Beranda > Uncategorized > Ampun Gusti, Satpamnya Kandidat Cawapres SBY (Boediono) Menabok Kepala Wartawan SCTV Sampai Bocor Berdarah-Darah. Sadis Sekali, Merasa Paling Jago Ya?

Ampun Gusti, Satpamnya Kandidat Cawapres SBY (Boediono) Menabok Kepala Wartawan SCTV Sampai Bocor Berdarah-Darah. Sadis Sekali, Merasa Paling Jago Ya?

14/05/2009

 

DIMUAT JUGA DI WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM , WWW.KATAKAMI.COM  & DI WWW.KATAKAMI.VOX.COM

 

Jakarta 14/5/2009 (KATAKAMI) Entah dari mana harus memulai tulisan seputar keprihatinan kami tentang aksi kekerasan yang kembali terjadi pada wartawan di Indonesia. Hanya dalam hitungan jam ke depan, Susilo Bambang Yudhoyono akan mengumumkan bahwa dirinya akan memilih Gubernur Bank Indonesia Boediono untuk menjadi Calon Wakil Presiden (CAWAPRES) untuk maju ke Pemilihan Umum (Pemilu) Pemilihan Presiden (Pilpres) tanggal 8 Juli 2009 mendatang. Insiden kekerasan justru terjadi di Bank Indonesia, yang dipimpin oleh Boediono. Insiden kekerasan itu mengakibatkan bocornya dan sampai berdarah-darah dari kepala dari rekan tercinta kami, Carlos Pardede dari SCTV.

 

Dan sejenak, mari … kami ajak anda untuk membaca berita yang terkait insiden ini yang termuat di http://www.liputan6.com

Liputan6.com, Palu: Puluhan jurnalis dari media cetak dan elektronik di Palu, Sulawesi Tengah, berunjuk rasa ke kantor Bank Indonesia (BI) Palu, Kamis (14/5). Mereka menggelar aksi solidaritas untuk memprotes kekerasan yang dilakukan satpam BI pusat kepada reporter SCTV Carlos Pardede.

Mereka membawa selebaran dan pamflet yang bertuliskan protes dan kecaman atas kekerasan yang menimpa Carlos hingga masuk rumah sakit. Di depan kantor BI, wartawan menggelar orasi damai yang intinya menuntut agar pihak BI memberi sanksi tegas kepada oknum satpam bersangkutan.

Dalam aksi ini, para wartawan juga mengumpulkan kartu identitas pers serta peralatan liputan di depan pintu masuk BI sebagai bentuk protes atas kekerasan terhadap wartawan. Selama aksi mereka juga menutup mulut dengan menggunakan lakban.

Menanggapi aksi tersebut, pihak BI Palu yang diwakili staf humasnya, Ilham, meminta maaf atas tindakan oknum petugas keamanan BI pusat. Ilham berharap peristiwa ini tidak akan terjadi di Palu maupun daerah lain.

Ya memang, itu dilakukan oleh tangan-tangan jajaran satpam semata. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah satuan tugas pengamanan bagian dalam Bank Indonesia tersebut, berhak melakukan kekerasan brutal kepada JURNALIS ?

Tanpa bermaksud untuk mendeskreditkan Gubernur Bank Indonesia, Boediono, insiden kekerasan ini akhirnya menjadi tamparan tersendiri bagi calon “pengantin politik” SBY – Boediono, yang rencananya akan mendeklarasikan ijab kabul politik mereka pada hari Jumat (15/5/2009).

Boediono pribadi, adalah sosok yang rendah hati dan pendiam.

Ia cenderung tidak banyak bicara tetap gigih untuk bekerja sangat keras di bidang perekonomian.

Tetapi insiden di Bank Indonesia, adalah sesuatu yang harusnya direspon oleh Boediono secara cepat dan baik. Paling tidak, ia berbicara kepada wartawan untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Atau, kalau bukan Boediono yang muncul, maka Jajaran Direksi Bank Indonesia bisa menjadi “jurubicara” untuk menyampaikan permohonan maaf yang resmi.

Tetapi, permohonan maaf itu tidak ada dari jajaran petinggi Bank Indonesia. Yang marak di media massa adalah berbagai aksi solidaritas dari kalangan jurnalis di berbagai daerah.

Dan tulisan ini adalah bentuk solidaritas dan keprihatinan kami yang sangat mendalam.

Kami berbicara bukan cuma untuk satpan-satpam Bank Indonesia yang patut dapat diduga menghalalkan tindakan brutal tidak manusiawi dalam menjalankan tugasnya.

Satpam pula !

Inilah Indonesia, terjadi pergeseran kultur di negeri ini. Sebab, kalangan sipil mendadak sontak berubah menjadi lebih militer dari militer itu sendiri. Disaat TNI sudah tampil begitu reformis dan sangat merakyat, sekarang justru kalangan sipil yang sok militeristis.

Sekali lagi, Satpam pula !!!

Kami teringat pernyataan dari Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara beberapa bulan lalu saat bertemu dengan KATAKAMI.COM di Gedung Dewan Pers bahwa pemerintahan SBY adalah masa yang paling buruk dalam sejarah perjalanan bangsa terhadap kebebasan, kemerdekaan dan keselamatan PERS NASIONAL.

Sehingga, lanjut Leo Batubara, jika pada akhirnya SBY maju dalam Pilpres 2009 maka PERS NASIONAL harus siap-siap untuk tetap (bahkan bisa jadi lebih parah kondisinya) jika nanti yang menang adalah SBY.

Sekarang, terjadi insiden kekerasan yang justru terjadi “di dalam pekarangan rumah” dari Bank Indonesia yang dipimpin oleh Boediono, kandidat Cawapres SBY.

Mengapa begitu susah bagi aparat atau petugas di kalangan PEMERINTAHAN ini untuk menghargai JURNALIS yang bertugas di lapangan atau menunjukkan eksistensi dirinya dalam karya-karya jurnalistik ?

Yang tak senang dengan kritikan dari KATAKAMI.COM misalnya (terutama yang punya borok, aib atau dugaan pelanggaran hukum) maka dengan sangat brutal adn biadab … bisa terus menerus melakukan teror, tekanan, intimidasi dan pengrusakan terhadap SITUS KATAKAMI dan semua blog KATAKAMI yang tersebar dibeberapa tempat.

Yang tak senang dengan ketegasan dan ketangguhan Carlos Pardede dalam meliput di Bank Indonesia misalnya, jajaran satpan bisa main gebuk saja seenak jidatnya !

Harusnya, sebelum menggebuk kepala Carlos Pardede, jajaran satpan itu perlu uji coba dengan menggebuk kepala mereka sendiri sampai bocor dan berdarah-darah. Rasakan dulu brutalisme itu, baru lakukan kepada orang lain.

Ada kalimat bijak yang mengatakan, “Lakukanlah, apa yang anda inginkan agar orang melakukan itu kepada anda. Dan jangan lakukan, apa yang anda tidak inginkan agar orang lain melakukan itu kepada anda !”.

Intinya, jangan melakukan tindakan apapun yang merugikan, mencelakai, merampas hak-hak dan berlaku brutal dengan cara apapun juga, jika anda memang tidak ingin semuanya itu mendatangkan dampak atau resiko tersendiri.

Sakit yang paling akut dari sejumlah Pejabat, Aparat Negara dan sekarang … jajaran satpan di Bank Indonesia adalah … patut dapat diduga, enteng saja melakukan kekerasan, brutalisme dan semua perbuatan tercela kepada orang lain (termasuk kepada PERS NASIONAL). Tetapi nanti jika dipermasalahkan, atau bahkan diproses secara hukum, patut dapat diduga akan berkelit, berkilah, dan bisa jadi makin brutal agar jangan sampai terseret ke muka hukum.

Hargailah wartawan !

Sebab wartawan itu bukan binatang. Wartawan juga bukan sampah busuk !

Sembarangan saja, dan seenaknya saja, jika ada yang mempermalukan wartawan dengan sangat buruk dan melanggar ketentuan hukum.

Kami mengecam dengan keras insiden kekerasan yang mencelakai rekan seperjuangan kami, CARLOS PARDEDE.

Tolong, Bank Indonesia bersuara dengan penuh ketulusan dan menyampaikan permohonan maaf secara resmi. Jangan sok diam dong. Enak saja !

Ente sudah mencelakai wartawan, kok malah sok adem ayem !

Siapapun juga penguasa, pejabat dan pimpinan di muka bumi ini, hendaklah mereka bekerjasama dengan sangat baik kepada semua JURNALIS. Jangan perlakukan JURNALIS dengan sangat tidak manusiawi. Pakai akal dong kalau bertugas. Selain itu, pakai otak dan hati yang bersih.

Sehingga, dalam menjalankan semua tugas-tugas pengabdiannya di republik ini, setiap anak bangsa dapat saling bekerja sama dan saling menghormati satu dengan yang lainnya.

Carlos, kami ikut berduka untuk kau !

Jangan pernah takut atau ragu untuk mempermasalahkan ini ke muka hukum. Jalani dulu pengobatan sebaik mungkin agar kondisi kesehatan bsia pulih kembali.

Baru setelah itu, susun langkah untuk mengajukan ini ke muka hukum. Tentu, setelah terlebih dahulu melaporkannya secara resmi ke Dewan Pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Komnas HAM.

Tak cuma berduka, kami sangat marah dan mengutuk sekeras-kerasnya siapapun juga di muka bumi ini yang memperlakukan wartawan seenaknya saja.

Didalam diri kami, mengalir darah WARTAWAN. Wartawan yang independen. Wartawan yang konsisten dalam menjalankan tugas yang berpegang pada prinsip kebenaran dan keadilan.

Hanya ada satu kata untuk menutup tulisan ini, LAWAN !

 

(MS)

%d blogger menyukai ini: