Beranda > Uncategorized > Ke Dalam Penjara Aung San Suu Kyi Ternyata Kembali & Jenderal Than Swe Yang Pongah Seakan “Menang”

Ke Dalam Penjara Aung San Suu Kyi Ternyata Kembali & Jenderal Than Swe Yang Pongah Seakan “Menang”

15/05/2009

TULISAN UTAMA DI WWW.KATAKAMI.COM & DIMUAT JUGA DI WWW.KATAKAMI.VOX.COM & WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM

 

Jakarta 15/5/2009 (KATAKAMI)  Rasanya di hari yang hampir bersamaan, secara berturut-turut terdengar kabar yang secara tidak langsung saling berkaitan. Kabar pertama adalah ketidak-yakinan Pemerintah Thailand bahwa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN & Asia Timur yang harusnya dilakukan bulan Juni mendatang, bisa terlaksana sesuai jadwal. Tentu dunia internasional sudah mengetahui bahwa situasi keamanan dalam negeri di Thailand memang cukup memprihatinkan sejak setahun terakhir akibat bongkar pasang kepemimpinan yang tak berkesudahan di Thailand.

Kabar lainnya yang menyusul setelah itu adalah tentang penahanan Tokoh Oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang dijebloskan ke dalam penjara dan awal pekan depan akan mulai diadili.

Seperti yang dilaporkan Radio Voice Of America (VOA), pengacara dari pemimpin pro-demokrasi Aung San Suu Kyi mengatakan pihak berwajib Birma telah membawa kliennya  ke tahanan dan dituduh melanggar persyaratan  tahanan rumahnya.

Pemenang hadiah Nobel yang berusia 63 tahun itu dibawa dari rumahnya hari Kamis dan dimasukkan ke Penjara Insein Rangun, dimana pihak berwajib mengatakan peradilannya akan mulai Senin (18/5/2009) depan.

Pengacara Kyi Win mengatakan kasus tersebut berhubungan dengan kunjungan tanpa izin pekan lalu oleh seorang warga Amerika ke rumah Aung San Suu Kyi.  Ia mengatakan warga Amerika itu, John Yettaw, juga akan didakwa karena memasuki zona terlarang.

Yettaw ditahan oleh polisi setelah ia memasuki rumah Aung San Suu Kyi dengan berenang menyeberangi danau dan tinggal disana selama dua hari.

Peradilan itu diadakan pada saat yang genting bagi Aung San Suu Kyi yang telah ditahan selama 13 dari 19 tahun terakhir. Peradilan tersebut dapat mengakibatkan perpanjangan penahanannya lagi, yang akan habis pada akhir bulan ini.

Kedua kabar ini memang tidak berhubungan secara langsung tetapi disaat mendengar kabar bahwa Aung San Suu Kyi “pindah lokasi” dari tahanan rumah ke tahanan yang sesungguhnya yaitu didalam jeruji besi, maka ingatan siapapun akan tertuju kepada negara-negara anggota ASEAN yang menjadi “rekan seperjuangan” yaitu sesama anggota ASEAN dengan Myanmar.

Sikap keras kepala dari Jenderal Senior Than Swe sebagai pemimpin tertinggi Junta Militer Myanmar, mau tak mau menjadi beban moral yang sangat besar bagi seluruh anggota ASEAN, termasuk Indonesia tentunya.

Ibaratnya orang berteriak, maka untuk permasalahan Aung San Suu Kyi ini semua pihak (terutama ASEAN) seakan-akan sudah sekuat tenaga berteriak agar Junta Militer Myanmar menepati dan melaksanakan “ROAD MAP TO DEMOCRACY” atau peta jalan menuju demokratisasi.

Suu Kyi menjadi tahanan rumahpun, semua pihak sangat menyayangkan dan terus mendesak agar ia bisa dibebaskan dari status tahanan rumah. Nah, sekarang situasinya bukan justru membaik tetapi malah semakin buruk.

Padahal hanya dalam hitungan hari ke depan, idealnya status tahanan rumah bagi Suu Kyi akan berakhir. Namun garis tangan Suu Kyi tampaknya tidak akan berubah jauh yaitu dari tahanan ke tahanan. Cuma bedanya, selama ini menjadi tahanan rumah maka sekarang menjadi tahanan yang sesungguhnya didalam penjara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebenarnya sudah terus secara konsisten “menekan secara halus” agar Junta Militer Myanmar bersedia melakukan reformasi politik dengan cara membebaskan seluruh tahanan politik, termasuk Aung San Suu Kyi.

Sekjen PBB Ban Ki Moon bolak-balik mengutus Ibrahim Gambari sebagai Pejabat Utusan Khusus PBB untuk datang menemui Suu Kyi.

Bulan Februari 2009 lalu misalnya, pemenang hadiah Nobel itu meminta agar Gambari menyampaikan pesannya agar Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon tidak usah berkunjung ke Myanmar sebelum ia bersama tahanan politik yang lain dibebaskan.

Jurubicara PBB yang berkedudukan di Myanmar menggambarkan bahwa pertemuan Suu Kyi dan Gambari pada bulan Februari di Wisma Negara di Rangoon itu berjalan dengan sangat signifikan dan diakui ada langkah maju. Padahal sempat, di ahun 2008 lalu Aung San Suu Kyi tidak mau bertemu Gambari dengan alasan upaya Gambari selama ini tidak efektif.

Kini, entah apa yang akan menjadi reaksi dan pernyataan resmi dari PBB setelah Suu Kyi bukannya dilepaskan tetapi malah dijebloskan ke dalam penjara.

Satu-satunya harapan yang memiliki legitimasi dan kekuatan formil untuk menekan Myanmar hanyalah PBB.

Dengan dijebloskannya Suu Kyi ke dalam penjara dan siap untuk diadili, Ban Ki Moon harus mencari formula diplomasi dalam bentuk yang lain agar legitimasi dan kekuatan formil di tangan PBB itu tidak menjadi sia-sia.

Apa gunanya PBB alias UN mengirim Ibrahim Gambari berkali-kali ke Rangoon untuk menemui Suu Kyi, kalau ternyata kunjungan itu tidak membuahkan hasil apapun yang menjadi langkah maju yang benar-benar maju ?

Sangat wajar jika Suu Kyi dikabarkan pesimis terhadap gaya diplomasi PBB yang lentur dan tak ampuh untuk membuat sikap pongah Junta Militer Myanmar menjadi kendur.

Bagaimana mungkin, ada sebuah organisasi yang mewadahi negara-negara di muka bumi ini, tak mampu mengurusi sebuah permasalahan pelik yang mengangkangi persoalan hukum, HAM dan demokrasi ?

 

Dan satu hal yang juga menarik untuk dicermati, siapa sebenarnya pria berkewarga-negaraan Amerika Serikat yang datang mengunjungi Aung San Suu Kyi dengan cara berenang menyeberangi danau agar bisa mencapai rumah Suu Kyi.  John Yettaw, bahkan sampai menginap 2 hari di rumah Suu Kyi yang jelas-jelas ditetapkan sebagai zona terlarang oleh Junta Militer Myanmar.

Hanya tinggal setengah bulan lagi, masa tahanan rumah untuk Suu Kyi berakhir tetapi datang “musibah” seperti ini !

Jika John Yettaw itu adalah rekan atau sahabat Suu Kyi maka yang harus dipertanyakan kepada dirinya adalah, “Mengapa melakukan tindakan nekat ini ditengah semakin menguatnya desakan semua pihak agar Suu Kyi bisa secepatnya menghirup udara segar ?”

Apakah patut dapat diduga ada konspirasi yang hendak memancing di air keruh, dimana pihak-pihak yang tidak menginginkan Suu Kyi bebas dari masa kelam penahanannya yang sudah berjalan selama 13 tahun ini, sengaja merekayasa sebuah kenekatan yang konyol ini ?

Tetapi mengingat tamu itu diizinkan Suu Kyi menumpang di rumahnya selama 2 hari, paling tidak antar mereka memang saling mengenal. Lalu pertanyaannya, mengapa Suu Kyi melakukan membiarkan hal semacam ini terjadi pada dirinya ?

Ia menganggap langkah dan gaya diplomasi PBB selama bertahun-tahun ini tidak efektif !

Tetapi, jika Suu Kyi mau lebih bijaksana, dalam menghadapi tipikal rezim yang otoriter dan patut dapat diduga memang mengidap “tuna rungu politis” maka jalan terbaik yang harus dilakukan untuk sementara waktu adalah mengikuti gendang permainan Junta Militer Myanmar.

Barangkali Suu Kyi tidak yakin bahwa dunia internasional peduli kepada dirinya !

Kalau benar Suu Kyi tidak yakin bahwa dunia internasional sungguh sangat peduli kepada dirinya yang terpasung dalam ranjau rezim penguasa Myanmar, hal ini sangat memprihatinkan.

Apakah Suu Kyi sudah kehilangan semangat, keberanian dan sikap optimisme sehingga membuat dirinya menjadi masa bodo dan terdorong untuk menantang alias membangkang dari aturan-aturan kaku dari Junta Militer Myanmar ?

Pasti Suu Kyi mengetahui bahwa ia tidak boleh menerima tamu tanpa izin, apalagi membiarkan tamu asing menginap di zona terlarang seperti itu. Namun, Suu Kyi mengizinkan !

Jika Suu Kyi memang sudah sangat apatis dan sekarang berbalik untuk menantang balik Junta Militer Myanmar, maka bisa dipahami jika perempuan pemberani ini tak gentar berhadapan dengan proses hukum yang akan digelar awal pekan depan terhadap dirinya.

Dan rekan yang mengunjungi Suu Kyi dengan cara berenang itu, sungguh gegabah dan bisa dituding sebagai biang kerok yang ingin mengacaukan semua upaya melepaskan Suu Kyi dari tahanan rumahnya.

Setidaknya, ini menjadi sebuah masukan yang sangat berarti untuk Pemerintahan Presiden Barack Obama, yang selama ini memang dikenal dan diakui konsistensi AS dalam menyerukan tegaknya demokrasi di Myanmar (khususnya desakan agar Junta Militer Myanmar melepaskan Aung San Suu Kyi).

Sungguh sangat ironis, sebab disatu pihak AS mendesak agar Suu Kyi dibebaskan, tapi kini … di pihak lain, ada seorang warga AS yang bertindak gegabah dan membuat pemimpin oposisi Myanmar itu harus mendekam lagi di penjara karena kenekatan sang tamu.

Walau KTT ASEAN tampaknya akan tertunda lagi di Thailand pada bulan Juni depan, diharapkan seluruh negara anggota ASEAN meluangkan waktu khusus untuk memonitor secara dekat peradilan yang akan digelar terhadap Aung San Suu Kyi pada awal pekan depan.

PBB juga harus cepat mengirimkan perwakilannya untuk menghadiri dan memantau langsung perkembangan proses persidangan itu (dari awal hingga akhir masa persidangan).

Waktu cepat terasa cepat berlalu. Tetapi, berlalunya sang waktu seakan tak berarti dan tak meninggalkan buah apapun dari upaya diplomasi PBB selama ini.

Sebab, permasalahan Aung Suu Kyi seakan kembali ke TITIK NOL !

Poor Suu Kyi.

Ya, betapa malang nasib Aung San Suu Kyi …

 

(MS)

%d blogger menyukai ini: