Beranda > Uncategorized > Sedihnya Jika Ada Yang Bergaya Politik Ala "Cap Cip Cup Belalang Kuncup" & Kami Kirim Pesan Di Hari Kartini Untuk Megawati, "You Are Not Alone, Ibu"

Sedihnya Jika Ada Yang Bergaya Politik Ala "Cap Cip Cup Belalang Kuncup" & Kami Kirim Pesan Di Hari Kartini Untuk Megawati, "You Are Not Alone, Ibu"

24/04/2009

DIMUAT DI WWW.REDAKSIKATAKAMI.WORDPRESS.COM DAN WWW.THEBLOGKATAKAMI.WORDPRESS.COM

Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi

Jakarta 21 APRIL 2009 (KATAKAMI) Bertepatan dengan peringatan HARI KARTINI pada hari Selasa (21/4/2009) ini, izinkan saya Mega Simarmata selaku Pemimpin Redaksi di KATAKAMI.COM ini, menyampaikan secara khusus sebuah penghargaan yang sangat tulus kepada Megawati Soekarnoputri.

Kekuatan dan ketegaran mentalnya sebagai pribadi yang tahan banting terhadap semua kecenderungan penguasa yang arogan, kejam, bengis, tak adil dan sungguh sangat tidak manusiawi. Awal pertama berkenalan dengan Ibu Mega – begitu saya biasa memanggil beliau – adalah pada kerusuhan berdarah 27 Juli 1996.

Ketika itu saya masih bekerja sebagai reporter di Radio Ramako (1993-1998) dan merupakan satu-satunya REPORTER RADIO yang menyiarkan secara langsung kerusuhan itu selama lebih dari 10 jam secara langsung (LIVE).

Saya ingat betul bahwa pagi-pagi buta tanggal 27 Juli 1996 itu, saya sudah berada di lokasi kerusuhan. Tak mandi, tak sarapan, dan pagi hari dimana saya sudah mulai bertugas “memantau” situasi hanya dengan cuci muka dan gosok gigi.

Memanjat dari tembok ke tembok untuk melompati setiap gedung di sejajaran Bioskop yang ada di kawasan tersebut, agar saya bisa terus merapat ke Kantor PDI Jalan Diponegoro.

Karena tahu bahwa saya adalah WARTAWAN maka ketika itu beberapa pedagang kaki lima, ikut membantu saya kalau hendak memanjat tembok dan begitu diatas langsung siap-siap melompat ke bangunan sebelahnya.

Saya ingat betul bahwa pekerjaan saya relatif “aman terkendali” dari mulai pagi sampai siang harinya. Laporan masih datar-datar saja, walaupun eskalasi kerusuhan itu secara bertahap mulai kelihatan serius.

Memasuki pukul 15.00 WIB, barulah kerusuhan berdarah mulai bergolak sangat hebat. Atmofsir kekerasan terasa dan terlihat dimana-mana. Setiap sudut jalan Diponegoro menjadi mencekam.

Saya termasuk yang menjadi korban kekerasan.

Walau sudah mengatakan bahwa saya adalah WARTAWAN, tetapi aparat keamanan yang mendadak menjadi BERINGAS mulai pukul 15.00 itu seakan tak perduli.

Saya ditendangi dari belakang dan sempat ada yang sengaja menarik tali (maaf) BH dari arah punggung tetapi begitu ditarik, langsung didorong keras sampai saya terhuyung-huyung. “Ini lagi wartawan, ngapain disini, pergi kamu !”.

Sepatu laras itu menendang pantat saya dari belakang. Aparat keamanan tidak memperbolehkan ada wartawan dan sehingga semua tindakan mereka sangat beringas. Saya melihat, tubuh manusia banyak yang diseret ke arah jalan-jalan tikus (arah belakang) kantor PDI yang dipermasalahkan itu. Tidak jelas, apakah yang disereti itu, dalam keadaan hidup atau mati.

Saya sendiri suka heran sampai sekarang karena pada hari bersejarah itu, saya samasekali tidak terpikir untuk merasa takut atau bahkan menangis misalnya. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu, bertahan, bertahan dan bertahan karena sedang dalam tugas. Sesekali pager berbunyi, beberapa rekan yang terus mendengarkan siaran langsung itu mengirimkan pesan singkat, “Keep on reporting, Mega. We love you !”.

Itu sebabnya, atmosfir kekerasan yang saya alami secara langsung ketika itu membuat saya menjadi terbentuk sebagai jurnalis yang wajib bertahan dan tegar dalam semua bentuk kekerasan yang sebrutal apapun.

Belakangan saya baru tahu bahwa berdasarkan survei dari sebuah lembaga riset media broadcasting, laporan langsung saya mengenai kerusuhan 27 Juli itu didengar oleh lebih dari 1 juta orang. Wow, banyak sekali !

Dan ternyata, yang ikut mendengarkan itu adalah Mas TK (Taufiq Kiemas), Ibu Megawati dan beberapa pendukungnya, terutama Almarhum Sophan Sophiaan..

Mas Sophan Sophiaan, memang sudah berkawan dengan saya ketika itu. Beliau narasumber potensial yang sering saya wawancarai. Selain bertugas sebagai penyiar radio yang mendapat jadwal siaran reguler tetap di studio, saya juga meliput di lapangan dan diberi kesempatan untuk membawakan 2 program talkshow.

Mas Sophan Sophiaan yang mengenalkan saya secara langsung kepada Ibu Megawati, yang ketika itu diamankan oleh pendukungnya di sebuah rumah. Waktu itu, memang belum begitu akrab Ibu Megawati. Beliau khan agak pendiam orangnya. Sehingga, saya menjadi lebih sering berkomunikasi dan dekat dengan Mas TK.

Mas TK dan Ibu Megawati mengenal Mega Simarmata sebagai penyiar dan reporter radio, ya sejak kerusuhan 27 Juli dulu.

Dan itulah yang membuat kami saling berkenalan dan menjadi dekat sebagai sahabat baik sampai saat ini. Tak harus saling bertemu secara fisik, tetapi kedekatan itu sangat jelas dirasakan dan ketahuan wujudnya di dalam hati.

Ibu Mega, adalah pribadi yang tertutup dan pendiam.

Tapi beliau bisa becanda dan punya rasa humor yang tinggi juga. Namun biasanya, beliau akan bebas mengeluarkan canda dan gelak tawa hanya dengan kalangan terdekat.

(Ki-Ka : Alm Brigjen Koesmayadi & Jenderal Ryamizard Ryacudu)

Juni 2006, Wakil Asisten Logistik KSAD (Waaslog KSAD) Brigjen. Koesmayadi meninggal dunia karena serangan jantung. Brigjen Koes, adalah sahabat sejati yang sangat amat dekat saya.

Saya, Koes dan Jenderal Ryamizard Ryacudu sudah seperti saudara kandung.

Kematiannya (25 Juni 2006) sangat mengguncang hati saya sebagai sahabat.

Saya dikabari oleh Imelda Sari, wartawati senior dari SCTV bahwa Koes meninggal dunia. Seminggu sebelum meninggal dunia, hampir setiap hari Koes menelepon saya karena ingin bertemu dan ngobrol panjang lebar. Tapi belum sempat saya penuhi permintaan itu, Koes sudah meninggal dunia secara tiba-tiba.

Menjelang akhir hayatnya itu, kami (saya dan Almarhum Koes) sudah lama tidak bertemu yaitu sejak Desember 2004. Tapi, walau tak bertemu secara fisik, komunikasi kami sangat rutin lewat telepon dan pesan singkat SMS.

Saya jugalah yang memberitahukan kepada Panglima TNI (saat itu) Marsekal TNI Djoko Suyanto bahwa Koesmayadi meninggal dunia. Seingat saya, walau sedang kurang sehat karena mengalami gangguan di pencernaan, Marsekal Djoko Suyanto langsung memutuskan untuk melayat ke RSPAD Gatot Subroto.

Hanya hitungan jam dan hari pasca kematian Koes, isu yang berkembang saat itu adalah kasus kepemilikan senjata yang menimpa Almarhum Koes.

Ketika itu, bertiup hembusan kabar sesat yang memfitnah bahwa Almarhum Koes hendak melakukan MAKAR.

Lalu, yang menjadi bagian dari fitnah itu adalah Jenderal Ryamizard dituding ikut mendukung rencana MAKAR itu.

Sangat luar biasa “cerdasnya” bagi pihak manapun yang pantas diumpamakan seakan-akan menjadi sang jawara dalam pelajaran mengarang bebas di tingkatan sekolah dasar.

Jangan ada yang meragukan bagaimana komitmen dan kecintaan Ryamizard Ryacudu terhadap persatuan dan kesatuan bangsa, terutama prinsipnya yang kuat bahwa NKRI adalah HARGA MATI !

Begitupun halnya dengan Almarhum Koesmayadi.

Kalau ada yang sempat mengenal Koes maka akan tahu bahwa jari tangan Brigjen KOES cacat hingga akhir hayatnya. Konon itu akibat tembakan dari FRETELIN, karena selama kurang lebih 13 tahun Brigjen Koes bertugas di Timtim.

Pleton dari Brigjen Koesmayadi-lah yang berhasil menewaskan Presiden Fretelin pada bulan Desember 1978 yaitu Nikolaus Lobato. Dan Pemerintah Indonesia, secara khusus memberikan PENGHARGAAN untuk prestasi itu.

Harusnya Koes, pantas dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata tetapi boro-boro dikubur di TMP Kalibata, mayatnya saja belum dikubur sudah ada yang gunjang-ganjing meniupkan isu yang tidak-tidak.

Saya, sebagai sahabat dekat, tak akan pernah membiarkan sahabat saja dinistakan sedemikian hina. Saya membuat tulisan selama kurang lebih 12 hari berturut-turut dan menitipkannya untuk dimuat di Rakyat Merdeka Online. Dan ada yang sempat dimuat lewat 1 edisi di DETIK.COM.

Jika memang sahabat saya ini bersalah, silahkan diproses kasusnya tetapi jangan ada fitnah yang dihembuskan untuk memuaskan hasrat yang GANAS dari pihak tertentu. Hasrat yang dari bau-nya saja sudah busuk.

Ketika saya menuliskan kesan dan informasi yang saya punya tentang Almarhum Koes, patut dapat diduga ada “sayap militer tertentu” yang hendak membunuh saya.

Saya tahu dan saya yakin pihak ini (yaitu yang patut dapat diduga ada yang terdiri dari sekelompok kecil saja, dimana rata-rata sudah pensiun). Tetapi ada yang patut dapat diduga dari lembaga tertentu (bukan TNI dan jajarannya secara INSTITUSI, dan bukan POLRI).

Lembaga yang patut dapat diduga, doyan juga merusak KATAKAMI pasca dimuatnya tulisan SUCIWATI bulan Januari 2009 lalu yang berjudul, “MUNIR, CAHAYA YANG TAK PERNAH PADAM”.

Maka saya heran dan kagum sekali, kok ada manusia yang patut dapat diduga hobinya membunuh tetapi beraninya cuma dari kegelapan yang paling gelap agar tak tersentuh oleh proses hukum.

Saya mengerti mengapa pihak tertentu ini sangat jengkel kepada saya.

Selain saya gigih membela sahabat saya ini, ternyata saya juga dikenal dan berkawan baik dengan jajaran TNI yang saat itu menjabat pada posisi strategis.

Saya berkawan baik dengan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto dan KSAD Jenderal Joko Santoso. Dengan KSAD Jenderal Joko Santoso, saya malah sudah berkawan lebih lama lagi yaitu saat beliau masih berpangkat Kolonel dan menjabat sebagai Asisten di Jajaran Kodam Jaya.

Saya punya hotline atau saluran komunikasi yang saya gunakan untuk memberikan masukan dan saran-saran yang positif terkait Almarhum Koesmayadi (Angkatan 1975 ini).

Kalau Koes bersalah, katakan ia bersalah. Tetapi, jangan karena manusianya sudah mati maka patut dapat diduga keluar semua kreasi dan inovasi yang salah kaprah.

Kegigihan saya menyuarakan “sisi yang benar secara apa adanya” mengenai Almarhum Koes, sedikit tidaknya menjadi masukan yang berarti.

Belakangan, pihak penguasa di negeri ini — yang patut dapat diduga sempat kebakaran jenggot karena percaya bahwa di negara ini akan ada MAKAR !!! – akhirnya mengakui secara tulus iklas bahwa kasus senjata itu adalah kesalahan dan pelanggaran yang cukup diselesaikan dalam internal TNI AD.

Busyet deh, setelah berminggu-minggu orang yang sudah MATI dihajar kanan kiri sampai sedemikian keji, barulah sadar bahwa patut dapat diduga isu MAKAR itu cuma omong kosong dan jualan kecap nomor satu dari pihak yang tak pantas menyandang predikat sebagai sesepuh militer di negeri ini.

Kegigihan saya untuk menyuarakan, apa saja sisi baik dan kesan yang positif terhadap Almarhum Koes dan Jenderal Ryamizard Ryacudu, dikomentari oleh seseorang yang ada di ring satu KEPRESIDENAN (kami mohon maaf, sebaiknya kami tidak perlu menyebutkan namanya). Ia mengatakan kepada saya, “Mega, Mega, … kau ini memang selalu berani MELAWAN ARUS !”.

Disini bukan soal berani atau tidak berani melawan arus.

Dalam bersahabat, hargai dan bela sang sahabat itu, dalam keadaan hidup atau mati. Dan itu yang mendorong saya membela Koes sebab sepanjang yang saya tahu, Koes adalah prajurit yang dingin dan keras menghajar semua bentuk ancaman radikalisme dan separatisme.

Sama dengan Ryamizard, bagi Koes … NKRI adalah harga mati.

Koes, akan selalu ada dalam kenangan dan hati kami.

Sebab ia sahabat yang sangat baik. Dan kami sungguh berharap, agar Koes memaafkan siapapun yang sudah memperlakukannya sangat buruk dan hina seperti itu.

Yang sempat menjengkelkan juga dari kasus senjata Almarhum Koes, dari hitung-hitungan “politik” yang jungkir balik atau terjun payung moralitasnya ini, dihubung-hubungkan juga bahwa patut dapat diduga rencana MAKAR itu memiliki benang merah dengan Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Waduh, kalau sudah urusan fitnah, seribu satu macam fitnah rasanya sudah pernah menimpa Ibu Mega.

Pada suatu kesempatan di tahun 2006 itu yaitu beberapa bulan setelah kematian sahabat tercinta saya, Koesmayadi, saya berkesempatan untuk bertamu ke rumah Mas TK & Ibu Megawati di kawasan Kebagusan Jakarta Selatan.

Saya sungguh mohon maaf kalau tidak begitu paham nama dari prosesi adat Jawa – sebab saya sendiri berasal dari Tapanuli Utara – ketika itu salah seorang cucu dari Mas TK dan Ibu Mega yang dibuatkan acara syukuran. Si cucu ini dimasukkan ke dalam … saya tidak tahu namanya, tapi semacam kurungan ayam. Lalu, si Cucu memang diminta untuk mengambil barang tertentu yang disediakan didekatnya, sebagai bagian dari prosesi itu.

Saya hadir untuk menunjukkan kepada Mas TK dan Ibu Mega, kekuasaan bukanlah penghalang untuk tetap melanjutkan sebuah persahabatan dan persaudaraan. Walau sudah tidak menjabat, saya ingin Ibu Mega tahu bahwa dimata saya beliau tetap seorang tokoh yang sungguh sangat mulia.

Berjam-jam kami bicara waktu itu sambil menikmati makanan dan minuman yang tersaji.

Salah satu topik yang saya sampaikan kepada beliau adalah isu diluar bahwa kasus senjata yang menimpa Almarhum Koesmayadi, kok malah dihubung-hubungkan dengan ibu Mega. Termasuk soal isu MAKAR tadi.

Beliau terdiam agak lama saat mendengar saya mengutarakan ketidak-mengertian saya terhadap perilaku sejumlah oknum yang patut dapat diduga sengaja menciptakan isu menyesatkan.

Masak, karena mentang-mentang Koes sudah MATI maka dia dihajar dari segala penjuru angin.Keterlaluan sekali ! Bukan apa-apa, isu menyesatkan seperti itu bisa berubah menjadi petir dan halilintar yang sambaran kilatnya dapat membuat TNI secara kelembagaan, terutama TNI Angkatan Darat menjadi terkena getahnya. Padahal tidak ada sangkut pautnya.

Harus dibedakan, kasus yang ditimpakan terhadap orang per orang, dan INSTITUSI TNI, terutama TNI ANGKATAN DARAT.

Moral para prajurit TNI, khususnya TNI Angkatan Darat, bisa jatuh dan terluka karena seakan-akan yang dilihat dari mereka adalah kesalahan-kesalahan dan berbagai ketimpangan.

Isu yang kurang ajar itu, juga patut dihujat karena dihembuskan untuk membunuh KOESMAYADI yang sebenarnya sudah dalam keadaan MATI, yaitu membunuhnya dari sisi harkat, martabat dan ketotalan dalam mengabdi sebagai seorang prajurit TNI.

Orang MATI, dimana-mana, ya tetap saja MATI.

Artinya, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Berhubung sudah MATI, maka ada pihak tertentu yang patut dapat diduga bagaikan menari-nari diatas penderitaan dan kematian orang lain.

Saat saya bertemu Ibu Megawati di tahun 2006 itu, saya ingat betul komentar yang disampaikan Ibu Mega dengan suara yang lembut.

“Mega, kamu tahu sendiri kan. Saya pribadi malah tidak mengenal Koesmayadi. Lalu, kok bisa saya yang dituduh, dituduh apa tadi ? MAKAR ? Apa tidak salah ? MAKAR atas apa ? Karena apa ? Kalau saya ini orangnya pendendam, maka yang perlu saya bunuh … kalaupun saya ini memang pembunuh, ya pihak yang membunuh bapak saya, Ir. Soekarno. Proklamator di republik ini. Bagi saya, perlakuan yang tidak manusiawi kepada Bapak saya adalah sesuatu yang sangat menyakitkan hati. Saya sudah kebal terhadap semua fitnah. Tapi mbok ya kira-kira, jangan memfitnah yang bukan-bukan” kata Ibu Megawati.

Saya terkesima mendengar ungkapan hati putri sulung Bung Karno ini. Dan beliau masih melanjutkan perkataannya.

“Saya ingatkan ya kepada pihak mana saja, jangan keterlaluan sama saya. Jangan karena saya ini diam, maka diperlakukan seenaknya. Saya bisa bicara kepada massa pendukung saya. Mereka bisa marah kalau Ketua Umumnya ini dizolimi. Tetapi, kamu tahu bagaimana prinsip saya dalam menjalani kehidupan ini. Saya anti kekerasan. Saya tidak ingin ada kekerasan apapun. Dan jangan dipikir saya tidak tahu apa-apa. Ke rumah ini, selalu ada yang menyampaikan informasi yang akurat. Jadi saya tahu apa saja. Saya bisa mengetahui apapun” lanjut Ibu Mega.

Megawati ibarat sebuah lilin yang menyala di tengah kegelapan.

Cahaya yang dipancarkannya menghapuskan kegelapan yang mencekam. Walau misalnya sekonyong-konyong, ada orang yang iseng memadamkan nyala lilin itu tetapi jika memang situasi disekitarnya masih tetap “GELAP” maka nyala lilin itu tetap harus dinyalakan kembali.

Saya garis-bawahi pernyataan beliau bahwa beliau bisa “tahu”apa saja.

Saya punya cerita lain. Antara tahun 2006-2007, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto memutuskan untuk menempati rumah dinas Panglima TNI yang terletak di kawasan Taman Suropati yaitu WISMA YANI.

Rumah ini adalah rumah yang sangat bersejarah yaitu bekas rumah yang ditempati oleh Pahlawan Revolusi, Almarhum Jenderal Ahmad Yani.

Sejak masa Orde Baru, tidak pernah ada Panglima ABRI / TNI yang menempati rumah dinas itu.

Barulah pada era Marsekal Djoko Suyanto ditempati. Sentuhan artistik yang sangat baik, membuat rumah itu menjadi “hidup” dan tertata asri. Saya pribadi memang mengakui bahwa rumah itu menjadi kelihatan asri sekali dan enak dilihat dari kejauhan saat melintas.

Saat Perdana Menteri Inggris, Tony Blair berkunjung ke Indonesia, ternyata Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto berada di lokasi undangan yang sama dengan Ibu Megawati yaitu di kediaman Duta Besar Inggris yang mengadakan jamuan makan untuk menyambut kedatangan Perdana Menteri Blair.

Dalam sebuah pertemuan, Marsekal Djoko Suyanto menyampaikan sesuatu kepada saya berkaitan dengan Ibu Megawati.

“Meg, waktu Perdana Menteri Tony Blair datang, aku hadir dalam jamuan makan malam. Ada Ibu Megawati. Dari jauh, aku sudah lihat bahwa beliau hadir. Untuk menghormati beliau sebagai seorang Mantan Presiden, aku datangi beliau. Aku beri hormat dulu. Lalu aku bilang, Marsekal Djoko Suyanto, Panglima TNI, bu . Aku salam beliau. Beliau memang menyambut uluran tangan aku. Tapi setelah itu, beliau lebih banyak diam.” Kata Marsekal Djoko Suyanto.

Saya menjawab kepada Marsekal Djoko Suyanto, “Ya, iyalah Pak, beliau itu memang pendiam tetapi percayalah hatinya sungguh baik. Kita barangkali tidak tahu, bagaimana sakitnya jika diperlakukan sangat tidak adil dan tidak baik di negaranya sendiri. Bapaknya dibunuh, padahal Bung Karno itu proklamator bangsa” jawab saya.

Beberapa waktu kemudian (setelah saya ngobrol-ngobrol dengan Marsekal Djoko Suyanto), saya bertemu dan berbincang-bincang cukup lama dengan Ibu Megawati pada kesempatan yang lain lagi. Saya ceritakan banyak hal, termasuk bahwa keluhan Marsekal Djoko Suyanto bahwa Ibu Mega kok pendiam sekali saat bertemu di sebuah acara.

Dan Ibu Mega selalu saja bisa membuat saya terkejut-kejut mendengar jawabannya.

“Lho, yang penting saya memberikan sambutan yang wajar dan baik toh ? Diajak salaman, aku salaman. Aku ndak cemberut. Kalau ditanya, aku jawab. Aku menghargai siapa saja, sampaikan itu” jawab Ibu Mega.

Saya jawab, “Iya Bu, nanti saya sampaikan. Oh ya Bu, beliau sekarang tinggal di Wisma Yani, sudah bukan di Komplek Menteri yang di jalan Denpasar Raya. Katanya berisik, sebab di bagian belakang rumah dinas di Denpasar Raya ada pembangunan gedung. Suara tukang-tukang bekerja itu bikin budek” kata saya kepada Ibu Megawati.

Tak lama kemudian, Ibu Megawati menjawab, “Oh, sekarang tinggal disitu toh Panglima TNI ? Pantas, saya juga heran. Beberapa kali kalau kendaraan saya lewat di sana, saya lihat … lho, kok rumahnya Pak Yani terang benderang, bagus tamannya, apik. Kok wani (berani, red) ? Setahu saya, sejak Almarhum Pak Yani wafat, ndak ada yang berani tinggal disitu lho” kata Ibu Megawati.

Berhubung saat itu, saya masih aktif menjadi wartawan di Istana Kepresidenan maka kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan Pejabat Tinggi Negara sangat terbuka lebar.

Saya bertugas di Istana Kepresidenan dari periode 1999-2008.

Dalam suatu kesempatan, saya ceritakan komentar Ibu Megawati kepada Marsekal Djoko Suyanto. Terutama, komentar bahwa bisa berani tinggal di rumah Almarhum Jenderal Ahmad Yani karena sudah puluhan tahun dinilai “angker” oleh banyak kalangan.

Marsekal Djoko Suyanto tersenyum dan keluar isengnya.

Beliau menjawab, “Meg, lu harus tahu, pilot penerbang TNI Angkatan Udara, punya selera yang sangat baik terhadap segala bentuk seni dan keindahan. Makanya, gue bikin supaya tamannya bagus. Ngapain takut, setan yang takut sama gue” kata Marsekal Djoko Suyanto sambil ketawa.

Saya ikut tertawa dan saya jawab dalam suasana becanda juga, “Dasar, gila … becanda aja !”.

Dan untuk sekedar intermezzo, kala itu rata-rata Pejabat yang aktif adalah AKBP alias Angkatan Bapak Presiden (SBY) yaitu Angkatan 1973. Semuanya angkatan 1973.

Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Sutanto, KSAU Marsekal Herman Prayitno dan KSAL Laksamana Slamet Soebijanto.

Dari barisan AKBP ini, yang tidak pernah iseng dan tidak pernah jahil becanda hanya Kapolri Jenderal Sutanto.

Jenderal Sutanto, memiliki sifat yang pendiam, santun dan selalu berpembawaan sangat tenang.

Marsekal Djoko Suyanto, Marsekal Herman Prayitno dan Laksamana Slamet Soebijanto juga tenang, santun dan sangat cerdas. Tetapi kalau sudah bertemu dengan antar sahabat yang dikenal dekat dan akrab, kadang-kadang Jenderal-Jenderal ini keluar candanya.

Lalu bisa ketawa dan suasana menjadi hidup. Tetapi Jenderal Sutanto, biasanya hanya sebatas mendengar dan ikut tertawa kalau ada yang lucu mengundang gelak tawa.

Beberapa kali, Ibu Megawati menyampaikan pesan tertentu juga lewat saya untuk Jenderal Sutanto yang menjabat Kapolri selama 38 bulan.

Pesan itu biasanya komentar atau pandang terhadap permasalahan tertentu di tengah masyarakat. Salah satu diantaranya adalah saran agar MABES POLRI menarik secara cepat Perwira Tinggi yang beragama Nasrani yang dikirim dari Jakarta untuk bertugas di POSO, SULAWESI TENGAH.

“Bilang sama Tanto, opo iku ? Lihat situasinya, kalau disana mayoritas beragama Islam dan kondisi di lapangan memang rawan, mengapa dikirim Jenderal yang non muslim. Sekarang ribut. Sopo iku jenenge, Gories Mere, saya dengar ada disana. Untuk apa ? Sekarang situasinya jadi panas. Sampaikan saran ini. Lalu saya dapat informasi, coba diperiksa sama Tanto. Apa benar, ada penyadapan yang dikomersialkan di POLRI ?” kata Ibu Megawati.

Memang, tak cuma Ibu Megawati, kami saja sebagai warga sipil yang masuk dalam barisan masyarakat awam yang terhitung biasa-biasa saja, sudah mendengar dan mengetahui bahwa patut dapat diduga ada oknum berinisial GM yang sering melakukan penyadapan liar dan ilegal.

Belakangan, kami bukan sekedar mendengar dan mengetahui saja karena patut dapat diduga kami justru menjadi korban penyadapan liar dan ilegal dari kelompok Komisaris Jenderal GM.

Saran dan pendapat Ibu Megawati untuk Kapolri Jenderal Sutanto pada waktu itu, kami sampaikan secara langsung kepada jenderal Sutanto.

Seperti biasa, Jenderal Sutanto menerima semua saran dan pendapat dari semua kalangan dengan tangan terbuka untuk menjadi masukan bagi MABES POLRI.

Kembali pada momen peringatan HARI KARTINI pada tanggal 21 April 2009 ini, saya merasa ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Ibu Megawati.

Ia tepati janjinya bahwa setelah tidak menjabat sebagai Presiden RI, akan turun ke bawah untuk menemui dan berdialog dengan rakyat.

Selama kurun waktu 5 tahun terakhir ini Megawati terus berkunjung ke hampir semua pelosok daerah di Indonesia. Mayoritas, kunjungan itu dilakukan tanpa publikasi. Belakangan, atau setahun sebelum penyelenggaraan Pemilu 2009 ini barulah rekan-rekan wartawan mencium kabar kunjungan itu dan langsung bergerak ke lokasi untuk meliput.

Lebih dari setengah tahun terakhir ini, saya belum bertemu lagi dengan Ibu Megawati karena saya tidak ingin mengganggu konsentrasi beliau menyiapkan PDI Perjuangan menghadapi Pemilu 2009.

Tetapi saya mengikuti semua perkembangan di berbagai media massa.

Apa yang terjadi saat ini, yaitu patut dapat diduga ada upaya yang sistematis dilakukan pihak tertentu untuk MENGGEMBOSI PDI Perjuangan agar jangan sampai perolehan suaranya menjadi sangat TINGGI, mau tak mau menjadi sebuah keprihatinan yang sangat dalam bagi kami.

Kalau memang, “the real fact” atau fakta di lapangan kemenangan itu memang ada di tangan PDI Perjuangan misalnya, mengapa patut dapat diduga upaya sistematis dilakukan dengan sangat tidak tahu MALU dari pihak tertentu untuk menggembosi PDI Perjuangan ?

Saya tidak tega membayangkan, betapa kecewanya rakyat Indonesia yang sudah sangat lama menantikan tegaknya demokrasi yang sehat, jujur dan adil di negeri ini.

Saya lebih tidak tega lagi, karena patut dapat diduga ada 45 JUTA orang rakyat Indonesia yang tidak bisa memilih pada Pemilu Legislatif 2009.

Dan hebatnya, dari angka 45 juta orang itu patut dapat diduga justru menimpa basis-basis daerah yang menjadi kantong suara bagi PDI Perjuangan yang paling utama dan sejumlah parpol yang lagi “naik daun” yaitu Partai Gerindra dan Partai Hanura.

Patut dapat diduga, sekarang ini ada gaya politik model “CAP CIP CUP BELALANG KUNCUP” yang dimainkan oleh oknum Pejabat Pemerintah yang bertanggung-jawab memfasilitasi penyelengaraan Pemilu Legislatif 2009 (terutama tanggung jawab dalam masalah Daftar Pemilih Tetap atau DPT).

Anda pasti bingung, gaya politik apa itu yang disebutkan tadi bermodel “CAP CIP CUP BELALANG KUNCUP” ?

Ada permainan anak-anak kecil yang biasa dinyanyikan dalam langgam nada yang sangat sederhana sekali di kalangan anak-anak.

“CAP CIP CUP, BELALANG KUNCUP, KUDA LARI DIATAS BATU, NENEK LAMPIR TIDAK PAKAI SEPATU”.

Kami mensinyalir bahwa patut dapat diduga, gaya politik yang dimainkan untuk menggembosi sejumlah partai politik ini memang seperti gaya mendiamkan anak kecil yang sedang MENANGIS dan perlu dibujuk dengan gaya “CAP CIP CUP BELALANG KUNCUP” tadi.

“Cup, cup, cup, ssstttt … diam, diam, diam, jangan nangis lagi ! Cup, sayang”

Sekarang ini begitu banyak TOKOH NASIONAL, terutama Ketua Umum Parpol dan kandidat CAPRES yang siap melangkah maju ke Pilpres 2009 memprotes keras berbagai kecurangan yang terjadi (terutama karena ada 45 juta orang rakyat Indonesia tidak bisa memilih karena tidak MASUK namanya dalam Daftar Pemilih Tetap), maka patut dapat diduga gaya politik CAP CIP CUP BELALANG KUNCUP ini, memang menjadi salah satu yang sejak awal diskenariokan untuk terjadi pada penyelenggaraan Pemilu Legislatif 2009.

Lah, kalau yang tidak masuk namanya itu … 100 ribu orang, atau sejuta orang. Bolehlah, disebut lalai atau terhambat oleh kendala-kendala teknis.

Tapi kalau yang tidak bisa memilih itu bisa menembus angka 45 juta orang, bisakah akal sehat manusia didunia ini menerima begitu saja bahwa ada fakta demikian di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini ?

Bukankah patut dapat diduga itu menjadi sebuah lelucon yang tidak lucu di era kekinian ?

Kalau istilah “plesetan” anak gaul zaman sekarang dalam bahasa candaan mereka ada celetukan guyon, “Ya Iyalah Ya, Masak Lah Iya Iya Dong, Wulan Jamilah Saja Bukan Wulan Jamidong”.

Ketika kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) diangkat ke permukaan, gaya politik ala CAP CIP CUP BELALANG KUNCUP tadi patut dapat diduga terus jadi pegangan yang kuat dari sejumlah Pejabat Tinggi Negara.

Ilustrasi dari situasi politik saat ini bisa diibaratkan juga lewat perumpamaan untuk mendiamkan anak kecil yang sedang menangis, “CUP CUP CUP, JANGAN NANGIS LAGI”, maka dijanjikan bahwa nanti dalam PEMILU PILPRES 2009 … gak bakal terulang lagi deh.

Swear ! Bener, Swear Swear Swear.

Basi sekali, bow !

Ente kok bisa kipas-kipas dapat angin segar, sementara ada 45 juta orang rakyat INDONESIA sudah dirampas hak-hak dasarnya dalam berdemokrasi.

Dan itu, tidak bisa terulang. Atau, karena tahu bahwa PEMILU LEGISLATIF 2009 itu memang tidak bisa diulang maka patut dapat diduga perampasan hak demokrasi itu sengaja dilakukan untuk menggembosi lawan politik.

Kalau misalnya, kami yang saat ini menjadi penguasa di negeri ini, maka kami akan sangat malu sekali kepada JENDERAL WIRANTO.

Mengapa ?

Sebab, kami memang tidak pantas untuk ikut berkoar-koar seakan menghargai gerakan reformasi 1998 dari para mahasiswa yang gagah berani.

Memang, gerakan reformasi itu dilakukan oleh kalangan mahasiswa tetapi TNI secara kelembagaan telah mampu pada saat itu untuk berpikir, bersikap dan bertindak secara profesional yaitu tidak akan mengkhianati jati diri mereka sebagai prajurit TNI yang harus membela kepentingan rakyat.

Kalau TNI mau atau ada perintah dari Panglima TNI saat itu yakni dari Jenderal Wiranto, maka akan banyak mahasiswa yang tewas tak bernyawa dihajar oleh amukan arogansi kekuasaan. Tetapi pada saat itu, TNI tidak mau menyakiti kalangan mahasiswa namun tetap bertindak secara profesional untuk mengendalikan situasi keamanan.

Kalau pada kenyataannya, salah satu pihak yang patut dapat diduga ikut digembosi oleh pihak tertentu adalah JENDERAL WIRANTO dan Partai Hanura, jika kami yang berkuasa saat ini di Indonesia maka kami akan malu sekali dan benar-benar kehilangan MUKA di hadapan JENDERAL WIRANTO.

Tak cuma di hadapan JENDERAL WIRANTO tetapi semua Pejabat Utama TNI yang ada didalam struktur organisasi TNI saat reformasi bergulir tahun 1998.

Mereka sudah dengan tulus dan sungguh-sungguh bertugas demi kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia, tetapi sekarang patut dapat diduga mereka justru menjadi korban dari arogansi kekuasaan.

Dan, korban bidikan utama dari arogansi kekuasaan tadi, patut dapat diduga adalah Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan.

Kakak, dan sahabat baik yang sangat kami hargai ketabahan dan ketegaran hatinya.

Kami ingin Megawati tahu bahwa ia tak sendiri menghadapi situasi yang patut dapat diduga memang sengaja dibuat penuh kecurangan dan arogansi kekuasaan yang sangat memilukan hati ini. Kami peduli. Kami prihatin.

Dan izinkan kami menyampaikan pesan yang kami ungkapkan setulus hati kepada MEGAWATI SOEKARNOPUTRI :

“Ibu, you are not alone in this situation ! We do care of you. And, please be strong, We love you”.

Selamat Hari Kartini.

(MS)

%d blogger menyukai ini: