Hargai jurnalis yang menjalankan tugasnya secara profesional dimanapun juga. Bekerjasamalah secara baik dengan kalangan PERS. Jangan diperlakukan secara buruk, tidak adil, brutal, kasar, liar dan penuh intimidasi secara jasmani atau rohani.

Pembebasan terhadap Roxana Saberi adalah kabar baik di akhir pekan ini.

Kami terharu, ikut senang dan sangat bersyukur atas keajaiban yang manis ini. Sangat wajar jika sekarang Roxana Saberi ingin menenangkan diri dan melewati pekan ini di Wina, Austria.

 

 

 

Juni 2002, Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata pernah berkunjung ke Wina (Austria) saat mengunjungi kenegaraan Presiden Megawati Soekarnoputri ke 5 negara Eropa — dimana salah satu negara yang dikunjungi adalah Austria –.

Austria, salah satu negara di Eropa yang indah dan penuh dengan bangunan-bangunan tua yang justru menambah pesona keindahan tadi.

Sangat tepat jika ke sana Roxana mencari ketenangan diri pasca pembebasannya.

Di akhir pekan seperti ini, jangan harap ada kehingar-bingaran di kota Wina. Justru pada saat weekend seperti ini, mayoritas toko akan tutup disana Austria. Warga disana tetap memegang teguh nilai-nilai keagamaan yang mengharuskan setiap umat Kristiani untuk ke gereja di hari Minggu.

Dan sebenarnya ada satu tempat yang lebih indah lagi untuk dikunjungi Roxana selagi ia berada di Austria.

 

 

Untuk menghibur diri, sebenarnya baik untuk Roxana pergi ke kota kecil bernama SALZBURG di Austria sana, sebuah wilayah yang sebenarnya dulu merupakan “negara kecil” tempat kelahiran komposer musik klasik (musisi legendaris dunia) yang sangat terkenal yaitu Wolfgang Amadeus Mozart.

Mozart menjadi ikon yang membanggakan di Salzburg. Mozart memang bukan satu-satunya warga Salzburg yang dikenal. Nama lain yang sangat terkenal yang berkelahiran di Salzburg adalah Franz Gruber mereka menulis dan menciptakan lagu Silent Night. Franz Guber adalah seorang pastor dan karya maha indahnya lewat lagu SILENT NIGHT itu pasti akan berkumandang di seluruh dunia setiap perayaan natal.

 

 

Dan tak cuma itu, jika lonceng gereja yang berbunyi di puluhan gereja-gereja katolik sangat indah di Salfburg maka ada satu hal lagi yang akan sangat mempesona hati jika berada di Salfburg yaitu mengingatkan pada film musikal terkenal yaitu “The Sound of Music”.

Film yang mengisahkan kehidupan keluarga Kapten Von Trapp ini mengambil lokasi sepenuhnya di Salzburg. Dan, suara lonceng Ketedral Salzburg menjadi bagian dari film tadi, terutama saat perkawinan sang kapten dengan Maria, seorang calon biarawati yang menjadi pengasuh tujuh anaknya yang ditinggal mati sang ibu.

Tapi cerita tentang kota tua nan indah SALZBURG ini hanya sekedar bumbu pemanis dan selingan sederhana untuk mengungkapkan betapa bahagianya kami mendengar kabar pembebasan yang mengharukan ini.

 

“Well, enjoy you weekend Roxana !”

Sungguh kami ikut senang saat mengetahui kalimat pertama yang keluar dari Roxana dengan mengatakan, “Happy to be FREE !”.

Semoga ia dapat memulihkan sebentuk hatinya yang pasti sudah sangat tertekan, terluka dan teraniaya menjalani proses hukum yang sangat tidak adil di Iran.

Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Roxana bisa kembali ke AS dan mudah-mudahan bisa kembali bertugas juga. Sekali wartawan tetap wartawan.

Dan hal yang paling membanggakan dari wartawan adalah … kegigihan yang tak kenal lelah, pantang menyerah, kuat berpegangan dan menyuarakan kebenaran, serta mempertahankan martabat serta kehormatan sejati sebagai seorang … JURNALIS.

 

 

Inilah akhir pekan yang sangat manis dan pasti indah mengesankan untuk Roxana Saberi, walaupun terasa kurang sempurna sebab masih ada 2 jurnalis lain yang ditawan di Korea Utara.

Sekarang ini seakan ada tren baru yang menyesatkan belakangan ini yaitu patut dapat diduga karena ingin menekan AS maka yang dijadikan sasaran empuk adalah jurnalis-jurnalis perempuan untuk dituding sebagai agen mata-mata.

Siapapun yang mempraktekkan metode dan taktik kotor seperti ini pantas untuk dikecam dan perlu dihimbau untuk secepatnya sadar dan waras kembali. Tempuhlah diplomasi dan keberanian kebijakan luar negeri yang sehat, bermartabat dan cerdas membanggakan. Jangan justru dengan cara menawan, menculik dan memasung kebebasan jasmani rohani para jurnalis.

Kami berbicara kepada siapapun pemimpin dunia yang sengaja menawan, menculik dan melakukan pemasungan hak-hak hidup jurnalis.

 

(MS)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: