Beranda > Uncategorized > ELEGI UNTUK MANTAN KAPOLDA JATIM IRJEN HERMAN SS, PENGABDIAN TIDAK MENGENAL BATAS RUANG & WAKTU, JENDERAL !

ELEGI UNTUK MANTAN KAPOLDA JATIM IRJEN HERMAN SS, PENGABDIAN TIDAK MENGENAL BATAS RUANG & WAKTU, JENDERAL !

21/03/2009

Irjen Herman SS

Irjen Herman SS

DIMUAT DI WWW.KATAKAMI.COM

Jakarta 21/3/2009 (KATAKAMI)  Gubernur & Wakil Gubernur terpilih Jawa Timur sudah resmi dilantik tanggal pertengahan Februari 2009 yang lalu. Tetapi, gunjang-ganjing terkait Pilkada Jawa Timur itu sambil ada buntutnya sampai saat ini.

Kehebohan terjadi sepekan terakhir ini bahwa seolah-olah Irjen Herman SS dizolimi oleh INSTITUSI POLRI. Sebagian kecil masyarakat bersimpati pada perwira tinggi angkatan 1974 ini.

Tapi, ada apakah gerangan dibalik gunjang-ganjing ini ?

Apalagi Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri sampai harus menggelar jumpa pers khusus di Rupatama Mabes Polri pada hari Jumat (20/3/2009) kemarin. Beliau didampingi oleh seluruh pejabat teras MABES POLRI.

Antara lain hadir Wakapolri Komjen Makbul Padmanegara, Kabareskrim Komjen Susno Duadji, Irwasum Komjen Jusuf Manggabarani, Kabaintelkam Irjen Saleh Saaf, Kadiv Propam Polri Irjen Oegroseno, Kadiv Humas Irjen Abubakar Nataprawira dan sebagainya.

Yang ingin secara khusus kami bahas disini adalah sikap Irjen Herman SS yang terkesan “mbalelo”.

Artinya, patut dapat diduga pencopotan dirinya meninggalkan rasa tidak puas dan keinginan untuk mencari pembenaran diri agar jangan merusak derajatnya sebagai seorang aparat penegak hukum.

*****

KATAKAMI.COM menanyakan kepada Kapolri BHD, sebenarnya bagaimana prosedur pensiun bagi perwira tinggi di jajaran POLRI ?

Mengapa kami menanyakan ini ?

Irjen Herman akan segera memasuki masa pensiun per tanggal 1 Juni 2009. Ia kelahiran bulan Mei, sehingga pengaktifan masa pensiun itu adalah per tanggal 1 setelah bulan kelahirannya.

Prosedur pensiun bagi perwira tinggi POLRI ini rasanya cukup signifikan untuk ditanyakan agar masyarakat awam dapat mengetahui tata laksana dari masa purna bhakti Jajaran Kepolisian.

Jika Irjen Herman SS pensiun per tanggal 1 Juni 2009, lalu mengajukan pensiun dini bulan Februari 2009 lalu atau pasca pencopotan dirinya, tidakkah itu sebuah tindakan yang mubazir ?

Sebab, tanpa harus mengajukan pensiun dini seperti itupun maka dalam hitungan hari, minggu dan bulan yang tidak terlalu lama, masa purna bhakti itu akan tiba di depan mata.

Kalau memang pengajuan pensiun dini itu untuk mengobati rasa sakit hati atau kekecewaan atas pencopotan dirinya sebagai Kapolda Jatim, bijaksanakah tindakan Irjen Herman SS ?

*****

Izinkan kami menyampaikan opini tersendiri.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan respek yang tinggi kepada Irjen Herman SS, sesungguhnya beliau tak perlu mengajukan pensiun diri dengan cara yang seperti itu. Biarkan saja semua mengalir seperti air. Sebab semua ada waktunya. Ada waktu untuk menjabat. Ada waktu untuk diganti oleh pejabat baru. Ada waktu untuk berdinas aktif. Dan ada waktu untuk pensiun.

Pengabdian, tidak mengenal batas ruang dan waktu. Pengabdian, tidak mengenal masa aktif kedinasan atau masa purna bhakti. Pengabdian bagi bangsa, negara dan rakyat Indonesia bagi Para Bhayangkara Negara harusnya sepanjang hayat dikandung badan.

Setelah mencari data yang lebih konkrit mengenai masa tugas Irjen Herman SS sebagai Kapolda Jawa Timur, kami mengetahui bahwa beliau mulai bertugas di Polda Jatim sejak Desember 2005.

Berarti dari Desember 2005 sampai Februari 2009, Irjen Herman SS sudah bertugas selama kurang lebih 39 bulan. Atau, sekitar 3 tahun 3 bulan.

Untuk ukuran sebuah masa jabatan di Jajaran Kepolisian, itu adalah sebuah masa pengabdian yang relatif panjang.

Tour of duty, Tour of area atau Perputaran Masa Tugas dan Perputaran Wilayah Tugas, adalah sesuatu yang sifatnya sangat normal dan sah dilakukan dalam struktur organisasi semacam TNI / POLRI.

Mari kita jujur menilai bahwa sebuah masa kedinasan yang sudah memakan waktu selama 39 bulan adalah sebuah masa kedinasan yang sudah sangat lama.

Irjen Herman SS harus berterimakasih kepada INSTITUSI bahwa ia diberi kesempatan untuk membantu 2 Kapolri yaitu Jenderal Polisi Sutanto (1973) dan Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Dan kesuksesan Irjen Herman SS memimpin wilayah seperti Jawa Timur adalah sebuah prestasi yang besar.

Itu harus diakui. Respek yang tinggi harus diberikan kepada perwira tinggi yang satu ini. Jawa Timur adalah wilayah yang masuk dalam kategori “keras”. Kompleksitas permasalahan di Jawa Timur tentu sangat tinggi tantangannya bagi Jajaran Polda Jatim untuk dikelola secara tertib dan aman.

Harus ada kesadaran yang tinggi dari akal yang sehat dan hati yang jernih bahwa pergantian sejumlah Kapolda menjelang pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 adalah sebuah keputusan terbaik yang didukung oleh semua pihak.

Setidaknya ada 8 Kapolda yang diganti periode Februari 2009 lalu. Mereka diberi kesempatan untuk secara cepat, tepat, terukur dan terarah mempelajari wilayah yang dipimpinnya.

Pengamanan Pemilu Legislatif 2009, bukan hanya pada pengamanan untuk hari PENCONTRENGAN yaitu tanggal 9 April 2009.

Pengamanan Pemilu Legislatif 2009 sudah dimulai saat seluruh PARPOL peserta Pemilu Legislatif 2009 mengadakan kampanye terbuka yang resmi dilaksanakan mulai tanggal 16 Maret 2009.

Tahun 2009 ini adalah tahun politik yang mengadakan 2 agenda politik terpenting dalam kehidupan demokrasi di Indonesia. Pasti akan ada dinamika-dinamika tersendiri di lapangan sepanjang tahun 2009 ini, jika dikaitkan dengan pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Pilpres 2009.

Lalu, mau jadi Polda Jawa Timur jika peralihan masa tugas tidak diatur secara baik ? Mau jadi apa Kapolda Jatim yang baru jika ia duduk di “kursi panas” yaitu misalnya dilantik sebagai Kapolda Jatim pada bulan Mei 2009 mendatang ?

Untuk mengenai wilayah yang akan dipimpinnya saja, seorang Kapolda memerlukan waktu yang tidak sedikit. Apalagi jika Polda yang akan dipimpinnya adalah Polda yang masuk dalam kategori “keras”.

Jadi, realita tentang berakhirnya masa pengabdian Irjen Herman SS ini harus ditutup dengan sangat manis dan terpuji. Pasti, masyarakat Jawa Timur mencintai Kapolda mereka yang sudah bertugas 39 bulan itu. Jadi, jangan masyarakat di Jawa Timur dibuat menjadi gundah gulana jika mendengar kabar bahwa mantan Kapolda Jatim yang mereka cintai terkesan “mbalelo”.

Kapolri Jenderal BHD
Kapolri Jenderal BHD

Menjawab pertanyaan KATAKAMI.COM, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menjelaskan bahwa pengakhiran masa tugas seorang perwira tinggi di Jajaran Kepolisian itu sudah mulai diatur setahun sebelumnya.

“Pengakhiran dinas itu satu tahun sebelumnya, terutama 6 bulan sebelumnya, sudah ada pemberitahuan kepada pihak yang bersangkutan. Berdasarkan SKEP KAPOLRI Nomor 993 / 2004, yaitu jika sudah tiba batas usia pensiun itu prinsipnya bisa dilakukan dengan pemberitahuan awal sekurang-kurangnya satu tahun sebelumnya. Dan pemberitahuan itu untuk kesiapan usulan-usulan yang kaitannya dengan pembayaran pensiun yang harus dilakukan tepat waktu. Untuk masalah pergantian Kapolda, itu adalah hak prerogatif Kapolri dengan berbagai pertimbangan,” kata Kapolri BHD.

Menurut Kapolri, untuk 8 Kapolda dan Deops Kapolri yang telah diundang tanggal 13 Februari 2009 lalu telah mendapatkan penjelasan terkait pergantian yang dilakukan pada saat itu.

“Saya menjelaskan kepada mereka tentang TIMELINE kegiatan Pemilu yang sangat padat. Sehingga kalau ada yang pensiun bulan 5 misalnya, tentu sebelum bulan 3 sudah harus diserah-terimakan. Itupun Kapolda baru hanya punya waktu dan kesempatan selama 1 bulan 10 hari untuk melakukan penyesuaian dalam rangka pengamanan Pemilu” lanjut Kapolri BHD.

Kapolri BHD menambahkan juga bahwa tidak ada intervensi dari MABES POLRI terhadap pergantian jabatan Kapolda Jatim.

“Kami mohon masyarakat dapat memahaminya. POLRI terus berusaha profesional dan proporsional dalam melakukan upaya penyidikan. Kami serahkan kepada seluruh jajaran. Dan soal mutasi, POLRI juga melakukannya secara profesional dan proporsional” pungkas Kapolri BHD.

Sementara itu menjawab pertanyaan KATAKAMI.COM, apakah Irjen Herman SS sakit hati dan membenci INSTITUSI POLRI ?

Irjen Herman SS menjawab bahwa ia samasekali tidak sakt hati atau bahkan membenci Polri.

“Tidak, saya tidak membenci INSTITUSI saya. Saya mencintai POLRI” jawab Irjen Herman SS.

*****

Elegi adalah sebuah sajak (kehidupan) yang sangat menyedihkan hati. Yang justru akan menyedihkan hati disini adalah jika Irjen Herman SS tak menyadari bahwa INSTITUSI POLRI akan tercederai jika masyarakat menjadi tak respek dengan adanya gunjang-ganjing ini.

polri

INSTITUSI POLRI akan tercederai jika semakin banyak spekulasi dan bertambahnya orang-orang yang berburuk sangka karena mengira bahwa PIMPINAN telah bertindak tidak bijaksana dibalik pergantian jabatan Kapolda Jatim tersebut.

INSTITUSI POLRI akan tercederai jika antar POLISI menjadi terpecah dan jauh dari kekompakan yang semestinya.

Lalu, jika dikatakan bahwa ada kecintaan yang sangat besar pada POLRI, bukankah lebih baik jika di akhir masa kedinasan yang gemilang ini, diukir sebuah kata dengan tinta emas agar INSTITUSI POLRI tidak tercederai. Satu kata itu adalah, “LOYALITAS”.

Tak perlu banyak kata terucap, tak perlu banyak gerakan yang bersentuhan dengan wilayah politik praktis dan tak perlu membiarkan sebentuk hati menjadi penuh luka dengan onak duri.

Untuk apa memberi celah dan membuka peluang bagi terciptanya perpecahan atau keretakan yang mengancam soliditas dan loyalitas pada INSTITUSI ?

Sehingga, ketika ada satu pertanyaan yang ditujukan kepada hati kecil Irjen Herman SS, “Apakah anda loyal pada INSTITUSI POLRI ?”.

Melihat rekam jejak yang sangat baik selama ini, tentu jawaban yang akan keluar adalah, “SIAP, LOYAL !”.

Please, no hurt feeling ! Janganlah ada rasa sakit hati yang dapat membuat INSTITUSI POLRI menjadi terbebani atau menangggung malu hanya karena hal atau perasaan pribadi.

(MS)

Terlebih karena mantan Kapolda Jawa Timur yang dicopot bulan Februari lalu, Irjen Herman SS dikabarkan mengundurkan dari POLRI dan sudah resmi mengajukan pensiun dini.

Kapolda Jatim yang baru adalah sosok yang tak asing bagi sebagian besar wartawan yaitu Irjen Anton Bachrul Alam, mantan Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri.

%d blogger menyukai ini: