Beranda > Tak Berkategori > Khofifah, Langkah Cerdas Wanita NU

Khofifah, Langkah Cerdas Wanita NU

14/03/2009

Laporan: Mega Simarmata-Inilah.com

Dimuat Di INILAH.COM bulan Juni 2008

 

Jakarta (GP-Ansor): Dari seorang underdog, Khofifah Indar Parawansa menjelma menjadi kandidat kuat Gubernur Jawa Timur 2008-13. Inilah buah langkah cerdas dan cantik dari politisi wanita dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) itu.

Betulkah Jatim basis Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)? Tampaknya hal itu kini layak diragukan. Lebih tepatnya, Jatim adalah basis kalangan NU. Di sanalah akar rumput NU yang terbesar. Massa NU kini diperebutkan sedikitnya tiga partai politik: PKB, PPP, dan PKNU.

Khofifah adalah kader NU sejati. Ia Ketua Umum PP Muslimat NU. Ia, juga (pernah) jadi kader PKB. Dengan kendaraan PKB, dia menjadi anggota DPR-RI dan kemudian menteri.

Tapi, menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim, Khofifah berganti kendaraan. PKB telah dijejali penumpang dan kepentingan. Karena itu, dia memilih Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan 12 parpol kecil lainnya.

Sebuah pembelotan? Bukan. Khofifah bukan pembelot. Bergeser ke PPP bukan sebuah langkah pengkhianatan. Ini langkah cerdik yang cantik dari seorang Khofifah. Sebelum ada PKB, kalangan nahdliyin sebagian besar menyalurkan aspirasi politiknya lewat PPP. Khofifah pun sempat menduduki kursi DPR-RI mengendarai PPP.

PPP tampaknya sejalan dengan Khofifah. Bersama parpol ini yang melebur dalam konsorsium politik bertajuk Jatim Bangkit, Khofifah yang didampingi Mudjiono sebagai calon wakil gubernur, melejit posisinya. Dari hasil hitung cepat, pasangan yang disingkat Ka-Ji, diperhitungkan melaju ke putaran kedua bersama duet Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) yang diusung PKS, PAN, dan Partai Demokrat.

Peluang Khofifah memenangkan putaran kedua, menurut perhitungan di atas kertas, lebih besar. Salah satunya karena limpahan suara dari pendukung kandidat yang sudah rontok sebelumnya.

Sekitar 20% suara Pilkada putaran pertama yang mendukung pasangan Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR), besar kemungkinan beralih ke Ka-Ji. Kenapa? Faktor Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan yang mengusung SR, akan berperan. Mega akan jeli melihat keunggulan seorang perempuan Indonesia yang dengan kesederhanaannya bisa menumbangkan pasangan parpol besar.

Mega bukan tanpa kepentingan dengan kemenangan Ka-Ji. Mega akan maju dalam Pemilihan Presiden 2008. Dia sudah melontarkan salah satu jargonnya merayu massa PDIP; jangan pilih yang ganteng, tapi yang cantik saja. Dalam konteks ini, kemenangan calon yang cantik pada diri Khofifah, akan menaikkan posisi tawar Mega.

Cantik jangan hanya diartikan pada kecantikan lahiriah, tetapi bathiniah. Inner beauty. Inilah yang juga menjadi modal Khofifah untuk mendapatkan peluang kemenangan yang lebih besar pada putaran kedua nanti.

Sebagai serang perempuan muslimah NU yang santun, mengenakan jilbab, dan dapat menyelaraskan penampilan fisik diri dengan kecerdasan otak, siapapun akan dapat melihat kemampuan yang sangat tinggi dari Khofifah. Dia diharapkan dapat menangani masalah sosial kemasyarakatan di Jatim secara baik.

Begitu juga suara yang masuk dari pasangan yang diusung Partai Golkar, Soenarjo-Ali Maschan Moesa yang memperoleh suara sekitar 18 % dalam putaran pertama Pilkada Jatim, bisa jadi dialihkan juga pada Ka-Ji.

Inilah saatnya Ketua Umum Partai Golkar, M. Jusuf Kalla, membuktikan komitmen untuk memberikan kesempatan kepada kaum perempuan. Lobi-lobi politik yang bisa dibangun untuk menciptakan koalisi baru pada putaran kedua, janganlah ditutup pintunya oleh Kalla. Sebaliknya, Kalla harus sangat jeli dan pintar melihat peluang kemenangan.

Sangat tipisnya beda perolehan suara antara Ka-Ji dan KarSa, menyimpulkan Ka-Ji popular di mata masyarakat Jatim. Perbedaan yang tipis itu justru menjadi isyarat bahwa kesederhanaan Khofifah sebagai seorang politisi muslim yang apa adanya, ternyata memikat hati masyarakat Jatim.

Tinggal selangkah lagi, Khofifah akan membawa masyarakat Jatim ke masa depan yang lebih baik. Pada sebagian besar masyarakat Jatim, gubernur mereka tetaplah Haji Mohammad Noer. Khofifah, jika memenangkan putaran kedua, hanyalah sebagai pengganti tokoh karismatik kelahiran Sampang, Madura, itu.M. Noer menjadi Gubernur Jatim untuk dua periode yaitu dari tahun 1967 -1976.

Ia adalah pemimpin yang sangat peduli pada nasib rakyat. Dari 30 hari kerja, 20 hari di antaranya dilewatkan M. Noer untuk berada secara langsung di tengah-tengah rakyat Jatim. Ia dikenang sebagai pemimpin sangat mumpuni dan penuh pengabdian pada rakyat Jatim. Mungkin, Khofifah bisa menjejakinya.  (Selesai)

Iklan
%d blogger menyukai ini: