Beranda > Tak Berkategori > Hukuman Bagi Untuk Koruptor Atau … ?

Hukuman Bagi Untuk Koruptor Atau … ?

14/03/2009

Dimuat Di INILAH.COM tgl 28/07/2008 – 09:43

Oleh : Mega Simarmata

Deny Indrayana
(persepektifbaru.com)


INILAH.COM, Jakarta – Hukuman mati masih berlaku di Indonesia. Eksekusi dijalankan dengan cara tembak. Obyeknya adalah pelaku tindak kriminal terkait pembunuhan dan narkoba. Koruptor? Masih jadi perdebatan sengit.

Orang yang terbukti melakukan korupsi jelas termasuk pasal pidana. Dampak dari tindakannya malah bisa dikategorikan sangat kejam. Sebab, jumlah korban akibat tindak korupsi bisa tak terhitung dan berangkai.

Memang, tidak ada cipratan darah dalam setiap kasus tindak pidana korupsi. Tidak ada pembantaian langsung terhadap nyawa manusia. Tapi, harta yang dikorupsi menyebabkan banyak orang terseret dalam kesulitan. Korupsi adalah perampasan hak orang lain.

Itu sebabnya, di banyak negara lain, koruptor diganjar dengan hukuman setimpal. Di antaranya adalah hukuman mati. Ada yang digantung, ditembak, atau disetrum.

Di Indonesia? Masih tarik ulur. Pro kontra mengalir deras. Padahal, ketika banyak pihak terus memperdebatkan soal itu, makin banyak temuan atas tindak pidana korupsi di negeri ini. Makin banyak orang dijebloskan ke rumah prodeo akibat terbukti telah menyalahgunakan kewenangannya dengan cara menilep duit atau harta benda lain yang bukan haknya.

Menurut pengamat masalah sosial Denny Indrayana, hukuman mati sebetulnya perlu diterapkan bagi para koruptor agar timbul efek jera. “Mereka harus dibikin kapok,” cetus Denny dalam acara talkshow ‘Hukuman untuk Koruptor’ di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (26/7).

Barisan pendukung hukuman mati bagi koruptor ini terus bertambah. Di antaranya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri.

Hal itu diutarakan juru bicara Kepresidenan Andi Alfian Mallarangeng. Ia menyatakan, SBY tidak menutup kemungkinan dijatuhkannya hukuman maksimal berupa hukuman mati bagi koruptor.

Pekan lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menyatakan dukungannya atas pemberlakuan hukuman mati terhadap koruptor.

Pandangan berbeda diungkapkan Fadjroel Rachman, Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan. Ia menilai, hukuman mati adalah pelanggaran HAM. Hukum, katanya, tidak boleh sampai melampaui hak yang diberikan Tuhan kepada manusia.

“Saat ini, sudah 150 negara di dunia yang telah menghapuskan hukuman mati. Kita harus ingat bahwa korupsi bukanlah kesalahan total individu,” kata Fadjroel.

Senada dengan Fadjroel, aktivis kemanusiaan Ratna Sarumpaet menentang wacana hukuman mati bagi para koruptor.

“Korupsi itu adalah persoalan budaya. Kini, sudah hilang budaya malu dan nilai-nilai moral di tengah masyarakat kita. Tidak perlu ada hukuman mati. Maksimalkan saja pidana penjaranya,” kata Ratna kepada INILAH.COM.

Menurut catatan Amnesty International yang dicantumkan dalam situs Komisi Orang Hilang, sudah 94 negara di dunia menghapuskan hukuman mati atas seluruh kategori tindak kejahatan. Artinya, masih ada 55 negara yang menerapkan hukuman mati. Indonesia termasuk di dalamnya.

Wacana tentang perlunya hukuman mati diterapkan terhadap para koruptor dan suara-suara yang mendukungnya, tampaknya patut dipertimbangkan kembali. Efek jera tidak harus lewat hukuman mati. Ada bentuk hukuman lain yang lebih layak diterapkan.

Dan, jika memang hukuman mati terhadap para koruptor mau diterapkan, bagaimana dengan aparat penegak hukum yang masih ragu atau takut dalam memberantas korupsi? Bagaimana dengan proses atas pejabat-pejabat tinggi negara yang diduga korupsi?

Lalu, bagaimana pula dengan pihak-pihak tertentu yang secara sistematis melakukan teror, tekanan, bahkan kekerasan terhadap orang lain, jurnalis, LSM yang gencar menyuarakan pemberantasan korupsi?

Seputar wacana hukuman mati bagi para koruptor ini, jauh lebih penting sebetulnya adalah upaya menegakkan hukum secara konstan, konsisten, tegas, dan adil. Percuma juga diberlakukan hukuman mati bagi koruptor jika dalam praktiknya nanti amburadul sehingga malah menimbulkan problem baru. (Selesai)

Iklan
%d blogger menyukai ini: