Beranda > Uncategorized > Mega Disadap Di Depan Mata (Tulisan Teguh Santosa, Wartawan Rakyat Merdeka Online Dari Hawaii, AS)

Mega Disadap Di Depan Mata (Tulisan Teguh Santosa, Wartawan Rakyat Merdeka Online Dari Hawaii, AS)

14/03/2009

Dimuat Di WWW.TEGUHTIMUR.COM tgl 8-10-2008

Oleh : TEGUH SANTOSA (Wartawan Rakyat Merdeka Online Yang Sedang Bersekolah Di Hawaii. AS)

TENGAH malam tadi sebuah pesan-pendek singgah di hape saya.

Dari Mega Simarmata, seorang teman yang sedang berjuang menghadapi penyadapan.

Edan, karena penyadapan ini terjadi di depan mata Mega. Sudah berkali-kali dia gonta-ganti nomor. Tetapi penyadapan tak juga berhenti. Sudah berkali-kali pula dia melaporkan penyadapan ini ke teman-temannya, para petinggi di sejumlah lembaga penegak hukum.

Pun penyadapan ini tetap berlangsung.

1-sketsa-gm

Ampun. Seharian saya terus diganggu oleh oknum “F….” agar tidak akan pernah bekerja dan menulis berita apapun untuk Katakami. Panik dia. Panik luar biasa. 24 jam saya dipantau. Benar-benar panik. Dia juga panik, karena nama Irjen Edi Darnadi yang dimunculkan Katakami sebagai kandidat Kabareskrim yang layak dipertimbangkan. Ampun, dengan semua cara saya diteror si “F….”, capek. 1001 macam akal dan strateginya. Belum kapok. Kesaksian Mega di Katakami tentang teror yang sangat brutal selama hampir tiga tahun ini adalah dari “F….” dan kubunya. Hebat betul keberaniannya. Dia kira Mega takut. Kacian deh “F….”.

Begitu bunyi pesan-pendek Mega tadi malam.

Mega kini menjadi pemimpin redaksi pada situs berita Katakami.Com yang ikut didirikannya bersama suami-istri Noorca dan Rayni Massardi. Sebelumnya Mega bekerja untuk Portal Berita Inilah.Com, dan sebelumnya lagi 5 tahun bekerja untuk Radio Voice Of America (VoA) di Jakarta.

Kesaksian Mega mengenai aksi penyadapan yang belum juga berhenti ini telah pula dituliskannya di Katakami.Com yang baru berusia beberapa pekan. Dalam tulisan itu Mega menguraikan modus-modus penyadapan yang dialaminya.

***

Penyadapan memang tengah marak di Indonesia. Di Jakarta, saat summer break yang lalu, saya bertemu dengan si “Fulan” seorang petinggi perusahaan provider jasa telekomunikasi “Anu”.

Intinya, kawan ini mengatakan bahwa kini lembaga-lembaga penegak hukum termasuk KPK bisa saja memasang alat penyadap mereka di pusat-pusat transmitter perusahaan provider tanpa harus minta izin terlebih dahulu. Hak ini dijamin dalam UU 36/1999 tentang Telekomunikasi dan UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang muncul baru-baru ini.

Sebelum lembaga penegak hukum bisa melakukan penyadapan secara mandiri, biasanya bila sedang membutuhkan informasi arus komunikasi seorang “tersangka” mereka mengandalkan back-up data provider yang menurut pengakuan si “Fulan” hanya efektif untuk jangka waktu tiga bulan. Jadi, bila yang dibutuhkan oleh lembaga penegak hukum itu adalah informasi mengenai incoming atau outgoing call dan text yang sudah “kadaluwarsa”, mereka harus ngubek-ngubek angin.

Yang kami simpan hanya informasi nomor keluar dan nomor masuk serta kapan pembicaraan dilakukan berikut durasinya, juga kapan pesan pendek dikirimkan. Kami tidak menyimpan content dari pembicaraan juga pesan-pendek yang dikirimkan,” kata kawan ini.

Menurutnya, provider lain di Indonesia juga punya kebijakan dan kemampuan yang kurang lebih sama.

Kini dengan kemampuan dan hak yang dimiliki, lembaga penegak hukum tidak hanya menyimpan informasi mengenai kapan dan berapa lama pembicaraan dilakukan, dan pesan-pendek dikirimkan. Lebih dari itu mereka juga menyimpan content atau isi dari pembicaraan dan pesan-pendek dari target operasi.

Saya bertanya kepada si “Fulan”, benarkah CDMA tidak bisa disadap?

Jawab si “Fulan” singkat.

Bukan tidak bisa disadap. Yang betul mereka belum punya teknologinya. Bentar lagi juga punya.”

***

Masih saat summer break yang lalu.

Suatu hari saya berkesempatan hadir dalam sebuah pertemuan amat terbatas dengan salah seorang petinggi di sebuah lembaga penegak hukum. Sebut saja big boss John Doe. Nama lembaganya, sorry, gak bisa disamarkan.

Di tengah pertemuan, ajudan John Doe masuk ke ruang rapat sambil tergopoh-gopoh. Tangan kanannya menenteng hape Nokia seperti yang saya punya.

Pak, dari Pak X,” kata si ajudan kepada big boss John Doe.

Segera John Doe mengambil hape yang diberikan ajudannya itu. Lalu berbicara. Baru beberapa detik, air mukanya tegang. Ruang rapat pun lantas hening. Kami diam (sambil mendengarkan).

Baik Pak, baik Pak. Jangan disini Pak. Maksud saya jangan pakai nomor GSM saya Pak. Pakai yang CDMA saja Pak,” katanya kepada si penelepon di ujung sana.

Lalu dia memutuskan pembicaraan dan mengembalikan hape Nokia-nya kepada sang ajudan.

Kenapa ke nomor ini? Mana CDMA saya,” katanya kepada si ajudan yang hanya diam seribu bahasa sambil menyerahkan sebuah hape.

Bangkit dari kursi dan menekan-nekan tuts hape CDMA-nya, big boss John Doe berkata kepada kami, “Silakan dilanjutkan.”

Tangannya menempelkan hape di telinga dan berjalan ke sudut lain di ruangan itu.

Anak mata saya mengikuti. Sang big boss menuju toilet.

Well, begitulah fragmen penyadapan.

One Reply

Ninik

October 8, 2008 at 5:42 am

Wah, kok sampe sejauh itu ya? merinding juga baca laporannya Mega di KataKami.com. nih sisa orde baru or memang orang2 baru yang bergaya orde baru?.

Salam ke Mega, hati-hati bang

 

%d blogger menyukai ini: