Beranda > Tak Berkategori > Presiden SBY & Presiden Xanana Gusmao Memberikan Keterangan Pers Bersama (Maret 2005)

Presiden SBY & Presiden Xanana Gusmao Memberikan Keterangan Pers Bersama (Maret 2005)

14/03/2009

Jakarta, Rabu, 9 Maret 2005

Keterangan Pers Bersama Xanana Gusmao

 

 KETERANGAN PERS BERSAMA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Dan
PRESIDEN REPUBLIK DEMOKRATIK TIMOR LESTE
ISTANA MERDEKA, 9 MARET 2005

Presiden Republik Indonesia

Saudara-saudara sekalian,
Baru saja kami tanda tangani Deklarasi Bersama atau Joint Declaration, yang dalam hal ini, saya mewakili Negara dan Pemerintah Indonesia, sedangkan Presiden Xanana dan Perdana Menteri Alkatiri mewakili Negara dan Pemerintah Timor Leste.

Sebagaimana Saudara ketahui bahwa persahabatan, hubungan, dan kerjasama antara Indonesia dan Timor Leste makin tumbuh dengan baik dan makin berkembang secara positif. Kami benar-benar ingin menjalin persahabatan yang hakiki, sekaligus membangun kerjasama yang baik.

Sesungguhnya momentum bersejarah pada tahun 1998 di Indonesia, awal dari reformasi, dan juga memontum yang terjadi di Timor Leste pada tahun 2002 telah menguatkan komitmen kedua negara untuk memasuki era baru di masa depan, era yang ditandai dengan makin kokohnya persahabatan dan kerjasama. Dalam kaitan itu, tentu kami ingin sekaligus menyelesaikan masalah-masalah di waktu yang lalu, masalah-masalah yang sifatnya residual, agar dengan selesainya masalah ini secara bijak, secara tepat dan tetap berorientasi pada makin kukuhnya persahabatan dan kerjasama di antara negara, maka langkah kita ke depan tentu akan lebih baik lagi.

Kita mengikuti dinamika baru, bahwa ada pihak, pada tingkat internasional, yang juga ingin melakukan bagaimana Indonesia dan Timor Leste menyelesaikan masa lalunya, dengan tentunya kerangka yang belum tentu sama dengan kerangka yang disepakati, yang dipikirkan secara bersama oleh Indonesia dan Timor Leste. Oleh karena itulah, menyadari kewajiban kami berdua untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tersisa, mengelola masalah-masalah yang ada dengan semangat yang baik, dan saya sampaikan kepada Saudara, sejumlah kemajuan telah dapat dicapai menyelesaikan masalah-masalah yang tersisa ini, dan kemudian kita akan melanjutkan langkah kerjasama kita di waktu yang akan datang.

Kedudukan atau letak dari komisi yang kami sepakati, yang tertuang dalam Joint Declaration ini, yaitu Komisi Kebenaran dan Persahabatan, atau The Commission of Truth and Friendship, tiada lain adalah satu kerangka yang disepakati oleh kedua negara untuk mengemban tugas-tugas tersebut, menyelesaikan masalah-masalah di waktu yang lalu, termasuk, atau yang lebih berkaitan dengan hak-hak azasi manusia.

Itulah inti dari semuanya, dan kita berharap komisi ini bisa mulai bekerja, insya Allah, pada tanggal 10 Agustus yang akan datang, kemudian tentu terdiri dari pihak Indonesia dan pihak Timor Leste, melibatkan pakar, tokho-tokoh yang kredibel untuk mengemban tugas yang penting ini. Itulah yang dapat saya sampaikan, dan kemudian saya mempersilahkan Presiden Xanana untuk juga berkenan memberikan penjelasan pers pada forum hari ini.

Saya persilahkan Presiden Xanana.

Presiden Republik Demokratik Timor Leste

Your Excellency Presiden Dr. Susilo Bambang Yudhoyono,
Your Excellency Prime Minister Dr. Mari Alkatiri,
Members of the Government of Indonesia and Timor Leste,
Members of Media,
Ladies and Gentlemen,

Today, Indonesia and Timor Leste embarked on the creation of words building a better future for mutual benefit, … deep says of the sharing history and commitment to move forward. We are committed to nature through the friendship as the sense of this new … of friendship.
As leader of both nations, we are committed to issued that … before implemented in accordance with the letter and spirit of our joint statement of 14th December 2004. The second joint statement and also the process, we so proud having … by our two foreign ministries … worked we command.

The commission of truth and friendship … establishing conclusive … in the view to further promoting … of friendship and to make sure that pressure … from the past will not be repeated. These conclude … with subsequently constituate the basis for identifying ….

The commission is also expected to take a forward … and reconciliatory approach and to be remind the complexity of the transitional situation the both countries, Indonesia and Timor Leste are faced within the particular circumstances of 1999. … the commission made up optimal reasons Indonesia as soon as the commission with … would bring … proceeding and the change of broader history and political development of our respective nations. And we also get a deep understanding of our national weakness and strengths. Those, the ability to …, … and objective approach … that spirit the letter of law reference are fully observer.

… the commission of truth and friendship will provide not only for both states but also the rest of the international community with necessary to understand clearly what to … in 1999, and why after war, we as people and the state are … for long lasting peace in this unique and creative way.

We are also part of an international community, we intend to be an active part of the community of the nations where national leadership bring quality the birth of truth and honesty. Both the people of Indonesia and Timor Leste have much … examples of … and democratic demand to … and facing … with honor and ….

Excellencies,
The task to be under taking by the commission are …. Good will take time to review all the … materials of … Timor Leste between take time to bring together all the process into one conclusive …. If we also take time to examine …, but … for the sake of our children for their future, for the future of both of our nations. … we must not spend resources … the commission achieve that success during the maximum …. I am sure this is … of our countries … joint declaration we have just sign ….

… you Excellency Presiden Susilo Bambang Yudhoyono and the people of Indonesia for the … and on behalf of the delegations, we express our gratitude of …. … long lasting … cooperation without people, the people of Timor Leste … and … Timor Leste … important for the future of Indonesia. … I believe that with the truth friendship we can … together. Thank you.

Presiden Republik Indonesia :
Terima kasih Presiden Xanana yang telah memberikan penjelasan beliau di hadapan Saudara-saudara sekalian. Barangkali ada satu, dua pertanyaan yang ingin disampaikan, baik kepada saya maupun kepada Presiden Xanana, saya persilahkan, Mega Simarmata.

Mega Simarmata dari Voice of America.
Saya Mega Pak, dari Voice of America,
bertanya kepada Bapak Presiden Xanana. Yang pertama, perkembangan hubungan Indonesia dan Timor Leste cukup bagus, tetapi berdasarkan perspektif anda, dari Timor Leste, apakah sebenarnya target dari Komisi HAM PBB adalah Jenderal Wiranto? Sebab sebenarnya hukum nasional di Indonesia sudah berjalan, dan para pelaku kejahatan yang terlibat di Timtim itu sudah diadili. Saya ingin bertanya apakah anda punya perspektif bahwa sebenarnya targetnya itu adalah Jenderal Wiranto.

Yang kedua, apakah ada jaminan keamanan dari pemerintah Timor Leste untuk Umat Muslim Indonesia yang ada di sana, di Timor Leste. Terima kasih.

Presiden Republik Demokratik Timor Leste :
Well, saya bukan hakim, saya bukan human right advocate or lawyer. Saya tidak tuduh siapa pun, kita respect di sini ada … dan Indonesia pun respect … the unity of Timor Leste. Kita tidak mencari pelaku, kita mencari kebenaran. Inilah yang mungkin saya mau menjelaskan, bahwa dengan keberanian dari kedua negara, kita mau mencari kebenaran. Kita bukan mau, seperti anda bilang, yang berhak untuk mengadili, kita mencari kebenaran. Inilah yang komisi yang dibentuk ini mau memberikan. Yang kedua, saya tidak mengerti, sorry. Ada banyak, ada lebih dari 1000 orang Indonesia yang hidup di sana dengan tenang dan senang hati. Masalah waktu itu, masalah legal. Saya kira, kalau saja orang kita ke Indonesia tanpa visa tanpa legalisir keadaannya di sana, kita pun akan menerima mereka dipulangkan ke Timor Leste.

Radio Timor Leste
Saya dari media Timor Leste, dari Radio Timor Leste. Pertanyaan saya, saya tujukan kepada Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Begini, hasil dari proses peradilan di tribunal ad.hoc Jakarta, semua orang tahu, kita tahu hasilnya. Bapak sendiri adalah mantan anggota TNI. Dengan posisi sekarang, dari sisi mana Bapak akan menjamin bahwa kebenaran akan betul-betul, kebenaran sejati akan betul-betul menguat dalam komisi ini. Dan mohon penjelasan, kira-kira siapa-siapa yang akan duduk sebagai anggota komisi. Karena di Timor Leste kita mendengar bahwa Bapak Muladi disebut-sebut namanya bahwa akan duduk dalam komisi. Mohon penjelasan. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia :
Baik. Tidak selalu harus dikaitkan posisi saya sebagai Presiden Republik Indonesia yang bertugas dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah antar bangsa ini dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, karena saya pernah bertugas di TNI. Bagi saya, semangatnya, spirit-nya, komitmen kita adalah menyelesaikan masalah ini secara bijak, tepat, dan adil.

Tentu saja karena komisi ini kita bangun secara bersama, harapan kita bisa bekerja dengan baik, bisa bekerja secara obyektif dengan tetap melihat ke depan, melihat kepentingan bersama antara Indonesia dengan Timor Leste. Keanggotaan tentu akan kita pilih mereka-mereka yang benar-benar dapat menjalankan secara obyektif. Menjalankan sesuai dengan term of reference, karena siapa pun yang menjadi anggota komisi tidak bisa keluar dari term of reference yang kita susun secara bersama.

Itu yang dapat saya sampaikan, dan tentunya kita ingin sungguh menyelesaikan masalah ini sebaik-baiknya, dan tadi ada pertanyaan dari Saudara Mega Simarmata, bahwa sebenarnya kerangka atau solusi dengan membentuk Komisi Kebenaran dan Persahabatan ini di mata kami adalah kerangka yang paling tepat, dibandingkan apabila ada kerangka semacam berdirinya sebuah komisi untuk me-review proses pengadilan ham ad.hoc yang berjalan atau berlangsung di Indonesia, yang ini pun juga belum selesai.

Atas pertimbangan dan pikiran seperti itulah kita sendiri tidak pasif, tetapi kita menyambut kita melihat ke depan untuk menyelesaikan masalah ini sebaik-baiknya. Satu lagi? Karena saya akan berangkat ke Sumatera.

Dari Associated France Press :
Memang adalah hak Bapak Presiden Indonesia untuk membentuk Commission of Truth and Friendship ini, tetapi dari pihak PBB sendiri sudah menyatakan bahwa mereka mendukung Commission of Expert. Bagaimana nanti usaha atau antisipasi pemerintah Indonesia menjelaskan peran dari Commission of Truth and Friendship ini. Apakah nanti Pemerintah Indonesia siap menerima kritik dari PBB bahwa seharusnya komisi ini tidak dibentuk Pak. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia :
Kami mengambil langkah tentu setelah mempertimbangkan semuanya dari segala aspek yang berkaitan dengan pilihan ini. Yang jelas, sebagaimana yang saya jelaskan berkali-kali, kami ingin masalah ini selesai dengan baik, kami ingin membangun persahabatan dan kerjasama dengan Timor Leste yang lebih baik, dan itu kami pegang teguh, itulah tujuan, itulah mainstream yang sebetulnya ingin kita capai, yang sebenarnya barangkali juga dipikirkan oleh banyak pihak. Tapi kami yang merasakan, Indonesia dan Timor Leste, bagaimana menyelesaikan masalah ini setepat-tepatnya. Dengan demikian sudah disampaikan oleh Pemerintah Indonesia, bahwa Indonesia mengutamakan, berfokus, dan memilih bahwa kerangka the Commission of Truth and Friendship ini sebagai cara terbaik, cara yang visible untuk menyelesaikan masalah-masalah di antara Indonesia dan Timor Leste. Tentunya, sebagaimana Saudara katakan bahwa permasalahan internasional itu dinamis, tentu kami akan siap untuk berkomunikasi dengan pihak manapun, dengan pihak dunia, bahwa inilah pilihan yang terbaik dan akan dijalankan sebaik-baiknya.

Demikanlah Saudara-saudara,
Atas perhatian Saudara, saya sampaikan terima kasih. Thank you for Mr. Presiden Xanana and Prime Minister Dr. Alkatiri.

Dirilis Oleh Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan (www.presidenri.go.id)

Iklan
%d blogger menyukai ini: